20 tahun kemudian....
matahari pagi tempat terbit dari ufuk timut keluar dari balik gunung menyebarkan cahayanya ke penjuru dunia. Angin bertiup sepoi - sepoi membuat tanaman di sawah menari - nari. Awan - awan tipis mulai terlihat di langit bergerak dengan seiring hembusan angin.
Hari minggu. Adalah hari dimana semua kegiatan libur, baik itu sekolah, bekerja, dan lain lain. Begitu pula pengajianku. Karena hari ini libur, aku bisa merefreshkan diri setelah satu pekan aku bekerja, aku ingin istirahat. Namun terbesit dalam benakku ingin mengulang latihan yang pernah di ajarkan di pesantren dulu. Akhirnya, aku mencari tempat untuk berlatih.
Ternyata dibelakang rumahku ada tempat yang cocok untuk aku latihan. Aku pun langsung menuju halaman belakang rumah. Aku mulai latihan ku dengan sedikit pemanasan. Kemudian, senam - senam. Lalu, penguatan. Setelah itu, aku melanjutkan dengan latihan pernafasan gunanya supaya stamina tetap bisa terjaga.
Tatkala aku sedang sibuk latihan, tiba - tiba muncul seseorang dari balik tembok rumah yang ternyata itu Abdurrahman. Aku langsung menghentikan latihanku dan menyambutnya.
" Assalamu'alaikum, Man, tumben kamu kesini", sapaku.
" Wa'alaikum salam, ya cuma mau main aja", jawabnya.
" Lagi latihan?", tanya dia, aku mengangguk pelan.
" Ya begitulah, mau mengingat kembali teori yang udah lewat", jawabku. Abdurrahman hanya manggut manggut.
" Boleh ikutan?", tanyanya.
" Boleh, ayo!". Kemudian,kami berduapun langsung mulai pemanasan, lanjut pukulan dan tendangan, dan seterusnya.
Namun disaat kami latihan, aku merasakan sesuatu. Seperti ada suara keras di sekitar rumahku. Aku terdiam sejenak. Ku lihat Abdurrahman masih fokus latihan. Seperti tak terjadi apa - apa. Aku melanjutkan latihanku. Tiba- tiba......
DAKK....
Aku kembali diam. Agak lama. Lalu kembali meneruskan latihan. Aneh. Aku mendengar suara itu lagi. Tapi dimana. Siapa yang membuat suara itu. Kenapa ku sebut aneh?, karena hanya aku yang merasakan itu. Sedangkan Abdurrahman masih fokus latihan dan seperti tak mendengar apapun. Firasatku mulai memburuk, apa yang sebenarnya akan terjadi. Aku melanjutkan latihan namun tetap waspada. Barangkali ada hal - hal yang tidak di sangka.
DAKKK.....
Degh. Jantungku berdebar kencang. Akupun terperanjat sampai sampai aku seperti habis bertemu sesuatu yang sangat mengerikan. Aku kembali terdiam lama. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
" Zuber kamu kenapa?", tanya Abdurrahman. Ternyata dia notis melihat sikapku. Aku menggeleng kepala. " Gak, gak apa apa", jawabku. Abdurahman kembali melanjutkan latihannya. Aku masih terdiam. Mencoba merenungi apa yang akan terjadi. Aku sendiri bingung sebenarnya suara apa itu. Suaranya samar. Semacam benda jatuh. Bahkan seperti suara ledakan. Tiba - tiba...
BLAAARRRR.....
" Astaghfirullah...", gumamku dalam hati. Aku beristighfar menyebut asma Allah. kepada-Nya lah aku meminta perlindungan dari segala macam cobaan dan musibah. Ya Allah, sebenarnya apa yang akan terjadi, batinku.
Suara itu menghilang. Sudah tidak ada suara ledakan ataupun benda jatuh lagi yang membuatku semakin takut dan khawatir. Rasa cemas menghantuiku akan sebuah peristiwa yang akan terjadi di masa - masa yang tak kuduga - duga. "Ya Allah, lindungilah desa hamba.....".
~~~~~~~~~
Bulan purnama bersinar terang di langit. Ditemani bintang - bintang yang menghiasi gelapnya langit. Angin berhembus sepoi -sepoi membuat rumput menari - nari.
Sholat isya berjama'ah baru saja usai di laksanakan. Malam ini aku sebagai imam sholat isya tadi. Selepas isya, aku masih duduk di pengimaman meneruskan wiridan istiqomahku. Tengah tawajuhnya aku wiridan tiba - tiba dari arah belakang ada yang menepuk bahuku. Spontan aku lansung berhenti karena terkejut dan langsung menoleh yang ternyata itu Fattah.
"Oh, kamu Fattah, ada apa?", tanyaku seraya memperbaiki posisi dudukku. Fattah yang tadi berdiri kini duduk, berhadapan.
"Ayah kamu Ber sakit!", jawabnya. Aku terperanjat kaget.
"Yang benar kamu!?", balasku, ia hanya mengangguk pelan.
"Kamu gak bohong kan!?", kataku lagi seraya beranjak untuk pulang. Namun Fattah dengan cepat menarik tanganku.
"Apa lagi, aku harus cepat pulang!!", ucapku seraya berusaha melepas pegangan tangannya. Sia - sia.
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara!", ujarnya serius. Aku kembali duduk. Dia memperbaiki posisi duduknya. Pandangannya serius menatapku.
"Ber begini....",ucapnya mengambil jeda.
"Aku di panggil ibumu, lalu aku disuruh cepat memanggilmu, ayahmu sakit keras", jelas Fattah. Aku fokus mendengarkan.
"Namun, ketika kau berdiri tepat di depan rumahmu...."
"Rumahku?, kenapa dengan rumahku!?", sahut aku memotong penjelasannya. Jelas aku mulai khawatir. Dia menarik napas lalu mengeluarkannya.
"Ber sabar, aku belum selesai, tolong dengarkan aku dulu!", ujarnya berusaha menenagkanku. Namun aku sudah khawatir akan keadaan di rumah. Aku mulai tak tenang mendengarnya. Sepertinya akan terjadi sesuatu.
"Saat aku berhenti tepat di depan rumahmu, aku sempat merasakan hawa - hawa tak enak", ucapnya, ia berhenti sejenak.
" Kulihat ibumu, di belakangnya seperti ada bayangan hitam", aku terdiam sejenak. Hatiku berdebar kencang. Firasatku memburuk. Ada tanda tak baik. Tanpa berlama - lama aku langsung bergegas menuju rumahku. "Zuber, tunggu!", Fattah langsung bangkit mengejarku.
Aku berlari kencang menuju rumahku. Fattah berlari di belakang mengejarku. Tiba - tiba aku berhenti. Entah apa yang kurasakan sekarang. Saat langkahku hampir tiba di depan ruamh. Aku melihat sesuatu yang aneh di depanku. Fattah berhasil menyusul.
" Kamu lihat apa?". Aku terdiam sejenak tak menjawab pertanyaannya. Mataku menatap lurus ke depan. Lalu menyipitkan mataku. Lama. Fattah menyentuh pundakku. Akku tak bergeming. Tiba -tiba.
"Aaa......!!, aku berteriak keras lalu berlutut seraya menutupi wajah dengan kedua tangan. Fattah tersentak kaget melihatku. Aku mengangkat kepala. Terlihat olehku sebuah pemandangan mengerikan. Sebuah rumah dengan bayangan hitam besar menyelimuti rumahkku. Lalu muncul dua mata berwarna merah. Mata itu menatap tajam kearahku. Aku pun terperanjat. Nafasku naik turun tak beraturan. Jantungku berdebar kencang. Fattah yang sedari tadi melihatku agak heran.
" Ber, sebenarnya kamu lihat apa sih?"
" Kamu gak liat disana!?", seraya menunju ke arah rumahku. Fattah melihat ke sana tapi tak ada apa - apa.
"Apa, ada apa disana?, aku tak melihat apapun!", katanya. Padahal sudah jelas - jelas aku melihat sendiri kalau di rumahku itu ada bayangan hitam yang sangat besar menyelimuti rumahku. Penampakan besar yang sangat menegerikan. Tapi, kenapa Fattah tak bisa melihat apapun, padahal sebelumnya dia merasakan itu.
Astaghfirullah. Batinku. Aku mengelus dada sambil menyebut Asma Allah. Aku berusaha menenangkan diri.aku pu berdiri lalu berbalik hendak pergi dari tempat itu.
" Lho mau kemana kamu?", tanya Fatah bingung.
"Ayahmu sakit keras disana, kamu malah mau pergi begitu saja?". Aku berhenti, tanpa membalikkan badan. " Kita kemasjid, akan ku ceritakan apa yang sedang terjadi sebenarnya disini", ucapku datar. Lalu aku melangkah menuju masjid diikuti Fattah di belakangku. Mungkin sepanjang jalan ke masjid ia bertanya - tanya dalam hati. Tapi aku tak perduli itu, kami berdua terus berjalan menuju masjid.
~~~~~~~~~
"Astghfirulah, beneran Ber?", tanya Abdurrahman seakan tak percaya. Aku hanya mengangguk pelan. Sholat shubuh baru saja usai di laksanakan. Pagi itu aku bersama tiga sahabatku masih berada di masjid. Kami sedang membicangkan sesuatu.
" Jadi begini Man, awalnya ayahnya Zuber sakit, tapi sakitnya aneh...", Fattah mulai menjelaskan kronologi kejadian. Abdurrahman menyimak penjelasan Fattah. Tiba - tiba aku merasakan sesuatu yang membuat diriku tak tenang. Aku mulai merasakan sesuatu di sekitar sini. Abdurrahman heran memperhatikan sikapku yang aneh.
"Ada apa?, dari tadi kamu kelihatan gelisah begitu?", tanya Abdurrahman. Tanpa menghiraukan pertanyaannya, aku mulai berdiri dan melangkah pelan menuju teras masjid. Seraya mengangkat kedua tangan dengan posisi telapak menghadap keatas. Mataku terpejam. Ada suatu energi negatif yang sangat besar di desa ini sedikit demi sedikit.
Astaghfirullah. Seraya menurunkan kedua tangan. Seraya menghembuskan nafas panjang. Fattah dan Abdurrahman langsung menghampiriku. Aku merunduk. Memegang kedua lututku.
"Ada apa sebenarnya?", tanya Fattah. Aku menarik nafas dalam - dalam.
"Begini....". Aku terdiam sejenak. Menguras otak. Membayangkan peristiwa yang akan terjadi nanti.
"Namanya kita menjadi orang yang terpandang di kampung kita, tidak bisa kita pungkiri lagi, sesuatu yang memang tidak bisa kita cegah....", aku mengambil jeda sejenak. "Tidak semua orang itu menyukai kita, ada pula sekian orang sangat membenci kita dalam hal ini, tapi aku tidak yakin kalau dia membenci kita dalam hal ini, firasatku dia membenci kita dalam hal lain". Jelasku.
"Sekarang begini, adikku Arif, dan tiga sahabat kita, Khoirul, Muhammad, dan Rafli, mereka kan sudah tamat masa belajar mereka di pondok, dan mereka saat ini sudah di rumah mereka masing - masing". Ucapku.
"Baiklah, sekarang gimana?", tanya Fattah. Aku meliriknya sekilas. Diam menatap lantai teras masjid yang terbuat dari keramik marmer. Terdiam lama. Memikirkan sesuatu.
"Begini, malam ini kita kumpul di tempat biasa, ada yang panggil Khoirul dan duanya lagi?", sambil menatap Fattah dan Abdurrahman. Mereka saling tatap muka.
" Aku saja!", sahut Abdurahman.
" Baik, aku akan ajak Arif, kemudian mulai saat ini, detik ini juga, setiap kita amalan jangan lupa kita niatkan untuk penjagaan desa kita tercinta, terutama keluarga dan sahabat perjuangan kita, Insya Allah ya!". Jelasku.
" Insya Allah!!", jawab mereka serempak. Kemudian mereka pun pulang ke rumah mereka. Sementara aku memutuskan untuk kembali ke masjid. Aku masih takut jika harus pulang ke rumah.
~~~~~~~~~
Malam hari yang dingin. Angin berhembus kencang. Tak ada awan mendung sehingga bulan purnama bersinar terang di langit yang hitam pekat. Bintang - bintang pun tak mau kalah menghiasi langit yang gelap gulita.
Di sebuah luasnya hhamparan sawah, disana banyak ditanami berbagai macam tumbuhan seperti sayuran. Di tengah - tengah sawah terdapat sebuah gubuk yang tak begitu besar. Terbuat dari kayu dan bilahan bambu. Di sana, aku, dan Fattah sedang duduk - duduk menunggu kehadiran kawan - kawanku. Ditemani satu wadah yang terbuat dari tanah liat mungkin kendi atau sejenisnya, yang berisi kopi susu dan sedikit gorengan dari ibunya Fattah. Aku pun memulai perbincangan.
"Malam ini angin bertiup kencang sekali ya", ucapku sembari menyeruput kopi yang kutuang ke dalam cangkir kecil.
"Hmm, tak seperti biasanya", balas Fattah datar.