The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #12

Kecerobohan Besar

Arthur tiba di rumahnya lima belas menit kemudian. Dia membatu di depan pintu saat melihat William begitu akrab dengan kedua anak itu.


Berbagai macam cerita yang ia dengar secara tak sengaja itu tidak memicu kemarahannya, namun raut wajah menunjukkan ketidaksukaan.


"Kau lumayan cepat akrab juga, ya, orangnya." Ia berjalan mendekati ruang tamu dan berkacak pinggang di belakang William.


"Gregory?" tanya Conall, menanyakan keberadaan Gregory.


"Ah, dia menjemput Hugo dan Elliot. Sebentar lagi akan pulang." Arthur menjawab sambil menggaruk tengkuknya dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


"Itu …, William. Ini mungkin buruk bagi adikmu, karena rumahku dihuni oleh empat orang pria dewasa dan dua anak laki-laki. Tapi kami tidak punya kamar yang tersisa. Aku berpikir untuk membiarkannya satu kamar dengan Bean dan Conall—"


"Bukankah kau dan teman sekamarmu bisa mengalah sebentar dengan memberikan tempat tidur kalian padanya? Aku tidak masalah, bisa tidur di mana saja. Tapi Ashilde tidak boleh tidur satu kamar dengan laki-laki." William segera memotong penjelasan Arthur.


Arthur mengembuskan napas pasrah, sudah menduga hal itu akan terjadi. "Baiklah. Tapi daripada tinggal di kamarku, lebih baik dia tinggal di kamar Bean dan Conall saja. Mereka bisa tinggal di kamarku bersama Gregory nanti."


"Eh? Lalu kau bagaimana?" tanya Conall sambil menatap Arthur.


Arthur mengangkat bahu tak acuh. "Aku bisa tidur di sofa ruang tamu bersama anak ini."


"Baiklah. Kurasa tidak apa-apa kalau hanya sementara." Bean mengangguk setuju. Lalu ia menoleh ke arah Conall. "Lebih baik kita rapikan dulu kamar kita sebelum ditempati seorang gadis, Conall," bisiknya, dengan suara yang sedikit keras.


Suara itu terdengar oleh telinga Ashilde, membuatnya segera memalingkan wajahnya yang menghangat.


Setelah masalah tempat tidur selesai, Arthur memasak makan malam—menurutnya ini sudah malam—untuk orang-orang yang tinggal di rumahnya.


William mengamati dapur kecil mereka yang bersih dan penuh dengan bahan makanan. Lampu-lampu redup yang menggantung di atas ruangan, dan kipas angin kecil yang menempel di dinding, berputar-putar konsisten.


Semua itu adalah hal baru baginya. William terlihat tenang sambil mengamati lingkungan baru tersebut.


Seperti bagaimana Arthur menyalakan kompor gas, bagaimana Arthur memasak daging yang sudah dibumbui. Semua itu adalah baru.


Lalu Gregory kembali bersama seorang pemuda dua puluhan dan seorang lagi yang masih remaja, yang katanya bernama Elliot dan Hugo itu.


Mereka memiliki paras yang sedikit lebih bersih dan terawat daripada Arthur. Kulit putih seperti orang Inggris dan rambut berwarna cokelat terang.


"Ah, mereka tamu Arthur yang katanya akan menginap beberapa malam itu?" Elliot—yang berambut pendek—mendekatkan wajahnya pada William yang baru saja hendak duduk di depan meja makan.


"Y-ya, begitulah." William menjawab singkat.


Elliot, kelihatan jelas kalau ia lebih tua dari semua pria yang tinggal di rumah ini, mungkin sekitar awal tiga puluhan atau akhir dua puluhan. Wajahnya ramah dan terlihat bisa menerima siapa pun yang ada di sekitarnya. Seperti orang dewasa sejati.


Bahkan senyumnya itu terasa seperti tidak akan pernah menguap dalam situasi apa pun. Tatapannya seperti sudah terlatih menjadi orang dewasa yang mengayomi anak-anak terlantar di sekitarnya.

Lihat selengkapnya