Di atas sana, matahari terbenam, kegelapan malam menyelimuti setiap sudut reruntuhan kota yang telah mati selama lebih dari tujuh puluh tahun ini.
"William, bangun." Elliot mengguncang bahu William yang tidur bersandar di sebelahnya.
"Ugh …." William menggeram pelan, ia membuka matanya perlahan, lalu memperbaiki posisi duduknya, tubuhnya terasa kaku karena tidur dalam posisi duduk selama berjam-jam.
"Kita sudah tiba di tempat peristirahatan selanjutnya." Elliot membuka pintu mobil.
Di depan, Ashilde juga sudah bangun—mungkin memang tidak tidur lagi sejak ia mendengar pembicaraan Elliot dan Gregory.
Hugo keluar dari mobil, meregangkan otot-ototnya dan menguap lebar. Ia menggaruk tengkuknya sambil berusaha membuka mata lebih lebar. "Kita sudah di mana?"
Gregory membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan perlengkapan bermalam. "Di dalam apartemen kosong."
William menyusul turun, ia melihat Ashilde jongkok di depan mobil sambil memeluk lutut, kepalanya mendongak menatap langit berawan di atas.
Ia berjalan mendekat. "Sudah malam, ya …. Kita tidur begitu nyenyak di mobil sampai-sampai rasanya tidak mengantuk lagi." Ia berdiri di belakang Ashilde, mendongak menatap langit.
"Omong-omong, aku mulai merindukan langit cerah Kota Arc," celetuknya.
Ashilde mengembuskan napas pasrah. "Aku belum menikmati langit biru itu secara serius."
"Kau sudah tinggal di sana selama delapan tahun, kan?"
"Benar, tapi aku tidak pernah mengagumi langit sampai aku keluar dari zona lubang itu." Ashilde menatap William dengan datar. "Kau sebagai kakak juga terlalu tertutup untuk urusan sepenting 'meninggalkan langit cerah' sampai aku baru mengetahuinya sehari sebelum pergi."
"Lagipula, anak kecil mana yang akan berpikir untuk menikmati selembar langit yang dia pikir sampai mana pun akan tetap sama."
William diam. Hanya perdebatan kecil tentang merindukan langit. Tapi ia benar-benar kalah. "Baiklah, aku minta maaf."
Ashilde terus menatap langit gelap. Raut wajahnya yang jarang menunjukkan ekspresi itu tampak menyiratkan kerinduan yang mendalam.
William ikut berjongkok di sampingnya. "Hei, Ash. Apakah kau merindukan kehidupan sekolahmu?"
Kepala Ashilde tertunduk, ia menatap tanah beraspal yang berdebu tebal di depannya. Lampu mobil Gregory menyinarinya.
"Aku …, merindukan kehidupan sekolahku tidak, ya?" Ashilde bertanya balik.
William terdiam, ekspresi hangatnya pudar begitu mendengar pertanyaan itu dari mulut Ashilde. "Apa maksud pertanyaan itu, Ashilde?"
Keduanya kemudian saling menatap.
"Menurut Kakak, merindukan itu seperti apa?"
William tertegun, tidak menyangka dengan pertanyaan yang akan keluar dari mulut adiknya.
"Seperti apa? Merindukan adalah momen ketika kamu ingin melihat atau melakukan sesuatu yang pernah kau lihat atau pernah kau lakukan di masa lalu."
"Sesuatu yang benar-benar berkesan bagimu sampai kau tidak akan melupakannya dan terus ingin kau ulang. Begitulah merindukan, Ash."
William mengulas senyum tipis. "Sekarang, aku ingin bertanya lagi, di dalam ingatanmu selama tinggal di Arc, apakah ada sesuatu yang ingin kau lihat atau ingin kau lakukan lagi?"
Ashilde diam. Matanya menatap sejauh mata memandang. Meski hanya ada kegelapan, tatapannya seperti menembus kegelapan itu untuk tiba pada momen yang ia rindukan.
"Aku ingin memakan bekal buatan Kakak lagi," ucapnya setelah sekian lama berpikir.
William termenung, ia menatap Ashilde dengan raut tak percaya. "Ash …."
"Aku ingin pergi ke taman hiburan itu lagi. Tapi kalau memang akan ada yang kedua kali, aku berharap ketika pulang nanti kita tidak pergi ke rumah produksi untuk meminta Crusher lagi."
William membeku sesaat. Kenangan hari itu muncul kembali. Hari saat Ashilde pertama kali meminta sesuatu darinya.
Taman hiburan yang pertama kali ia datangi dalam delapan belas tahun hidupnya sebagai anak laki-laki normal …. Lalu rumah produksi, bantuan yang ia inginkan dari Tuan Direktur yang menjadi wali mereka.
"…."
".... Astaga."
Ia menutupi wajahnya dengan satu tangan lalu tertawa renyah sampai kedua bahunya berguncang.
Ia menyeka ujung mata di akhir tawanya. "Ayolah, Ash. Jadi kau ingin pergi ke taman hiburan itu dan kembali ke rumah lalu menceritakan dengan gembira betapa serunya liburan kita?"
Ashilde mengangguk. "Jangan lupa soal bekal buatan Kakak."