Kini, kami duduk berhadapan dengan Pak Direktur yang menjadi wali kami dalam beberapa tahun terakhir.
"Aku sudah membaca surat pengunduran dirimu," ucapnya, membuka perbincangan dengan sesuatu yang langsung serius.
Kakak mengangguk. "Kau tidak bertanya kenapa?"
Direktur tertawa. "Melihat surat pengunduran dirimu saja sudah membuatku tenang, aku tidak akan menanyakan alasannya, karena kurang-lebih sepertinya bisa kutebak."
Kakak diam.
Aku merasakan atmosfer tegang yang menyelimuti kedua orang ini. Kakak memercayai Direktur jauh lebih banyak dari yang kukira. Baginya, orang ini bukan hanya wali kami saja, tapi mungkin sedikit banyak mulai mengambil peran sebagai orang tua.
Karena dia tidak menikah dan tidak memiliki anak tentunya, itu seperti sudah begitu saja ia rasakan terhadap kami yang ia putuskan untuk dirawatnya sebagai anak asuh.
"Ibumu pergi tanpa pamit, tapi putranya mengirimkan surat pengunduran diri. Aku rasa aku tidak perlu menanyakan apa pun lagi. Berhati-hatilah, semoga kau tiba di tempat tujuanmu tanpa kehilangan apa pun."
Kakakku tertunduk, aku melihat kedua tangannya mengepal di atas lutut. "Selain itu …, aku ingin meminta bantuan untuk terakhir kalinya."
Salah satu alis Direktur terangkat. "Oh? Jarang sekali kau menginginkan sesuatu?"
"Dapatkan dua unit pistol level tinggi untukku dan Ash."
Wajah santai Direktur berubah menjadi sangat serius. "Apakah aku boleh bertanya ke mana tujuanmu yang sebenarnya?"
"Aku akan pergi ke Prime."
Napasku tertahan. Aku menoleh tidak percaya. Ia belum mengatakan soal ini padaku. Apakah pembicaraan ini adalah yang ia maksud sepulang dari taman hiburan?
Direktur menyeringai tipis. "Karena itulah kau butuh dua pistol sekaligus? Kenapa kau harus pergi ke Prime? Tidak ada yang tahu di mana kota itu berada. Kau mungkin harus mengelilingi Bumi ini dalam waktu yang lama untuk menemukannya."
"Kau akan menghabiskan waktu bertahun-tahun menjelajah Dunia di Bawah Bayangan dan mengalami banyak hal buruk. Belum lagi, kau bersama Ashilde."
"Dengan usaha mati-matian yang belum tentu sepadan dengan hasil itu, kau tetap nekat mengambil keputusan tersebut? Apakah ini demi ibumu?"
Kakak terdiam, kedua alisnya bertaut, ia sangat serius kali ini, "Aku menyusup ke penjara beberapa kali enam tahun yang lalu. Aku meretas sistem keamanannya dan sampai sekarang aku bisa bolak-balik dengan bebas di dalamnya kalau ingin."
"Tapi ibuku tidak ada di sana pada minggu kedua dia dibawa ke sana. Aku masih pergi beberapa kali untuk memastikannya. Tapi Ibuku benar-benar tidak ada. Lalu aku mendengar kalau semua tahanan yang diduga pemberontak dibawa ke Prime untuk penahanan lebih lanjut."
"Aku sempat berpikir untuk pergi saat itu juga …, tapi Ashilde masih terlalu kecil untuk kutinggalkan dan aku memang tidak berniat meninggalkannya barang sedetik pun. Aku menunggu waktu yang tepat. Aku menganalisa beberapa hal dengan satelit kecil yang diam-diam kukirimkan di permukaan S.E.E."
"Aku mencari keberadaan Prime. Tidak …, itu tidak berjalan semulus itu. Gumpalan hitam itu memiliki gelombang aneh yang tidak bisa dianalisa oleh sistem-sistem yang kubuat …."