"Ash, ambilkan airnya."
"Letakkan piring dan mangkuknya di meja."
"Juga, tolong cuci tanganmu sebelum makan."
Ashilde mendengus pelan. "Aku sudah menghapal semua tugas-tugasku di rumah, Kak. Tak perlu menghabiskan tenaga untuk memerintahku." Ashilde melakukannya dengan cekatan, mengambil air, menata peralatan makan, lalu duduk. Ah, ia bangkit lagi untuk mencuci tangan.
Kemudian mereka makan malam dengan tenang. Ashilde bertanya, "Bagaimana masakanku?"
William menyeringai. "Apa ini? Bahkan lebih enak dari masakanku. Sepertinya aku sudah mengajarkan sesuatu yang berguna bagimu, ya."
Ashilde menelan makanannya sebelum kembali bicara. "Lain kali, ajarkan aku sesuatu yang lain seperti bermain alat musik atau mengedit video."
"Kamu lebih suka yang mana?"
"Aku suka mendengarkan saat Kakak berkutat dengan biola jelek itu. Suaranya membuatku tidur lelap. Jadi aku ingin bisa memainkannya juga. Kalau soal mengedit video …, aku ingin mempelajarinya supaya bisa membantu pekerjaan Kakak di masa depan." Ashilde meletakkan sendoknya, menatap William dengan antusias.
"Hmm …, aku akan mengajarimu bermain musik lain kali, tapi soal mengedit video, sepertinya tidak perlu."
Wajah antusias Ashilde langsung lenyap. "Kenapa? Kakak tidak ingin aku membantu Kakak?"
"Bukan begitu, ini karena aku akan berhenti bekerja dalam waktu dekat." William menatap Ashilde dengan serius.
Ia yakin adiknya mengerti setelah ia mengatakan itu. "Kenapa … ingin berhenti? Apakah Kakak mendapatkan pekerjaan lain yang lebih layak?"
William tersenyum. "Bagaimana sekolahmu, Ash? Kau sudah kelas empat, bukan?"
Ashilde mendengus kesal. "Aku sedang menanyakan sesuatu yang serius, loh."
"Ini juga berkaitan dengan jawaban yang akan kuberikan."
Ashilde terdiam cukup lama. Ia melihat tidak ada celah untuk mengalihkan pembicaraan ini meski William mungkin ingin menghindarinya.
Namun setelah mengamati gerak-gerik kakaknya yang serius, Ashilde menyadari bahwa pembicaraan kali ini mungkin akan berkembang jauh lebih serius dari yang ia kira.
Ia menghela napas panjang. "Aku mematuhi Kakak dengan baik. Meski sulit untuk menahannya, aku berhasil mempertahankan nilai rata-rataku, aku tidak pernah menyentuh angka 90 meski aku nerasa bisa melakukannya dengan mudah. Teman-temanku juga tidak merundungku meski nilaiku tidak pernah lebih dari angka 80 meski sudah bertahun-tahun sekolah."
"Lalu guru juga tidak pernah mempertanyakannya. Aku memiliki kehidupan sekolah seperti anak pada umumnya, seperti yang Kakak inginkan."
William tersenyum lega. "Bagus, kau anak yang pintar."