The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #9

Di Luar Lubang

Mereka memasuki pintu di dinding beton kokoh itu. Arthur mengarahkan William dan Ashilde untuk menginjak jejak kakinya agar tidak salah melangkah.


Benteng itu mungkin setebal sepuluh meter. Di dalamnya berisi lorong-lorong selebar satu meter dengan penerangan yang minim.


Lorong-lorong ini berkelok-kelok tanpa pintu keluar seperti labirin. Dinding-dindingnya memiliki tombol-tombol tak dikenal yang kata Arthur tidak boleh sampai tersentuh walau hanya sedetik.


Arthur berkali-kali mengingatkan untuk tetap berjalan di belakangnya, menginjak jejak kakinya, sama sekali tidak boleh bergeser lebih ke kanan atau ke kiri.


"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Ashilde pelan, nyaris berbisik.


"Labirin ini panjangnya kurang-lebih tiga kilometer. Kita akan tiba sebelum satu jam, bersabarlah." Arthur mendengus pelan.


William tidak banyak bicara, ia fokus mengikuti langkah kaki Ashilde yang berjalan di depannya.


"Tidak ada penjaga di sini?" Ashilde bertanya lagi. Sesekali ia melirik tombol-tombol aneh yang jumlahnya ratusan, tertempel di dinding sepanjang lorong, membentuk garis-garis diagonal yang panjang.


"Tidak ada. Tapi kau pikir tombol-tombol ini gunanya untuk apa kalau bukan sensor tanda bahaya? Jangan mendekatkan tanganmu ke dinding kalau tidak mau sensornya menyala. Nanti polisi bisa mendengarnya."


"Tapi kita bisa berjalan dan berbicara dengan tenang." Ashilde menunduk, menatap kakinya yang menginjak tempat yang sebelumnya diinjak oleh Arthur.


"Itu memang benar, suara tidak menjadi masalah besar. Tapi hati-hati dengan langkahmu, Gadis Kecil." Arthur melirik ke belakang sambil menyeringai tipis.


Ashilde tersentak, di situlah ia mengetahui, kalau tombol-tombol itu tidak hanya berada di dinding, tapi juga di lantai.


Ia mendengus, nyaris saja terkena masalah.


Arthur terkekeh. "Aku menggunakan pintu ini selama bertahun-tahun lamanya, loh. Meski kelihatannya tidak begitu ketat, sekali tertangkap, kau tidak akan diperlakukan seperti manusia lagi."


"Beberapa orang temanku mati di sini, entah apakah tubuh mereka utuh atau tidak." Arthur menghela napas pelan. "Kudengar mereka dihujani tembakan di dalam labirin ini sampai terluka sangat parah sebelum polisi akhirnya menangkap mereka hidup-hidup."


Pembicaraan adiknya dengan Arthur mulai terdengar menarik, William menyahut dari belakang. "Pasti sensor itu memicu serangan pertahanan yang mungkin ditanam di atap labirin. Omong-omong, teknologi seperti papan seluncur terbang tidak bisa digunakan, gelangku juga tidak berfungsi. Apakah sistem sensor di sini juga menonaktifkan teknologi luar secara otomatis?"


"Entahlah, aku tidak mengerti yang semacam itu. Yang jelas, hanya dengan cara ini kita bisa keluar. Melangkah hati-hati tanpa menyentuh atau tersentuh oleh apa pun."


Mereka melanjutkan perjalanan itu tanpa banyak bicara lagi.


Hingga sebuah pintu besar yang terbuat dari besi setebal lima belas sentimeter terbentang di depan mereka.


Ashilde mendongakkan kepala untuk melihat bagian atas pintu itu. Namun ia tidak melihat apa pun selain gelap. Sedangkan lebarnya sekitar dua meter.


Tombol-tombol itu masih mengisi dinding kosong di sekitar pintu. Tapi pintu ini benar-benar polos.


William hendak menyentuhnya untuk memastikan sesuatu.


Tapi tangan Arthur menghentikannya. William menatap Arthur dengan bingung. Mengapa?


"Kau akan mati terpanggang listrik ribuan volt jika menyentuhnya."


William segera menurunkan kembali tangannya. "Kalau sekuat itu, apakah di balik pintu ini adalah Dunia Di Bawah Bayangan?"


Lihat selengkapnya