The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #2

Hanya Tersisa Kita Berdua

"Ssstt! Ini aku." Laki-laki yang sebelumnya dibantu oleh William, kini sedang berdiri di depannya, dengan tatapan serius dan napas yang memburu, seperti baru saja menyelesaikan lari marathon belasan kilometer.


"Paman yang tadi?" William menatapnya dengan mata bulat.


"Aku bukan pamanmu." Laki-laki itu melotot. "Lihat, ibumu ditangkap oleh petugas keamanan." Laki-laki itu menyerahkan gelang identitas William.


"Ibu?"


"Maaf, karena kau harus terpisah dari gelangmu saat terjadi hal buruk pada keluargamu. Aku membutuhkan waktu satu jam untuk menemukan sekolahmu. Jadi mungkin sudah terlambat, tapi kau masih bisa menemui ibumu di kantor polisi." Laki-laki itu menjelaskan.


Ia menyisir rambut hitam kebiruannya dengan jemari sambil mendongak menatap tepian hitam di atas. "Dasar, sebenarnya aku tidak suka berutang budi. Hal semacam ini selalu saja merepotkan."


"Kenapa ibuku ditangkap?" William segera memasang gelangnya dan memeriksa panggilan yang tertolak.


"Aku tidak tahu …, tapi orang di telepon mengaku kalau dia adalah polisi dan datang untuk memeriksa ibumu. Mereka menyuruhmu datang, tapi aku beralasan kalau masih berada di sekolah, jadi mereka bilang agar kau menyusul ke kantor polisi saja …."


"Aku pergi dulu!" William merebut skateboard-nya dan pergi dengan kecepatan tinggi menuju kantor polisi yang dimaksud.


Ia sedikit dilanda panik sekarang. Ingatan tentang semua hal yang ia lihat semalam—ratusan potret langit yang diambil dari berbagai sudut pandang yang ada di tablet ibunya itu …. Mungkin saja berhubungan dengan apa yang terjadi hari ini.


Tangannya mengepal, kecepatan penuh, ia bahkan menahan napas sepanjang perjalanannya di atas papan tipis yang melayang lima senti di atas trotoar khusus itu.


Lima menit melaju, ia tiba di depan kantor polisi yang dimaksud. Ia melompat dari skateboard dan berlari masuk.


"Tunggu! Sedang apa kau, Nak? Ini bukan—"


"Aku William Wesley, wanita berusia 32 tahun yang kalian tangkap sekitar satu jam yang lalu adalah ibuku, biarkan aku masuk," William berteriak, matanya menyorot tajam, tekad yang sudah bulat untuk tidak bersikap ramah pada pihak yang telah menangkap ibunya.


"Ah, kalau begitu kau boleh masuk. Ibumu ada di ruang interogasi no. 05 bangunan tenggara."


William berlari ke dalam segera setelah pintu gerbang dibuka, dengan raut wajah yang separuh takut separuh khawatir, bola mata William bergeser ke kiri dan kanan mencari ruangan dengan hologram nomor 05 di pintunya.


Langkahnya terhenti, ia berdiri di depan pintu yang dimaksud, kepalan di kedua tangannya terlepas, ia menekan tombol dan pintu segera bergeser terbuka.


Ibunya duduk di sana sendirian dengan kedua tangan terikat borgol. William melangkah dengan langkah berat, air mata jatuh membasahi pipinya.


"Willy …, Nak …." Ibu tersenyum sambil meneteskan air matanya begitu melihat William di depannya.


Lihat selengkapnya