The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #3

Sky Eater Entity

Ashilde tertidur pada pukul sembilan malam setelah bermain dengan kakaknya. William tersenyum tipis, sedikit merasa lega karena hal buruk yang terjadi pada ibunya tidak begitu memengaruhi kesehatan mental adiknya yang masih kecil.


Seolah gadis itu tahu bahwa ia harus tetap tenang dan ceria agar tak merepotkan kakaknya.


William mematikan lampu kamar Ashilde. Sekarang adalah saat yang tepat untuk menyelidiki apa yang sebenarnya menimpa ibunya.


William berdiri di depan pintu kamar sang Ibu. Kamar itu tertutup saat ia baru kembali. Dan baru ada kesempatan untuk memeriksa ke dalam setelah Ashilde tidur.


William menekan panel password yang mengunci pintu kamar. Pintu itu terbuka tanpa kesalahan. William mendorongnya, lalu menyalakan lampu kamar.


Ia menahan napas, terkejut, tapi juga merasa bingung.


"Apa yang terjadi?" William memasuki kamar dalam keadaan panik. Seluruh lemari buku yang berderet di dalam kamar itu kosong.


Padahal sebelumnya, ada ratusan buku yang duduk manis di sana. Buku-buku yang pada era ini termasuk klasik, kuno dan sangat jarang ditemui.


"Ke mana koleksi buku-buku Ibu?" William memeriksa lebih dekat, ia mengetuk-ngetuk lemari yang masih terbuat dari kayu itu, menekan sisi yang menurutnya mencurigakan, berharap ada suatu tempat rahasia yang keluar bila ia menekannya.


Tapi itu tidak terjadi. Buku-buku itu benar-benar raib dari tempatnya. William mendekati meja kerja. Layar komputer tipis mati, saat mencoba menyalakannya, usahanya sia-sia. William menemukan tablet ibunya di meja yang sama.


Ia membukanya, berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.


Namun …, sesuatu yang ia khawatirkan sebelumnya, sepertinya benar-benar terjadi.


Semua file yang ada di dalam tablet itu hilang tanpa jejak. William tahu ada apa saja di dalamnya, termasuk foto masa kecilnya, jurnal penelitian ibunya di masa lalu, diary kehamilan saat ibunya mengandung dirinya dan Ashilde, kenangan tentang ayah mereka, semuanya berada di sana.


William mengepalkan tangan, keringat dingin mengucuri dahinya. Ia menatap layar tablet yang kosong, ia menemui jalan buntu bahkan sebelum mulai berjalan.


"Sudah jelas mereka menangkap Ibu karena potret langit yang kemarin kulihat secara tak sengaja," gumamnya.


"Memori berharga Ibu yang ada di sini hilang bersama jurnal penelitian tentang langit itu. Sekarang pemikiranku tidak mungkin lagi keliru. Ibu bekerja sebagai editor film. Tapi siapa yang tahu kalau ia diam-diam mengerjakan sesuatu yang berbahaya seperti ini?"


William kembali menutup tablet itu, tidak akan menemukan apa pun meski ia menjelajah semua ruang di dalamnya. Ia kembali memeriksa kamar ibunya, mulai dari laci-laci yang terlihat, hiasan, vas bunga yang berisi air, di bawah kasur, di bawah ranjang, di mana pun tempat yang memungkinkan untuk menyembunyikan sesuatu.


Ia yakin ibunya tidak akan pergi tanpa mempersiapkan apa pun. Setidaknya sebuah pesan untuk menyemangati William atas kemalangan yang menimpanya.


William menghela napas pasrah, tidak menemukan apa pun yang diharapkannya. Ia masih ingin tahu, pekerjaan apa yang ibunya lakukan dengan mengamati langit? Pekerjaan apa yang bisa membuat ibunya ditangkap polisi tanpa kepastian hukum yang adil?


Ia memutuskan kembali ke kamarnya. Dan membuka laptopnya sendiri.

Lihat selengkapnya