The Seven Holes

xiao chuhe
Chapter #18

Para Pemburu Gelap

Gregory dan Elliot mengeluarkan pistol dan keluar dari mobil dengan tatapan tajam penuh waspada. William, Ashilde, bahkan Hugo pun turun menyusul mereka.


Mereka berbaris di tengah jalan dengan wajah-wajah serius. Di depan sana, ada beberapa tubuh manusia tergeletak kaku.


Jauh di depan sana, itu bukan lagi beberapa tubuh, ada lebih dari dua puluh mayat tergeletak begitu saja di antara reruntuhan gedung, senjata api yang hancur, selongsong peluru berserakan, bahkan senjata tajam seperti pisau dan pedang, tongkat besi yang bengkok, tersebar di antara mayat-mayat itu.


Ashilde mencengkeram ujung mantel William, wajahnya terlihat tegang dan matanya berembun, ia menahan rasa takutnya dengan menelan ludah susah payah.


William meliriknya, lalu menggenggam tangannya dengan kuat. "Tidak apa, Ash. Kau hanya perlu memejamkan mata saja kalau tidak ingin melihatnya."


Ashilde termangu, ia menatap kakaknya dan terus diam, lalu perlahan, ia menutup matanya.


"Gawat …, jalan ini pernah menjadi lokasi pertarungan Para Pemburu Gelap dengan kelompok yang sedang migrasi." Gregory menghela napas berat. Sepertinya ini adalah masalah serius.


Elliot maju memeriksa salah satu mayat yang tergeletak paling dekat darinya. Ia berjongkok, memeriksa nadi di lehernya, warna kulitnya, aromanya, bola mata, hingga luka-lukanya.


"Hmm …, kurasa pertarungannya baru terjadi baru-baru ini, paling lama mungkin hanya tiga puluh menit yang lalu." Elliot menjelaskan hasil observasinya.


"Jadi mayatnya masih baru?" tanya Gregory.


"Iya, lukanya juga baru, darahnya masih merah meski sudah sedikit menggumpal." Elliot menunjuk lengan mayat tersebut.


"Melihat dari kondisi mayatnya yang utuh, tampaknya lawan mereka hanya Pemburu Malam biasa." Hugo mendengus. "Sia-sia saja aku khawatir, ternyata bukan siapa-siapa." Hugo meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, kembali berjalan ke mobil.


Gregory menghela napas. "Meski begitu, akan merepotkan kalau kita bertemu mereka. Itu sangat menghambat perjalanan."


"Tinggal memutar saja, tidak merepotkan." Hugo menyahut sambil mengangkat satu tangannya. Ia membuka pintu belakang—lupa kalau sebenarnya ia selalu duduk di depan


Elliot melihatnya yang segera kembali ke dalam mobil. "Kurasa Hugo benar. Lebih baik menghindari masalah dengan memutar."


"Masalah yang sebenarnya adalah, tidak ada jalur lain menuju stasiun selain harus melewati jalan ini, Elliot. Lagipula kita tidak tahu Pemburu Gelap itu ada di depan sana atau justru di jalan yang sudah kita lalui sebelumnya." Gregory melangkah ke depan.


"Kita tidak punya pilihan selain membersihkan mayat-mayat ini dan melanjutkan perjalanan seperti rencana awal." Pria itu memikul satu tubuh di pundaknya dan membaringkannya di tepi jalan.


William mengamati percakapan mereka. "Apakah Pemburu Gelap adalah kelompok yang sangat berbahaya?"


Elliot menatap William, tersenyum. "Tidak juga. Setidaknya bagi kami." Ia membantu Gregory mengangkut mayat-mayat yang menghalangi jalan. Membaringkannya dengan rapi di samping teman-temannya yang lain.


***


"Maaf, sobat. Kami tidak punya waktu untuk mengubur kalian satu-persatu. Jadi terpaksa kalian harus menunggu Petugas Kebersihan datang." Elliot menyatukan kedua tangannya di depan mayat-mayat itu setelah selesai menepikan semuanya.


"Petugas Kebersihan?" William berdiri di samping Elliot setelah selesai membantu.


"Itu adalah para relawan Dunia Bayangan. Mereka mirip dengan petugas keamanan di kota-kota bawah lubang, loh. Membersihkan bekas pertarungan, membersihkan jalan, menyelamatkan orang, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa juga." Elliot menjawab dengan senang hati.


"Hampir setiap reruntuhan kota memiliki petugas kebersihannya sendiri-sendiri, mereka terbentuk begitu saja tanpa organisasi khusus."


"Begitu …." William terlihat lega mendengarnya. Artinya ada orang yang peduli dengan dunia yang rusak ini. Orang-orang yang mati pun memiliki tempat yang layak.


"Sekarang kita harus segera meninggalkan tempat ini." Gregory segera menyalakan mesinnya setelah memastikan teman-temannya sudah kembali ke tempat duduk masing-masing.

Lihat selengkapnya