Selama beberapa minggu terakhir, William berusaha keras menemukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya. Tapi itu sama sekali bukan hal mudah.
William masih di bawah umur dan tidak ada wali yang mewakilinya. Uang yang ditinggalkan ibunya semakin menipis karena kebutuhan hidup Ashilde lebih banyak dari yang ia kira.
Selain bahan makanan, William harus memikirkan membeli susu, popok dan vitamin untuk Ashilde. Ia bahkan sama sekali tak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Hari ini, pulang dari sekolah, tepat satu bulan sejak dirinya ditinggalkan sang Ibu, William berdiri di depan sebuah rumah produksi film tempat ibunya bekerja dulu.
Ia sempat berpikir untuk melanjutkan pekerjaan ibunya, atau mungkin sekadar datang untuk menanyakan apakah ada pekerjaan kecil yang bisa ia lakukan di sana.
William melangkah maju dengan keputusan bulat. Sebuah drone kecil milik penjaga gerbang terbang rendah di sekitarnya, mendesing pelan. William berhenti dan membiarkan robot itu menyinari wajahnya.
"Kamu siapa, Nak?" drone itu mengeluarkan suara—suara milik Tuan Penjaga yang mengendalikannya dari kantor penjaga.
"Saya putranya Louisa Wesley."
"Ah, kebetulan sekali. Silakan masuk, sepertinya ada yang ingin ditanyakan Direktur tentang ibumu, bisakah kau datang dan menemuinya?"
"Itu yang saya harapkan." William mengangguk sopan.
Ia mengikuti drone itu, memasuki rumah produksi dengan tiga lantai itu. Bangunannya tidak lebih futuristik daripada bangunan-bangunan di sekitarnya.
Omong-omong, kota ini dulunya adalah Rusia. Tapi orang Jepang mendominasi, lebih dari separuh penduduk adalah orang Jepang. Mereka lebih suka mempertahankan bentuk bangunan seperti masa lalu.
Kayu sedikit langka, tapi kebanyakan gedung berlantai rendah menggunakan kayu sebagai lantai. Termasuk rumah produksi ini.
William memasuki lorong, suara sepatunya menciptakan suara 'tak tak tak' yang berat saat kakinya melangkah menginjak lantai kayu ini.
"Ini adalah ruangannya. Oh, tentu saja dalam perjalanan aku sudah memberitahunya kalau putranya Louisa Wesley ingin menemuinya."
"Terima kasih."
Lalu drone itu pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Willian mengetuk pintu karena tidak ada sensor apa pun di sekitarnya untuk memberitahukan kedatangannya.
"Masuklah." Suara terdengar dari dalam.
William membuka pintu, yang pertama kali terlihat adalah deretan rak buku yang terbuat dari kayu, dan ratusan buku yang berjejer memenuhinya.
Ini cukup mengejutkan. Direktur ini memiliki hobi yang sama dengan ibunya.
"Ah, kau benar-benar mirip dengan Louisa." Seorang pria dengan janggut tipis dan kacamata tebal menatapnya. "Rambut pirang yang berkilau, bola mata biru yang mengesankan, kulit putih seperti transparan, fitur wajah yang sempurna …, kau tampan seperti ibumu yang cantik. Apakah kalian dulunya orang Inggris?"
William membungkuk. "Saya William Wesley. Saya tidak mendengar banyak tentang leluhur saya, tapi sepertinya begitu."
Direktur itu tertawa, "Baiklah, baiklah. Aku memberitahumu kalau ciri fisik tubuhmu mirip orang Inggris, jadi sepertinya dugaanku benar."
"Soal buku-buku ini, Louisa-lah yang membuatku terobsesi sampai mengumpulkan semua yang mungkin bisa didapatkan. Aku menghabiskan banyak uang untuk memenuhi seluruh rak buku ini, tahu."
William diam, ia tidak tahu harus membalas seperti apa basa-basi itu.