The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #8

Bertemu dengan Arthur

Pada pukul delapan keesokan harinya, mereka keluar dari rumah itu, pistol jenis Crusher yang sangat canggih bersembunyi di balik mantel tebal.


Salju turun perlahan, mulai menutupi jalan-jalan aspal dengan warna putih yang halus. William menoleh ke belakang, Ashilde menatapnya, tersenyum lebar, seolah-olah ia akan menikmati perjalanan ini.


"Aku berjanji akan memberikan tempat tidur paling nyaman dan makanan paling mengenyangkan untukmu sesulit apa pun keadaan kita nanti, Ash. Yang kuminta darimu hanya satu hal, jangan pernah mengeluh atas apa pun yang aku putuskan." Malam sebelumnya, William mengatakan itu pada Ashilde.


Ia memodifikasi gelang Ashilde menjadi seperti miliknya, dengan begitu, mereka bebas bergerak ke mana pun tanpa perlu dicurigai. Sistem pelacak dan yang semacamnya di dalam gelang itu telah dihilangkan dengan sistem peretasan yang unik, 'Tikus Lincah' yang diciptakan William sendiri.


Ashilde mengangguk, ia menatap gelangnya yang seperti baru.


Sekarang, mereka berjalan menuju Jl.  Amber No. 91 G. William bilang, itu adalah tempat di mana ia akan menemui orang yang bisa membawa mereka keluar dari Kota Arc.


Pada pukul sepuluh, mereka telah menunggu di sana dengan bosan, tidak ada siapa pun yang muncul di gudang tua berisi rongsokan besi itu.


Ashilde melirik kakaknya. "Apakah benar tempatnya di sini?"


"Benar," William menjawab singkat.


"Apakah waktunya benar?"


"Benar."


"Apakah Kakak sudah menghubungi orang itu sebelumnya?"


William menoleh. "Aku tidak bisa menghubunginya."


Ashilde memiringkan kepalanya dengan heran. "Lantas kenapa Kakak yakin sekali orang itu akan datang?"


"Karena hanya hari ini dan di sinilah kemungkinan aku bisa bertemu dengannya, Ash. Kalau tidak bertemu hari ini kita harus menunggu sampai bulan depan dan itu terlalu lama." William menatap adiknya dengan datar, lalu mencari tempat duduk setelah lelah berkeliling di dalam gudang.


Ashilde mengikutinya, ia kemudian tidak banyak bicara lagi dan memutuskan untuk hanya memercayai insting kakaknya saja. Ia sebenarnya terlalu gugup untuk banyak bicara, hari di mana segalanya akan berubah drastis sudah dimulai. Dan itu sama sekali tidak bisa membuatnya tenang.


Di tengah-tengah istirahat itu, suara besi berkelontangan terdengar dari kejauhan. Ashilde berdiri, kedua tangannya terkepal di depan dada, menatap sekitar dengan waspada.


William menyusul berdiri. "Kita harus memeriksanya."


Mereka berjalan mendekati sumber suara. Semakin dekat, suara orang yang menggerutu terdengar semakin jelas, besi-besi berkelontangan.


William menghentikan langkahnya tepat di depan seorang pria yang sedang mengacak-acak tempat itu.


Matanya membulat, ia tahu bahwa orang di depannya adalah orang yang sedang ia cari. Ciri fisik itu tak banyak berubah, tapi tubuhnya menjadi jangkung dan berbahu lebar, tidak seperti saat pertemuan pertama mereka.


Orang itu terkejut melihat dua 'anak kecil' di tempat yang hampir tidak pernah didatangi manusia ini. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil memasang wajah malas.


"Kau tersesat ya, Bocah?"


William semakin berbinar, suaranya bahkan tidak banyak berubah selain menjadi sedikit lebih berat, ia melangkah dengan antusias. "Aku ingat namamu adalah Arthur."


Wajah kesal Arthur berubah menjadi penuh keterkejutan, ia menatap William dengan penuh selidik, seolah berusaha mengingat-ingat sesuatu yang telah lama ia lupakan.


Lihat selengkapnya