BANGG!!!
Ashilde mendaratkan kakinya di jalan, debu mengepul dari pijakannya. Ia baru saja menembakkan Crusher-nya ke atas.
Sepersekian detik kemudian, atap gedung yang diincar Ashilde hancur dan reruntuhannya menghujani jalanan.
William langsung melindungi kepala Ashilde dari reruntuhan itu. "Ash, jangan sembarang menembak, kau membahayakan dirimu sendiri." Ia mengomel karena khawatir.
Ashilde mengerutkan dahi mendengar kakaknya bicara. Ia mendorong tubuh William menjauh dengan wajah ketus. "Ada orang di atas sana. Aku mengincar senapan laras panjang yang dibawanya. Tapi dia melarikan diri sangat cepat." Ia tidak terima dianggap menembak sembarangan.
William diam dengan wajah tegang. Bagaimana mungkin adiknya bisa langsung mengetahui ada seseorang yang mengincar mereka dari atap gedung? Gedung itu bahkan tingginya sekitar 12 lantai.
Dalam keadaan duduk di dalam kendaraan yang melaju cepat, tidak mungkin ada orang yang bisa melihat keberadaan penembak jitu itu, bukan?
"Gadis itu tidak salah." Hugo melipat lengan di depan dada, ia sudah keluar dari mobil tepat setelah Gregory menghentikan mobil.
"Kalau dia tidak menembak duluan, sudah pasti kita yang duluan ditembak." Hugo mendengus. "Pemburu Gelap sialan itu …, merepotkan saja."
Elliot menyisir rambutnya ke belakang. Ia mendongak dengan mata menyipit, menatap langit yang jauh lebih terang dari biasanya. Karena tanpa awan mendung di atas sana, matahari pasti bersinar terik di atas kepala.
"Ada berapa orang?" tanya Gregory, dia berjalan ke bagasi mobil. Lalu menurunkan sebilah kapak besar yang mematikan.
Hugo mendengus lagi sebelum menjawab. "Empat belas orang. Satu orang penembak jitu bersembunyi di atas gedung 12 lantai. Tapi sekarang sudah melarikan diri. Sisanya bersembunyi di balik reruntuhan."
Elliot terkekeh. "Apakah mereka tidak akan keluar? Biasanya mereka beraksi setelah pengemudi kita tertembak, kan? Syukurlah, Ashilde menyelamatkan nyawa Gregory."
Ashilde memalingkan wajah. Ia menyimpan Crusher-nya. William diam, mengamati adiknya yang tampaknya masih marah padanya sejak pagi, ditambah kejadian saat ini.
"Nah, kita hanya perlu mengalahkan mereka saja kan?" Elliot mengeluarkan sebilah belati dari pinggangnya.
William mengangguk. Ia bersiap untuk menghadapi musuh pertamanya. Menajamkan pendengaran dan penglihatan.
Ashilde terlihat tegang, Crusher-nya kembali digenggam erat meski tangannya sedikit gemetar.
"Haahh …." Terdengar suara berat dari sebuah lorong gedung yang hancur separuh. Seorang pria bertubuh besar dengan palu besi besar di pundaknya berjalan mendekat.
Saat kakinya menapak tanah, suara bongkahan semen yang hancur terdengar jelas. Tingginya mencapai dua meter dengan tubuh besar berotot, kulit coklat gelap dan kepala pelontos.
Ashilde menelan ludah. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Entah kenapa ia merasa tak yakin bisa menghadapi orang sebesar itu dengan tubuh kecilnya, walaupun di tangannya tergenggam pistol super canggih anti EM.
"Kalian lihat, kan? Mereka membawa banyak senjata bagus dan barang-barang bagus. Bunuh dan dapatkan senjatanya!" Pria besar itu berseru. Suaranya sangat berat, seolah bisa merobek gumpalan di langit.
Setelah ia menyerukan kalimat itu, dua belas orang pria melompat keluar dari tempat persembunyian mereka. Semuanya adalah orang berkulit gelap, memakai kaos oblong seadanya dan celana pendek yang menjijikkan.
Masing-masing dari mereka membawa senjata yang berbahaya, sebilah pedang, belati, pistol, hingga golok dengan ujung melengkung seperti paruh burung dan cabang panjang meruncing seperti ujung pedang.
Gregory mengayunkan kapaknya. Seorang Pemburu Gelap yang membawa pistol sebagai senjata melompat ke arahnya dari jarak paling dekat.
Pria bertubuh besar tersebut berdiri di depan Elliot yang berdiri tenang dengan senyum mematikan di bibirnya.
Ia mengayunkan palu besinya. Hanya butuh sepersekian detik hingga benda super berat itu menghantam telak kepala Elliot.
Hugo lebih dulu menahan lengan pria besar itu dengan kirinya. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang, tapi ia berhasil menghentikan gerakan brutal si pemimpin pemburu gelap ini.
"Berani sekali kau …, menyerang orang bodoh!" Hugo berteriak kencang dengan penuh amarah. Ia mengarahkan tinjunya ke perut si pria besar.
Suaranya terdengar renyah dan menyakitkan. Pria itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Ia meremas perutnya yang terasa bergolak terkena pukulan kencang Hugo.
Ia menggeram, suara geraman yang mirip binatang buas mengerikan, palunya diayunkan ke depan tanpa arah, kiri, kanan, atas, bawah, Hugo melompat ke sana kemari untuk menghindarinya.
Di sela-sela gerakan rumit yang cepat itu, sesekali ia sempat melayangkan serangan balasan berupa tendangan kaki atau pukulan tangan ke area wajah.
Dalam satu menit yang melelahkan, ia berhasil mengenai lawan sebanyak empat kali.
Elliot mundur perlahan menghindari area pertarungan Hugo. Ia menghela napas berat, tubuhnya mundur satu langkah saat satu orang pengguna pedang bermata dua menyerangnya dari samping.
Elliot menahan pedang itu dengan belatinya, denting kencang yang memekakkan telinga terdengar. "Ah …, aku masih kesal adikku memanggilku orang bodoh. Kau pantas kujadikan pelampiasan." Elliot mengarahkan serangannya pada pengguna pedang tersebut.
Sayang sekali, musuhnya bertubuh lentur dan mudah sekali menghindari tebasannya.
Sebaliknya, ia kerepotan karena gerakan orang tersebut sangat cepat. Pedangnya mengarah ke mana pun ia bergerak. Belum lagi, bertambah dua orang musuh lagi yang harus ia lawan.
Dua lawa satu. Elliot masih menikmati pertarungan itu meski terasa tidak adil baginya untuk melawan tiga pengguna pedang panjang hanya dengan sebilah belati pendek.
Ia masih menyeringai lebar saat tubuhnya bertolak ke sana kemari untuk menghindari serangan lawan. Hingga salah satu dari lawannya tersungkur jatuh dan terluka di kaki.