"Yo, Elliot! Tak disangka kita bisa bertemu secepat ini." Seorang pria tua dengan janggut dan kumis yang mencolok—berwarna oranye—menyapa Elliot dengan girang.
"Shawn, bagaimana kabarmu? Sepuluh tahun tidak bertemu, kau masih terlihat sama." Elliot menyalami pria bernama Shawn itu dengan ramah seolah teman lama.
Padahal, usia mereka bisa dibilang terpaut cukup jauh. Shawn itu terlihat seperti pria tua berusia lima puluh tahunan. Sedangkan Elliot baru berusia tiga puluh tahunan, jaraknya cukup jauh untuk dikatakan teman.
Tapi William memikirkannya lagi. Di dunia luar ini, manusia sepertinya menganggap satu sama lain itu sama rata, tidak ada yang lebih tua dan lebih muda.
Anak-anak bahkan memanggil yang lebih tua hanya dengan namanya saja.
Mereka cenderung menghormati seseorang bergantung pada sebesar apa pengalamannya bertahan hidup, sebanyak apa kehilangan yang sudah mereka alami, dan sehebat mereka apa dalam melindungi kelompoknya.
"Hahaha, Elliot. Padahal dulu kau hanya anak berusia sepuluh tahun yang canggung menggendong adik kecilmu. Astaga, adikmu sudah sebesar ini." Shawn mendongak menatap Hugo yang lebih tinggi dan besar dari dirinya.
"Shawn, aku Hugo yang selalu kau ejek pendek dan cengeng itu."
Shawn tertawa terbahak-bahak. "Siapa sangka sekarang begitu tinggi dan gagah. Bahkan kau terlihat tampan seperti ayahmu."
Elliot tersenyum. "Shawn, aku datang untuk menginap beberapa malam. Kami melakukan perjalanan menuju stasiun dari permukiman kami, tapi mobil kami rusak."
"Boleh kami menumpang beristirahat sekalian meminjam beberapa peralatan untuk memperbaiki mobil kami?"
Shawn semakin tertawa. "Wah, kau bahkan sudah membentuk party-mu sendiri, ya. Silakan, silakan, masuklah dan anggap saja permukiman sendiri. Kebetulan aku pemimpinnya. Kau bebas makan apa pun dan meminjam alat apa pun."
Elliot tersenyum. "Shawn, aku sudah dewasa sekarang. Bahkan aku yang paling tua di antara yang lainnya."
"Hahaha!" Lagi-lagi Shawn tertawa. "Benarkah? Kau memimpin party ini? Betapa kerennya. Baiklah, Elliot, ayo kita masuk dulu dan lanjutkan obrolan kita di rumahku. Mobilnya tempatkan saja di bengkel, kau bisa menggunakan alat apa pun yang ada di sana. Bebas."
Shawn berbalik ke belakang. "Kiki! Kemarilah, tolong bersihkan lantai empat di gedungku, aku kedatangan tamu-tamu penting."
Mereka akhirnya berjalan memasuki permukiman itu. Gregory membawa mobilnya ke bengkel yang ditunjuk Shawn, lalu dibiarkan di sana karena ia bilang ingin makan dan minum dulu sebelum mulai memperbaiki.