The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #10

Permukiman Pertama

Gelap.


Meski begitu, lingkungan ini tidak terlihat seperti malam hari. Ketika William mendongak, gumpalan hitam di atas sana hanya terlihat seperti awan mendung yang sangat pekat dan menutupi seluruh langit


Tepian lubang terlihat terang, langit biru tanpa awan, dan sinar matahari sedikit menyinari bagian atas dinding raksasa di belakang mereka.


William terpaku mengamati awan gelap itu, mereka sama sekali tak bergerak. Benar-benar terlihat seperti gumpalan hitam yang menyelimuti permukaan Bumi.


William mengembuskan napas berat. Ia mengedarkan pandangannya ke depan.


Bangunan-bangunan tinggi, layar-layar iklan di tepi jalan yang sudah padam, rusak dan berdebu. Bangkai kendaraan darat, pohon tumbang yang sudah kering, tumpukan sampah, lampu lalu lintas yang menjulang tinggi, kabel-kabel listrik yang mati, semuanya telah tertutup debu dan rumput-rumput lembap yang tumbuh secara liar.


"Ayo." Arthur memecah lamunan William. Ia berdiri di samping sebuah mobil jeep yang cukup terawat.


"Itu apa?" tanya William.


"Ini mobil. Kalau di kotamu, ia tidak memiliki roda karena menggunakan teknologi levitasi magnetik, bukan?"


"Ah, bentuknya memang mirip." William berjalan mendekatinya.


Tapi baru satu langkah, ia terhenti. Kepalanya menoleh ke belakang dan menunduk, Ashilde menggenggam ujung mantel William, terlihat gemetar.


William menghela napas pelan, ia tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepala adiknya. "Tidak apa, Ash. Aku akan selalu melindungimu. Sejujurnya, meski menyeramkan, tempat ini jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Lihat? Gedung-gedungnya masih banyak yang berdiri kokoh. Kelak saat kita mengelilingi tempat ini untuk menemukan Ibu, kita bisa dengan mudah mencari tempat tinggal sementara. Kau mengerti?"


Ashilde mendongak, menatap kakaknya dengan wajah cemas. Ia mengangguk pelan. "Aku juga akan melindungi Kakak."


"Bagus. Harus seperti itu kalau menjadi adikku." William menggenggam pergelangan tangan Ashilde. Menyusul Arthur yang sudah lebih dahulu menaiki mobilnya.


"Katanya, peradaban di bawah bayangan gumpalan itu terhenti di tahun 2030. Karena itulah, kendaraan seperti inilah yang akan menemani perjalanan kita."


William memperhatikan interior mobil yang tampak sederhana dan mudah ditebak oleh benaknya.


"Menggunakan bahan bakar berupa minyak, ya …. Tapi meski mesinnya sudah tua, kerangkanya masih cukup bagus," komentarnya.


Arthur tertawa. "Ini juga berkat kalian, kerangka mobil ini diperbarui menggunakan barang-barang yang kami curi dari Arc. Mengenai mesin, jarang sekali menemukan mesin yang cocok, jadi kami jarang menggantinya."


"Sudah begitu, mobil ini memang sudah rusak berkali-kali selama delapan puluh tahun terakhir. Jadi jangan mengharapkan apa-apa. Kita saja yang terlalu memaksakan usianya yang sudah renta."


William mengangguk-angguk. "Apakah kalian pernah mencuri sampai Prime?"


"Hei, hei …. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kami saja tidak tahu kota setelah Arc itu ada di mana. Meski lubangnya terlihat, butuh berbulan-bulan untuk tiba di sana."


"Dan selama perjalanan itu, kami berpotensi akan kehilangan nyawa karena bertarung dengan kelompok buangan lain, atau kalau tidak beruntung, bisa dihabisi monster malam."


"Ada berapa banyak kelompok buangan itu?" tanya William lagi.


"Mana bisa dihitung? Dari yang kudengar, katanya dulu populasi manusia itu jumlahnya mencapai delapan miliar lebih. Sekitar 5-6% meninggal karena suatu wabah mengerikan yang datang tepat sebelum gumpalan hitam ini muncul."


"Yang sehat bergegas menyelamatkan diri. Yang kalah dalam bertarung mendapat perlindungan lubang-lubang itu, terpaksa hidup dalam pengembaraan tiada akhir di bawah bayangan ini."


"Mungkin saja tidak sampai tiga milyar yang berhasil selamat berlindung di bawah lubang. Karena jumlah kelompok buangan seperti kami juga benar-benar banyak."


Lihat selengkapnya