Ashilde's POV
-
Saat itu, aku tidak benar-benar memercayai apa yang sedang kakakku bicarakan sepanjang penjelasannya. Bahkan setelah jurnal-jurnal itu ditunjukkan, wajahku masih menunjukkan ketidakpercayaan yang aku yakin dia menyadari itu.
Aku telah mengenal kakakku jauh lebih baik dari sedikitnya manusia yang dia kenal. Dia adalah orang yang suka memendam masalahnya sendiri, dengan keyakinan bahwa orang lain mungkin tidak mampu dan tidak ingin repot-repot berbagi beban dengannya, bahkan meski orang itu adalah aku.
Sejauh aku bisa mengingat, ia sudah menemani dan merawatku sendirian, kami tidak memiliki orang tua—setidaknya itu yang ku yakini hingga sesaat sebelum dia menjelaskan masa lalu keluarga kami yang ternyata tidak secerah lubang di atas.
Aku tidak memiliki ingatan apa pun tentang orang tuaku dan Kakak sepertinya tidak suka kalau aku membicarakan tentang itu, jadi kami hidup seolah-olah kami memang terlahir dari udara.
Kakak bekerja di rumah produksi yang ternyata dulunya adalah tempat ibuku bekerja. Ia mendaftarkanku ke Taman Kanak-kanak setelah mengetes kepribadian dan kecerdasanku dengan cara yang konyol.
Lalu direktur dari rumah produksi itu ternyata bersedia menjadi wali kami, kakakku bersekolah di sekolah menengah yang biasa saja, ia tidak pandai bergaul dan cenderung melakukan segala hal sendiri.
Aku sempat khawatir dengan kemampuan bersosialisasinya yang sama payahnya denganku. Tapi ia mampu mengatasinya jauh lebih baik daripada aku, dan kurasa aku harus mengkhawatirkan diriku sendiri saja daripada mengkhawatirkannya.
Aku sangat menyayangi kakakku karena hanya dialah yang kumiliki di dunia ini. Ia cenderung menyimpan banyak rahasia yang tidak kutahu itu tentang apa. Aku tidak pernah tertarik untuk mencari tahu diam-diam dan hanya menunggu waktu sampai dia mau bersikap lebih terbuka.
Hanya saja …, aku tak menyangka waktunya datang secepat ini. Terlebih, rahasia yang ia simpan jauh di luar bayanganku.
Ia menceritakan hubungan ayah dan ibu kami yang cenderung pergi ke arah tidak sehat dan keluarga kami sama sekali bukan keluarga yang harmonis.
Lalu di akhir penjelasan itu—seperti yang sudah tertulis di bab sebelumnya—kakakku tiba-tiba mengajakku keluar dari kota ini. Melakukan perjalanan panjang demi menemukan ibu kami.
Hatiku berdesir saat menyadari bahwa ia memedulikanku jauh dari apa yang selama ini kulihat. Aku memeluknya dan berkata aku bersedia melakukan apa pun selama itu bersamanya.
"Ashilde," panggilnya.
Aku menoleh setelah merenung sejenak. "Ya, Kakak?"
"Apakah ada yang ingin kau lakukan sebelum kita pergi?"