Rombongan mereka menggelar kain besar sebagai alas untuk tidur. Elliot juga membagikan selembar selimut untuk masing-masing orang. Gregory tidur dengan cepat. Hugo bahkan sudah mendengkur lebih dulu. Elliot tertidur dengan tenang setelah menyuruh William segera tidur.
"Aku akan melihat-lihat sebentar lagi." William berjalan menjauh dari rombongan untuk mengamati mall itu lebih jauh.
Ashilde duduk di tempat tidurnya, selimutnya menutupi kaki hingga paha. Ia menoleh ke samping, kakaknya berdiri tiga meter di sampingnya, menatap kosong ke arah lantai tiga.
"Kakak. Kalau tidak segera tidur, pagi akan datang lebih lama." Ashilde menegurnya.
William menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Aku akan tidur sebentar lagi, Ash. Lagipula, bukankah lebih baik kalau ada yang berjaga?"
Ashilde diam, ia menekuk lutut dan memeluk kakinya sendiri, matanya lurus ke depan, eskalator mati menuju lantai satu.
Mobil mereka tidak terlihat karena gelap, Ashilde menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh. "Aku tidak bisa tidur. Rasanya sangat dingin."
"Pakai saja selimutku, Ash," ucap William.
"Kakak bagaimana?"
"Aku akan mengambilnya kalau kau sudah tidur." William tertawa.
Ashilde merasa tenang setelah mendengarnya, ia memakai selimut William dan membaringkan tubuhnya.
Suasana semakin senyap. Derik serangga malam mulai terdengar. William terus menjelajah setiap sudut lantai dua pusat perbelanjaan besar itu.
Tak merasa puas, ia naik ke lantai tiga yang lengang dan gelap. Toko barang elektronik yang barang-barangnya sudah berdebu, berkarat, rusak dan mati menjadi pemandangan pertamanya.
Ia mengarahkan senter ke dinding kaca di salah satu sisi lantai tiga. Hampir sebagian besar sudah pecah dan hancur berserakan.
Ia harus berjalan sambil mengarahkan senternya ke lantai untuk menghindari remah kecil pecahan kaca tersebut.
Di lantai ini pun tak luput dari bekas pertarungan, bercak darah yang sudah kering menghitam, barang-barang lain yang berserakan dan reruntuhan dinding yang hancur terkena pukulan atau hantaman benda yang lebih keras.
Beberapa toko tampak kosong, seperti toko pakaian, makanan, hingga alas kaki. Itu adalah hal yang wajar mengingat pusat perbelanjaan ini sudah terbengkalai sangat lama. Ada banyak orang yang memilih tempat ini untuk singgah jauh sebelum mereka tiba di sini.
William memicingkan mata sambil menyinari salah satu pilar besar dengan senternya. Beberapa bekas tembakan terlihat melubangi pilar, bahkan proyektilnya masih tertancap dalamnya.
William meyentuh retakan itu, proyektil yang menancap di sana cukup menarik perhatiannya. Ini tidak hancur meski pilarnya sangat kuat.
Pilar itu sangat besar, saking besarnya, butuh tangan dua orang dewasa untuk memeluknya.
Ia mencoba berjalan lebih jauh. Pusat perbelanjaan ini seharusnya terdiri dari delapan lantai, tapi lantai bawah tanahnya tidak diketahui.
Lantai empat dan seterusnya terlalu jauh untuk terus dijelajahi, William tahu untuk tidak meninggalkan rombongannya lebih lama.
Ia memutuskan untuk turun ke lantai dua dan tidur bersama yang lainnya. Setidaknya, ia tahu bahwa Elliot juga dapat dipercaya untuk memilih tempat pemberhentian yang aman untuk sekadar tidur semalam.
*
*
*
William membuka matanya perlahan, sosok yang ia lihat pertama kali adalah Elliot. Pria itu tersenyum hangat. "Bangun, William. Kita akan segera melanjutkan perjalanan."
William beringsut duduk, ia menatap dua helai selimut yang menutupi tubuhnya. Pantas saja tidurnya nyenyak, ternyata sehangat ini.
Ia menoleh ke kiri-kanan mencari keberadaan Ashilde. Tapi hanya menemukan Hugo yang masih tidur terlentang dengan nyaman dan Elliot yang sibuk membangunkannya.
"Adikmu yang bangun paling awal, loh. Dia bahkan membangunkanku." Elliot menjawab ekspresi wajah William yang mencari-cari keberadaan adiknya. "Sekarang dia sedang membantu Gregory memasukkan perbekalan kita ke mobil.