"Yah, mungkin sampai di sini saja kajian kita hari ini, kurang lebihnya mohon maaf, assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh", ucapku mengakhiri kajian sembari di jawab serentak oleh para jamaah yang hadir di masjid yang masih masa pembangunan.
Yap, inilah aku, Rafael, kini aku telah berprofesi sebagai pengajar di masjid al-barokah. Namaku sekarang telah berganti menjadi abdullah ahmad zubair. Orang orang di desaku biasa memanggilku Aa Zubair. Entah hidayah dari mana hidayah yang membuatku menjadi semangat memperdalam islam, akupun ingin menyantri sebagaimana orang orang yang datang tempo hari lalu. Maka sebelum mereka pergi, aku bersama kedua sahabatku Kevin dan Alex ikut bersama santri santri itu dengan izin dari kedua orang tua kami.
Akkhirnya, kam mondok di pesantren di daerah jawa bersama jamaah santri yang bergerak, berdakwah di desaku kemarin. Aku bersama kedua sahabatku pun mulai di gembleng, dididik untuk menjadi orang yang sholeh, bermanfaat untuk umat. Nama kami di ganti juga menjadi nama nama islami, namaku di ganti menjadi Abdullah Ahmad Zubair, Kevin menjadi Ahmad Fattah, dan Alex menjadi Abdurrahman Al Busthomi. Kamipun menempuh jenjeang pendidikan kami selama 10 tahun. Namun ketika kami akan masuk ke tahun yang ke lima, aku mendapat kabar dari orang tuaku bahwa Arif, adikku, yang sekarang baru lulus kelas 6 SD tahun ini akan masuk peantren bersamaku. Dan ibuku bilang, tiga sahabatku lagi juga akan ikut masuk pesantren bersamaku dan sahabatku yang sudah lama mondok bersamaku, yaitu Khoirul, Muhammad Mukhtar, dan Rafli.
10 tahun berlalu, aku dan dua temanku telah tamat mondok di pesantren itu. Kami telah menyelesaikan dan mempelajari semuda bidang ilmu, mulai ilmu agama hingga ilmu bela diri. Tinggal adikku Arif dan tiga orang kawanku yang masih melanjutkan belajar di pesantren.
Intinya sekarang aku, Fattah dan Abdurrahman kini menjadi seorang ustadz/kyai di desa kami yang mengajari masyarakat tentang agama islam. Awalnya tempat pengajiannya bergilir, pertama dirumahku, besok dirumah Fatah, besoknya di rumah Abdurrahman dan seterusnya, sesuai jadwal kami mengajar.
Namun, karena yang mau mengikuti pengajian semakin ramai, dan juga tempat sangat terbatas, akhirnya masyarakat bermusyawarah untuk membangun sebuah masjid berlantaikan tiga.
Setelah masyarakat sepakat untuk membuat masjid yang fungsinya bukan hanya untuk tempat ibadah sholat jamaah lima waktu saja. Setiap pagi sehabis wiridan, masyarakat biasanya setelah sholat shubuh mengikuti pengajian. Dan jadwal mengajar juga bergantian diantara kami. Dan begitulah suasana kehidupan kami di desa Makmur Jaya yang suasananya sudah mulai islami. Kehidupan yang dulu pernah kami perbuat telah kami tobati dengan sungguh sungguh dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Kami sudah merasa senang dengan kehidupan yang baru iini.teratur, disiplin, sopan, semua ada aturan. Yang melanggar akan di kenakan sanksi. Pokoknya semua serba islami hingga bertahun tahun lamanya.
~~~~~~
Matahari mulai memanjati cakrawala langit biru. Seakan akan matahari itu tepat di atas kepala. Panasnya menyengat tubuh. Membuat makhluk di bumi mencari tempat berteduh.
Aku masih tertidur lelap di kamarku. Hal yang panas seperti ini sangat cocok bagiku untuk tidur. Namun apalah daya, kebetulan cuaca hari ini sangat terik dan tidak ada angin sama sekali yang berhembus.
Tak kuat rasanya menahan sengatan panas ini bak di jemur di lapangan ketika jam 12 siang. Aku pun langsung bangun. Sekujur tubuhku berkeringat, tak hanya itu, tempat tidurku pun basah karena terken tubuhku yang banyak mengeluarkan keringat.
"Uh....masya Allah, panas sekali hari ini, baru gak ada angin lagi", ketusku kesal. Aku pun beranjak keluar rumah. Aku duduk di kursi di depan rumah.
"Jam berapa sekarang?", gumamku seraya berdiri dan melirik jam dinding di ruang tamu. Pukul 11.32, aku tersentak kaget.
"Lho, dah mau dhuhur!, giliranku imam sholat dhuhur ini!". Seraya melangkah cepat masuk. Aku segera pesiapan sholat dhuhur. Beberapa menit kemudian....
Allahu Akbar...Allahu Akbar......
Adzan dhuhur telah berkumandang pertanda waktu sholat dhuhur telah tiba. Para penduduk desa segera berbondong bondong berangkat ke masjid. Sambil menunggu sang imam datang, para jama'ah menunggu iqomah dengan amalan amalan. Ada yang berdzikir, sholawat, dan lain lain. Tak lama, sang imam datang dan sholat pun di mulai.
~~~~~~~
Matahari mulai tenggelam di arah barat, bersamaan dengan meredupnya cahaya dari matahari. Hari sudah gelap. Langit yang tadi birru cerah, kini telah menjadi hitam. Ada beberapa bintang yang mulai terlihat di langit. Bulan purnama tidak bosan bosannya memberikan sinarnya, walaupun tak seterang matahari.
Malam ini angin bertiup sepoi sepoi. Membuat sebagian orang tak kuat dengan dinginnya malam mengharuskan mereka mengenakan pakaian tebal atau paling tidak mereka memakai baju berlapis dua.
Masjid Al Barokah masih dalam tahap pembangunan. Lantai satu sudah selesai lama. Saat ini sedang dalam tahap meneruskan ke lantai dua. Lampu masjid masih menyala sebagian menunjukkan di dalam masjid masih ada orang yang sedang berdzikir.
Sholat baru saja usai dilaksanakan. Dengan fattah yang menjadi imam sholat isya. Usai sholat, aku masih duduk di shaff awal menyempurnakan wiridan istiqomahku yang di berikan oleh guru guruku, ketika aku belajar di pesantren. Sementara Fattah dan Abdurrahman tengah berbincang bincang di teras masjid. Usai berdzikir, aku menghampiri mereka dan bergabung dalam perbincangan mereka.
"Dari tadi aku lihat kalian berdua kok seperti seru banget, lagi ngomongin apa sih?", tanyaku penasaran saat aku sudah duduk diantara mereka berdua. Keduanya menatapku. Lalu mereka saling bertatapan. Lalu fattah membenarkan posisi duduknya.
"Begini lho, kita berdua tadi lagi membicarakan perkembangan desa kita", jawabnya.
"Yaps,Alhamdulillah desa kita sekarang sudah masuk islam semua dan mungkin masih ada beberapa orang saja yang masih dalam agama nenek moyang mereka, mereka masih enggan", susul Abdurahman. Aku mengernyitkan dahi.
"Iya kemarin,aku sempat datang sehari ke daerah situ, setelah ku ajak mereka masuk islam dan ikut aturan islam, Alhamdulillah sebagian kecil saja, kebanyakan masih enggan", tutur fattah.
"Aku penasaran, kira kira mereka menolak itu karena alasan apa ya?", tanyaku pada fattah.
"Mereka bilang,kita kan sebagai penduduk asli di desa ini, harus mempertahankan agama nenek moyang kami", jawabnya.
" Ouh kalau gitu, suruh mereka bayar jizyah, kalau merekamasih mau hidup di desa ini", kataku. Abdurrahman manggut manggut. Aku mengcungkan jempol.
Lalu mereka beralih pembicaraan mengenai pembangunan masjid berlantai tiga. "Nah,ini gimana perihal pembangunan masjid, insya Allah kurang lebih sekitar 4 tahun kurang, masjid ini sudah selesai dan bisa di pakai",tutur Abdurrahman.