DOR!
William membeku di tempat. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya menghilang. Pupil matanya menajam seiring letusan tembakan itu menggema memenuhi udara.
Semua orang mematung mendengar suara itu, debu mengepul tebal di sekitar tempat persembunyian Ashilde, beberapa bongkahan semen kecil terlontar ke udara.
"Ash …." William melangkahkan kakinya, mengabaikan semua luka dan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
Satu langkah, ia hampir terhuyung jatuh, tubuhnya gemetar mencoba kembali berdiri dan melangkah lagi.
Kepulan debu menutupi pandangannya. Mata mulai terasa perih, air mata membasuh pipinya yang berdebu.
"Ashilde …." William bergumam pelan, suaranya hilang tertelan kepanikan.
Di belakangnya, Elliot bergegas membantunya berdiri sambil mengamati tempat yang tertembak itu. "William," panggilnya.
"Aku gagal melindunginya …, tidak, aku menyesal telah membawanya keluar dari Arc," William menggeram, marah pada dirinya sendiri. Adiknya tertembak oleh musuh yang bersembunyi karena kecerobohannya, di hari pertama ia menggenggam pistol itu untuk membunuh orang.
"Jangan putus asa seperti itu. Kurasa adikmu masih hidup." Hugo berjalan mendekat sambil menurunkan teropong yang sejak tadi ia gunakan untuk memantau gedung tempat asal tembakan itu.
"Lihatlah." Tangannya menunjuk gedung itu. "Selain gedung yang hancur tepat saat tembakan itu melesat, aku juga melihat genangan darah mengalir di dindingnya."
"Hah?" William mengangkat kepalanya dengan terkejut.
"Adikmu menembak orang itu kurang dari sepersekian detik setelah tembakan itu mengenainya. Apa kau tidak mendengar kalau suara tembakannya ganda?"
William memandangi pemandangan di depannya dengan raut tak percaya. Ia berlari mendekat ke tempat Ashilde.
"Uhuk!"
Ashilde tiba-tiba keluar dari reruntuhan tempat dirinya bersembunyi. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan menggenggam erat Crusher, moncong senjata itu berasap.
Di lengan kiri bagian atasnya robek, darah mengaliri lengannya hingga membasahi jemarinya, dan menetes ke tanah.
Ia berwajah pucat, gemetar, ketakutan. "Kakak …." Ashilde menatap kakaknya yang sedang berlari ke arahnya.
"Ash! Syukurlah …." William berlari lebih cepat. Ashilde menundukkan kepala, menatap tangannya yang berlumuran darahnya sendiri.
Rasa perih yang amat menyakitkan menyerang lengan kirinya hingga mati rasa. Jantungnya berdegup sangat kencang dan ia merasa tubuhnya bisa ambruk kapan saja.
William tiba di hadapannya. Ia melihat luka di lengan kirinya. Elliot segera memberikan penanganan pertama, membasuh luka itu dengan air bersih dan membalutnya dengan kain bersih.
Ashilde gemetar ketakutan, ia menjatuhkan Crusher di tanah dan memandangnya dengan mata berembun.
"Jadi …, kau menyadarinya juga, Ash?" Hugo bertanya.
Ashilde mengangguk pelan. "Saat aku menyadarinya, dia sudah mengarahkan senjata padaku …. Aku tidak bisa berpikir jernih dan menembak begitu saja …, aku tak berniat membunuh siapa pun."
"Tenanglah, Ash." William memeluknya dengan lembut. "Kau tidak melakukan hal yang salah. Kau melakukannya dengan benar, aku bangga padamu. Kau sangat hebat, kau kuat, kau pintar, kau mampu melebihiku. Ash, jangan pernah menyesali apa yang kau lakukan. Kalau kau tak membunuh orang itu, kaulah yang akan terbunuh, kalau kau terbunuh, kau pikir aku bisa pergi menyelamatkan Ibu sendirian?" William tersenyum hangat saat mengatakannya.
"Dengar, Ash. Kau harus terbiasa dengan segala kekerasan yang ada. Ini terlalu jahat bagimu yang masih kecil. Tapi kita akan berada di dunia yang jahat ini selama bertahun-tahun lamanya. Kadang kita harus melakukan hal yang kejam untuk tetap hidup.”
"Semua orang hanya sibuk memenuhi keinginannya sendiri. Meski itu berarti harus membunuh orang lain dalam perjalanannya memenuhi keinginan tersebut." William mengusap pelan rambut pirang Ashilde.
Ashilde balas memeluknya, melingkarkan lengan di pinggang kakaknya, tangannya meremas pakaian William dengan kuat. "Tanganku …, masih sakit."
William menyeka ujung matanya dengan kasar, ia melepas pelukan itu, dan menyeka air mata dan debu di wajah adiknya. "Bersabarlah, maaf karena sudah membuatmu merasakan sakit itu, Ash. Aku berjanji tidak akan membuatmu kesakitan lagi."
Ashilde diam. Ia melihat pipi William yang tertutup darah kering. Tangannya, bibirnya, pundaknya. Ia mengulurkan tangan, meletakkannya di pundak kanan William.