"Kamu lagi-lagi mendapat nilai sempurna, ya, Willy." Wanita paruh baya dengan rambut kuning keemasan menghela napas panjang, raut wajahnya terlihat tidak senang bahkan saat menatap layar tablet tipis yang menunjukkan warna hijau terang di pojoknya.
Itu adalah nilai ujian sekolah William Wesley, putra tertuanya.
William nyengir lebar. "Aku bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah."
"Ada kalanya kau tidak harus terlalu berusaha keras dalam pelajaran, Nak. Segala sesuatu yang berlebihan hanya akan berdampak buruk bagi dirimu." Si Ibu meletakkan tablet itu di atas sofa, tidak peduli lagi.
"Ibu?"
"Mulai minggu depan, kau harus lebih berhati-hati dalam menunjukkan kepintaranmu, Ibu hanya ingin kau tumbuh dengan pemikiran anak-anak normal seusiamu saja." Ia beranjak menyiapkan makan malam.
"Ibu, apakah aku tidak normal?" William merasa sedih dengan pernyataan ibunya.
Mendengar itu, si ibu mendekat kembali pada putranya, dengan senyum lembut, tangannya mengelus tengkuk kecil William.
"Bukan tidak normal, Sayang …. Kau justru memiliki kelebihan yang tidak dimiliki anak lain. Itu adalah keistimewaan yang harus dirahasiakan, kau mengerti?"
William hanya mengangguk saja.
"Ayo kita makan malam dulu."
Ibu William menyiapkan makan malam di atas meja. Sendok-sendok transparan dengan tombok di ujungnya, dan piring yang terlihat biasa saja, namun kenyataannya ada teknologi yang tertanam di dalamnya.
William menatap sendok di genggamannya.
"Ada apa, Nak?"
"Sendok pengukur kalori ini rusak, Ibu," jawabnya.
Ibu William terdiam.
Sang putra melanjutkan penjelasan. "Kalau kita menyambungkannya ke sistem pusat, kita mungkin bisa mendapatkan pengukur yang baru. Tapi tempat produksinya sudah menambahkan label khusus, jadi orang mungkin hanya akan membuangnya ketika ini sudah rusak."
William turun dari kursinya. Ia mengutak-atik sendok itu dan meletakkannya di dalam sebuah kotak. "Tapi aku punya cara untuk melepaskan labelnya dan menyambungkannya ke sistem pusat."
"Terkadang aku tidak mengerti dengan cara berpikir ilmuwan yang menciptakan alat sepele ini. Seharusnya tidak perlu sampai menambahkan label khusus, bukan? Supaya siapa pun bisa membuatnya." William sedikit mengomel sambil sibuk dengan mainan di tangannya.
Ibu menghela napas. "Kau tentunya tahu kasus alat pengukur kalori palsu yang menyebabkan puluhan lansia terbunuh itu, bukan?"
"Ah, jadi kasus itu yang menyebabkan sendok ini menjadi sangat diawasi, ya …." William menautkan kedua alisnya, sangat fokus.
"Karena itulah, sebaiknya biarkan saja dan tak perlu berusaha memperbaikinya, William. Kita tak punya wewenang untuk memperbaiki setiap mesin yang rusak karena kita hanya warga biasa." Ibu mulai khawatir dengan ketertarikan putranya terhadap barang-barang berteknologi di sekitarnya.
"Tenang saja, Ibu. Ini tidak akan terbaca oleh sistem utama di pusatnya." Ia menekan sebuah tombol setelah kotaknya ditutup. Cahaya merah menyala dari sisi-sisinya. "Setelah itu alat pengukurnya akan berfungsi kembali dalam dua menit. Ibu tidak perlu repot-repot membeli yang baru." Senyumnya terbit dengan lugu.
Ibu William menghela napas panjang. Lagi-lagi raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
***
"Ibu, aku ingin tidur bersama Ibu." William membawa bantalnya ke kamar sang Ibu.
Ia melihat ibunya masih terjaga, duduk di tepi ranjang sambil melakukan suatu pekerjaan di tabletnya.
"Terima kasih."
William berbaring dengan tenang, ibunya tak memulai obrolan apa pun.
Tak lama, suara tangis anak usia dua tahun membuat matanya terbuka lagi.
"Kau tidur duluan saja, ya. Adikmu mungkin ingin dibuatkan susu." Ibu William mengelus puncak kepalanya. "Selamat tidur."
"Iya, Ibu."
William duduk sambil melihat pintu kamar yang tertutup. Remang.
Dia melihat layar tablet ibunya yang masih menyala. Dan menampilkan sesuatu yang sangat indah menurutnya.
"Wah …, langit yang indah sekali …."
Tanpa terkendali, ia ingin melihat lebih banyak gambar serupa. Dan di dalam tablet itu ada lebih banyak potret langit luas yang berwarna biru dan jingga, ada yang kemerahan, ada pula yang gelap dengan bulan purnama dan bintik-bintik bintang yang tersebar jauh.
Semuanya indah.
William turun dari ranjangnya, bergerak menuju balkon, membuka pintu, angin menabrak wajahnya dengan halus.
Ia mendongakkan kepala. Bintang-gemintang tanpa bulan sabit. Itu juga indah.