The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #11

Rumah Arthur

"Eh?!" Gregory berseru terkejut. "Ke-kenapa membungkuk begitu?"


"Dia sedang memohon pada kita." Arthur memijat pelipisnya, terlihat bingung.


"Baiklah, William, kau pergi beristirahat dulu di rumahku. Bean, Conall, temani mereka sebentar, ya." Arthur menepuk-nepuk pundak dua anak laki-laki di depannya.


"Baik, Arthur!" Keduanya kira-kira seumuran dengan Ashilde, atau hanya beberapa tahun lebih tua saja. Memiliki rambut sebahu yang terlihat cukup terawat berwarna cokelat gelap dengan kulit sawo matang.


"Ayo ikut kami ke rumah Arthur." Mereka menatap William dengan ceria.


"Ayo, Ash." William menarik tangan adiknya.


Arthur menghela napas panjang begitu mereka menghilang dari pandangan.


"Kalian …, sebegitunya tidak menyukai kota-kota besar itu?" tanya Arthur dengan wajah serius.


"Bagaimana bisa kami menyukai mereka, Arthur? Kau juga tahu. Kita adalah kelompok buangan, bahkan jika kita membawa orang yang sakit parah sampai hampir sekarat untuk sekadar mendapat pengobatan pun, Arc tidak pernah mengizinkannya."


"Kota yang begitu pelit itu, sudah jelas penduduknya sangat sombong. Tidak ada hal baik dari Arc selain rongsokannya."


Arthur mendengus. "Dengarkan dulu. Aku juga bukan orang yang akan membantu orang lain tanpa alasan begitu."


Pada akhirnya, untuk meyakinkan teman-temannya, Arthur menceritakan pertemuan pertamanya dengan William.


"Saat itu, dia tidak sengaja menabrakku. Meski tahu aku penyusup, dia malah membantuku menyelesaikan urusanku, meminjamkanku kendaraan dan gelang identitas untuk menemukan tempat barang rongsokan yang aman."


"Aku memikirkan bagaimana caraku membalas utang budi itu. Tapi tiba-tiba saja aku mendapat pesan dari gelang identitasnya kalau ibunya ditangkap polisi. Aku buru-buru mencarinya ke sekolah dengan petunjuk yang ada."


"Kupikir tidak ada masalah yang besar, dia datang ke kantor polisi dan aku kembali ke rumahku, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padanya dan ibunya."


"Itu terjadi enam tahun lalu. Dan tak kusangka dia datang menemuiku hari ini di tempat rongsokan besi yang diberitahukannya dulu."


Gregory dan beberapa orang yang berkumpul itu terdiam lama.


"Dia bilang ibunya dibawa ke Prime, dan meminta bantuan padaku untuk membawaku keluar dari Arc. Kelihatannya dia serius dengan keputusannya untuk mengejar kebenaran tentang mengapa ibunya dipenjara."


"Aku masih berutang padanya, tempat yang dia beritahukan itu telah menghidupi kita selama enam tahun terakhir. Jadi kupikir membantunya sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas budi. Karena itu aku membawanya."


Gregory, dan orang-orang yang berkumpul untuk mendengarnya terlihat menghela napas berat, raut wajah mereka berubah menjadi penuh iba.


Tidak ada alasan bagi Arthur untuk mengarang cerita untuk mempertaruhkan nyawa mengeluarkan dua anak dari Arc.


"Baiklah. Kami mengerti. Mereka juga dalam posisi yang sulit. Aku tidak keberatan membiarkan mereka tinggal sebentar." Gregory memutuskan. "Lagi pula, kau bilang mereka akan segera pergi, kan?"


Arthur mengangguk. "Dia hanya tinggal beberapa hari untuk menyusun rencana."


"Kalau Gregory bilang begitu, aku tidak punya alasan untuk menolak."


"Biarkan mereka tinggal di tempatmu saja, Arthur."


Arthur tersenyum puas. "Terima kasih, semuanya."


"Haha, memangnya kenapa? Kau berutang pada mereka, maka kami juga sama."


***


Lihat selengkapnya