Diputuskanlah bahwa William dan Ashilde akan menemani perjalanan Elliot dan Hugo ke Reruntuhan Kota London.
Perjalanan panjang itu akan dimulai pada petang hari ini. Menunggu Gregory selesai dengan mobil tuanya, mengumpulkan bekal makanan dan menunggu Hugo bangun.
William mempelajari peta tersebut, duduk diam di sofa ruang tamu tanpa mengatakan apa pun, makanan yang dihidangkan Conall di depannya pun belum tersentuh sama sekali.
Ashilde tertidur di pangkuan kakaknya. Ia mungkin sedang mengumpulkan energi untuk perjalanan jauh pertamanya.
Arthur pergi ke bawah untuk membersihkan senjata-senjatanya. Sedangkan Elliot pergi keluar dengan Bean dan Conall untuk menambah bekal makanan dan minuman.
Salah satu pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda delapan belas tahun berdiri di ambang pintu dengan rambut acak-acakan.
William mengalihkan pandangannya dari peta. Pemuda yang baru bangun itu adalah Hugo. Dia juga sedang menatap William dengan mata mengantuknya, terlihat bingung.
"Ah, selamat … siang?" William menyapa dengan canggung.
"Siang?" Hugo membeo.
"Em, ini mungkin sudah pukul satu siang." William kembali menatap petanya. Memandangi wajah Hugo terlalu lama membuatnya tidak nyaman.
"Oh, berarti aku memang bangun siang."
William berdeham, Bukankah itu sudah jelas?
"Omong-omong, kau siapa?" Hugo berjalan mendekat, dan mengambil posisi duduk di depan William. Ia langsung menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa, terlihat jelas bahwa ia sangat malas bahkan untuk duduk tegak.
"…. William."
"Oh …, baiklah." Hugo menggaruk tengkuknya sambil mengalihkan pandangan.
"…."
"Kau tidak mau menanyakan namaku?"
"Namamu?" William mengernyitkan dahi. "Siapa namamu?"
Hugo kembali memejamkan matanya, kepalanya terjatuh ke samping. "Hugo."
"…."
Fuuh. William hanya bisa menghela napas panjang. Ternyata ia tidak bisa mengobrol dengan Hugo meskipun mereka akan menjadi teman seperjalanan.
Suasana senyal itu sungguh membuat William tidak nyaman. Hugo memang memejamkan matanya, tapi ia jelas terjaga. Terus diam hanya membuat hubungan mereka sulit dekat.
"Aku ingin tahu kenapa kau sangat suka tidur," ucap William. Ia masih ingin mencoba mengakrabkan diri dengan Hugo.
"Karena tidur tidak merepotkan." Hugo menjawab singkat.
William tidak membuka mulut lagi. Situasi ini entah kenapa rasanya benar-benar canggung.
Beruntungnya, Elliot dan kedua anak itu kembali dalam waktu cepat. Mereka membawa bungkusan makanan yang cukup banyak.
"Wahh, Hugo sudah bangun." Elliot tersenyum lebar.
Hugo membuka matanya. "Kau lama sekali."
"Hahaha, maklumkan saja. Aku membeli lebih banyak makanan karena kita kedatangan anggota baru."
Hugo menatap Elliot dengan wajah ketus. "Kau benar-benar akan membawa mereka?"
Elliot berhenti bergerak, matanya memandang Hugo dengan penuh tanya. "Eh? Apa aku belum mengatakannya padamu?"
Hugo mendengus kasar. "Perjalanan kita sudah merepotkan tanpa anggota baru."
Elliot hanya bisa tersenyum sambil menata bekal ke dalam ransel. "Kau tidak boleh begitu, Hugo."
William mengamati percakapan mereka. Ia melihat dengan jelas kalau Hugo marah karena dirinya tiba-tiba bergabung dalam kelompok kecilnya.