Gregory mengantar William dan Ashilde menuju atap gedung lima lantai ini untuk menguji Crusher tersebut.
Beberapa saat sebelumnya, William baru saja menyadari kalau gelang identitasnya tidak bisa digunakan di luar lubang.
Tentu saja itu bukan karena betapa ketatnya peraturan Kota Arc, karena William telah memodifikasinya sedemikian rupa agar status gelang identitasnya tidak terbaca oleh sistem pusat di Departemen Identitas Penduduk Kota Arc.
Benda berteknologi itu tidak berfungsi karena jaringannya terganggu oleh keberadaan gelombang elektromagnetik yang menguasai langit.
Tidak. Hampir semua benda berbasis navigasi, jaringan internet, listrik dan semacamnya tidak bisa dijalankan di luar lubang.
Ia akhirnya tahu mengapa peradaban di luar lubang terhenti puluhan tahun lalu. Mereka tidak bisa mengembangkan teknologi karena keterbatasan tersebut.
Ia menatap Crusher-nya, nyaris putus asa. Kalau benda ini tidak berfungsi, maka usahanya sejauh ini semuanya akan sia-sia.
Ashilde mengangkat senjata itu dan mengarahkannya ke tempat kosong di kejauhan. Tangannya tegak lurus, matanya tajam menatap satu titik yang telah menjadi targetnya.
Di belakangnya, Conall dan Bean menahan napas, Ashilde memancarkan aura tidak boleh diganggu jika ekspresi wajahnya sudah seserius itu.
Dalam hitungan detik ….
BHUMM!!
Crusher itu mengeluarkan suara ledakan berat yang memekakkan telinga. Sepersekian detik setelah ledakan itu, pucuk menara BTS yang diincar Ashilde runtuh seketika.
Ashilde menghela napas panjang. Ia menatap William dan tersenyum lebar. "Berguna."
William tertawa. "Sepertinya hanya gelang kita saja yang tidak berguna, ya, Ash." Ia menyimpan kembali senjatanya, tak perlu menguji dua kali atau penduduk permukiman akan marah karena terganggu.
Setelah itu, William mengusap-usap puncak kepala Ashilde sambil tersenyum lebar. "Kerja bagus. Bidikanmu juga tidak meleset."
"Hihi." Ashilde nyengir lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya sambil mendongak menatap William.
Melihat pemandangan langka itu, Bean dan Conall saling menatap. Kelihatannya cukup terkejut, atau bagi mereka, itu adalah sesuatu yang mengagumkan.
"Baiklah. Mungkin soal senjata, kalian tidak perlu khawatir lagi." Gregory membuat keputusan. "Tapi sepertinya peta juga sangat penting, ya. Apakah gelang itu tidak bisa diperbaiki supaya bisa menahan gelombang EM di atas?"
William mengalihkan pandangannya dari Ashilde, menggeleng. "Meski pun aku bisa mencari cara untuk mengakalinya, itu butuh waktu sangat lama. Aku memang pernah memodifikasi drone untuk pekerja sipil menjadi satelit canggih yang bisa melawan gelombang tersebut, tapi itu saja membutuhkan waktu empat tahun, ketahanannya pun tidak mencapai satu tahun. Terlalu membuang waktu untuk melakukan hal yang sama pada gelang ini."
Ashilde memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan, wajahnya kembali datar. Membuat Conall dan Bean yang mengamatinya sejak tadi hampir tertawa karena perubahan ekspresi itu cukup lucu bagi mereka.
Arthur yang berdiri di belakang Bean dan Conall mulai berpikir keras, ia meletakkan ibu jari dan telunjuknya di dagu.
"Apakah kau ingat rutenya?" tanya Arthur.
William menaikkan sebelah alisnya. "Hmm …, aku ingat, tapi tidak yakin ingatan ini akan bertahan bahkan sampai setengah perjalanan."
"Kalau begitu, gunakan peta konvensional saja." Arthur mengangkat bahu. "Setidaknya kau tidak akan melupakannya selama tercatat secara fisik."
William terdiam. Itu mungkin ide yang bagus. "Di mana kita bisa mendapatkannya?"
Arthur menyeringai sombong. "Kau pikir aku mengeluarkan ide tanpa solusi?" Ia melambaikan tangan, meminta William dan Ashilde mengikutinya.
"Arthur, ini sudah malam. Besok saja." Gregory menghentikannya.
"Ugh." Arthur menahan napas. "Baiklah, memang lebih baik kalian beristirahat dulu saja."
"Omong-omong, aku benar-benar menyarankan kau mengikuti Elliot dan Hugo dulu saja." Gregory membuka suara ketika mereka dalam perjalanan menuruni anak tangga untuk kembali ke rumah Arthur.