The seven heroes

ammar kazhim mukht
Chapter #2

Masuknya cahaya hidayah

Matahari terbit dari ufuk tiimur memancarkan cahaya ke seluruh pojok dunia. Tampak ayam jantan bertengger di atap rumahnya bersiap untuk berkokok. Dedaunan terlihat ada tetes tetes embun pagi. Awan awan tipis mulai terlihat di cakrawala langit.

Kukuruyuuukkk....

Sebagian penduduk mulai bangun dari tidurnya. Ketika matahari naik setinggi tembok sekitar jam 06.00, para penduduk desa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani langsung berangkat ke ladang.

Aku masih dalam mimpku. Sementara ibuku sudah bangun sedang menyiapkan sarapan pagi. Ayahku sedang bersiiap berangkat menuju ladang. Ibu berjalan menuju meja makan. "Pak,ini sarapannya sudah siap ". kata ibu. Yang sedang berada di depan rumah langsung masuk. " Rafael tolong bangunin, bu!", jawab ayah.

Lalu, ibu melangkah menuju kamarku dan membangunkanku. "Rafael, ayo nak bangun, sudah pagi, kita sarapan yuk!".

Aku mulai membuka mata perlahan. Tiba - tiba, aku memejamkan mata karena terkena pancaran sinar matahari pagi yang masuk ke jendela. Ternyata kordennya di buka oleh ibu sehingga cahaya matahari mauk ke ruangan. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, cuci muka,menghilangkan rasa kantuk. Lalu, aku menuju meja makan.

Di sana terlihat ada tempatt nasi, ada lauk pauk dan beberapa makanan lain. Lalu, ayah merangkulku dari belakang. Aku meliriknya ke arahnya.

"Ayo makan, tunggu apa lagi?", ajak ayah. Aku hanya membuat senyuman di bibir seraya duduk di kursi di samping ayah. Tak lama, ibu datang membawa segelas susu hangat. Kami pun menyantap sarapan kami pagi ini dengan nikmat.

~~~~~~

Matahari mulai naik memanjati cakrawala langit biru. Awan awan tipis bergerak seiring hembusan angin. Siang hari ini begitu terik. Matahari hampir tepat berada di atas kepala. Namun, rasa panasnya sudah terasa menyengat di tubuh.

Aku tengah dudubbk santai di atas seuah kursi yang terbuat dari kayu jati di depan rumah. Di sebelahku ada meja berukuran kecil yang juga terbuat dari kayu. Ada minuman dingin di atas meja kecil itu. Tak ada yang aku lakukan siang itu. Hari ini kebetulan sangat panas. Kalaupun ada awan, itu pun hanya sekkiilas menutupi matahari. Hanya sesaat merasakan sejuk.

Bosan, galau, bingung, tak ada yang ingin di lakukan. Hanya duduk termenung memandangi sawah yang di tumbuhi padi dan jagung di sana. Tak ada orang. Semua masih istirahat di rumah mereka masing-masing. Jalan juga tampak lengang. Tak ada yang lewat.

Akhirnya kau beranjak menuju belakang rumah desa. Aku berhenti sejenak. Melihat kesana-kemari. Sekilas, sepi, dan sunyi.

"Kemana ya??". Gumamku dalam hati. Bingung aku harus kemana. Setelah melihat sekilas kanan dan kiri. Akhirnya aku langsung menginjak pedal kayuh dan langsung ngacir ke arah balai desa. Lalu ke lapangan dan sebagainya.

Kemudian, aku hendak kembali ke rumah. Namun, di tengah jalan aku bertemu seorang kawan karb, Alex. Dia juga mengendarai sepeda. Dia pun memanggilku.

"Rafael, sahabatku!, mau kemana kamu?". Dia berhenti. Aku langsung mengerem dan berhenti di sebelahnya.

"Eh, ya, sahabatku, aku mau pulang nih!". Jawabku.

"Habis dari mana?".

"Ya muter muter aja, bete nih".

"Bete kenapa?". Tanya Alex, seraya mengernyirkan dahi.

"Gak ada kerjaan di rumah". Jawabku dengan wajah lesu.

Lihat selengkapnya