"Hoaaaemm." Hugo menguap lebar.
Dengan matanya yang terbuka separuh, ia melirik ke sekelilingnya dengan malas. "Ah …, aku lelah sekali," dan mengeluh.
Gregory menepuk dahi. "Kau bahkan tidak berjalan sama sekali, Bodoh." Sambil menatap kaki Hugo yang melayang, dan tubuhnya yang berada di punggung Elliot.
William menggelengkan kepalanya. "Kau tidak lelah, Elliot? Kenapa tidak biarkan dia duduk di mobil saja?"
Elliot tertawa. "Kalau duduk di mobil, bukankah Gregory akan semakin sering marah-marah? Menyeret-nyeret mobil itu sudah cukup membuat suasana hatinya buruk. Apalagi sampai membiarkan Hugo duduk di dalamnya."
William terkekeh pelan.
Tim ini sangat aneh. Seorang pemuda yang terampil dalam banyak hal termasuk masalah mesin tapi sangat pemarah, pria paruh baya alias seorang paman yang lembut dan murah senyum tapi teknik bertarungnya mematikan, remaja malas yang hanya suka tidur tapi memiliki kemampuan fisik setara monster …, semuanya adalah karakteristik manusia yang baru pertama kali William lihat.
Ah …, mari kita tambahkan William si remaja yang observatif dan pemikir, dan Ashilde si anak perempuan pendiam, tim ini benar-benar aneh kalau dilihat dari luar.
"Omong-omong, kapan kita akan tiba di permukiman terdekat?" William menatap Gregory yang bermandikan keringat, ia berjalan sambil menarik sebuah mobil, namun raut wajah santainya itu jelas tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.
Gregory mendengus. "Bersabar, Bodoh."
Elliot tersenyum menyipit. "Harusnya kau tidak menanyainya di situasi seperti ini, William."
"Eh …." William segera kembali menatap jalan berdebu di depannya.
Setidaknya, mereka sudah berjalan selama dua jam sejak mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mati total.
Itu terjadi setengah jam setelah melanjutkan perjalanan dari apartemen tempat peristirahatan malam sebelumnya.
Gregory menolak saat Elliot menawarkan untuk menggantikannya menarik mobil. Meski begitu, ia marah karena Hugo terlihat tidak peduli dengan kesulitan yang dialaminya.
Untungnya, Elliot mengetahui permukiman yang lumayan besar di dekat jalur itu. Ia menyarankan untuk mampir ke sana dan memperbaiki mobil dengan peralatan yang mereka punya.
Lalu Gregory menyetujuinya dengan mudah.
Elliot memiliki pengalaman yang jauh lebih luas darinya, ia memiliki banyak teman dan mengenal berbagai suku, bahkan mengetahui banyak lokasi permukiman di sepanjang perjalanannya menuju London.
Ashilde tampak tenang sejak meninggalkan lokasi perhentian terakhir. Ia berjalan di samping William sambil menggandeng jari telunjuknya tanpa banyak bicara.
"Kau haus, Ash?" tanya William yang sesekali melirik adiknya.
Ashilde menggeleng. "Kapan kita akan sampai?"
Semua orang menatapnya, senyap. Gregory memasang wajah kesal tanpa menjawab dengan umpatan seperti yang dilakukannya pada William.
Elliot tertawa renyah. Ia tidak menertawai situasi canggung itu, tapi melihat Ashilde yang tetap memasang wajah imut polos tanpa ekspresi yang membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan.