The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #15

Arah Baru Menuju Seberang

"Kau mau membantuku?" Arthur langsung merespon penuh semangat.


William tahu Arthur menunggu bantuannya, ia berjalan mendekati penjual aksesori itu. Lalu melihat-lihat dengan serius, jari telunjuk tangan kirinya menempel di dagu, sementara tangan kanannya melihat-lihat barang satu-persatu.


"Apakah adikmu menyukai aksesori?" tanya Arthur. Mungkin itu adalah bantuan yang akan William berikan padanya.


"Tidak tahu. Aku tidak pernah bertanya padanya mengenai itu."


"Hah?" Arthur mengangkat sebelah alisnya. "Lalu mengapa kau berhenti di sini?"


"Aku hanya melakukannya berdasarkan apa yang biasanya akan disukai anak perempuan. Saat sekolah dulu, semua anak perempuan memakai aksesori di kepala, rambut mereka akan dihiasi oleh banyak aksesori."


"Lalu adikmu?"


William menatap Arthur dengan datar. "Mereka bisa melakukan itu karena memiliki ibu yang mengajari mereka. Tapi Ashilde tidak, dan aku tentu saja tidak bisa mengajarinya."


Arthur terdiam setelah mendengar jawaban itu. Mungkin ia baru menyadari bahwa pertanyaannya ternyata cukup sensitif bagi William. "Maaf," ucapnya kemudian.


"Aku tak masalah." William mengambil sebuah ikat rambut dengan hiasan bunga berwarna biru. Merasa itu mungkin akan cocok dengan Ashilde.


Sebelum memutuskan untuk membelinya, ia malah terkekeh, menertawai dirinya sendiri. "Ashilde bahkan tak pernah membiarkan rambutnya memanjang karena tahu tidak bisa menghiasnya dengan aksesori seperti ini."


Sepertinya penjual aksesori mendengar percakapan mereka. Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengambilkan sebuah bando hitam dengan hiasan daun semanggi berkelopak empat.


"Kalau rambutnya pendek dan tidak mau mengikatnya, kau bisa membelikannya bando saja. Cukup diletakkan di kepala seperti ini." Penjual itu memasangnya di kepalanya sendiri. "Lihat? Cantik, bukan?"


Arthur dan William saling menatap. Mereka mengangguk sepakat.


"Akan terlihat lebih cantik kalau warna hitam ini dipadukan dengan rambut pirang adikmu, Nak." Penjual tersenyum, ia melirik Ashilde yang sedang berdiri di depan kedai makanan.


"Ah, kau dengar rupanya. Terima kasih, aku akan membeli ini." William menerima bando itu. Lalu Arthur membayarnya dengan kepingan koin yang berbeda dengan nox.


Arthur bilang nox tidak berlaku di luar lubang. Mereka masih menggunakan mata uang zaman dulu. Beberapa permukiman bahkan menggunakan sistem barter.


"Nanti kau berikan saja padanya." William memberiman bando itu pada Arthur. "Katakan padanya kalau ini adalah permintaan maafmu soal tadi."


Arthur mengangguk. Ia memalingkan wajahnya. "Ini rasanya seperti aku hendak menyatakan perasaan pada seorang anak—"


"Jangan berani-berani, dasar mesum." William melirik tajam.


"Hei?! Aku tidak pernah punya pemikiran seperti itu.


Ashilde melihat mereka berjalan ke arahnya dengan canggung. Ia menunjuk ke kedai di depannya. "Kakak, kita bisa sarapan di sini."


"Oh? Kau benar. Kalau begitu ayo kita masuk." Arthur bersikap santai, memilih tempat duduk dan memesan makanan dan minuman.


William hanya diam sambil melihat-lihat barang yang teronggok di mejanya. Seperangkat alat makan seperti garpu, pisau makan, sendok dan lain-lain tersedia di meja.


Ia menoleh ke samping, sebuah kipas angin berputar kencang di sudut atas ruangan. Bunyinya mengganggu, tapi anginnya tak cukup kuat untuk dapat William rasakan meski jaraknya tak jauh.


Selain itu, suara generator yang menghidupkan listrik kecil di permukiman ini juga sangat mengganggu. Suara itu selalu bising tanpa pernah berhenti, William tak pernah membahasnya karena ia tahu hanya dengan benda itu listrik di permukiman kecil ini bisa tetap berfungsi.


"Omong-omong, aku tidak mengerti mengapa gelang identitas canggihmu bisa mati di bawah gelombang EM sedangkan listrik di permukiman ini bisa hidup?"


"Karena listrik dan teknologi itu berbeda tingkat kerumitannya. Generator sederhana masih bisa bekerja sendiri. Tapi gelangku bergantung pada terlalu banyak sistem yang saling terhubung."


Arthur mengangguk-angguk sambil mengaduk mi pesanannya yang baru sampai. "Jadi semakin canggih bendanya, semakin gampang rusak?"


"Kurang lebih begitu." William menusuk daging di piringnya pelan. "Teknologi modern terlalu bergantung pada jaringan yang stabil."


Kemudian mereka makan dengan tenang tanpa membicarakan apa pun lagi. Ashilde masih pendiam seperti sebelumnya.

Lihat selengkapnya