The Shadow Student

Tresnawati
Chapter #1

Bab 1: Lorong Sepi di Pukul Empat

Bab 1: Lorong Sepi di Pukul Empat

Sore itu, SMA Pelita seharusnya sudah mati. Hanya ada sisa-sisa debu yang menari lambat di bawah sorot matahari jingga yang masuk lewat celah ventilasi. Suara bising knalpot motor anak-anak yang nongkrong di depan gerbang pun sudah mulai menjauh, menyisakan sunyi yang terasa sedikit menekan di koridor lantai dua. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kayu tua menjadi teman setia Aluna setiap kali ia harus pulang paling terakhir.

Aluna merapatkan jaket lusuhnya yang warnanya sudah mulai pudar, mencoba menghalau hawa dingin yang tiba-tiba merayap. Di tangannya, selembar kertas berisi coretan rumus kalkulus ia genggam erat sampai ujungnya sedikit lecek. Dia baru saja menyelesaikan "pekerjaan tambahan" di perpustakaan—sebuah tugas akhir semester milik orang lain yang bahkan tidak akan pernah tahu cara menghitung integral sederhana.

Ting!

Suara notifikasi dari kantong jaketnya terdengar nyaring. Bukan bunyi smartphone layar sentuh yang sedang tren, melainkan bunyi polyphonic nyaring khas HP senter yang layarnya sudah retak di pojok kanan. Aluna melirik layar kecil monokrom itu.

Siska (Kelas XI-1): "Udah beres? Taruh di bawah meja gue. Jangan sampai ada yang liat. Duitnya gue transfer besok kalau nilai gue keluar."

Aluna menghela napas panjang. Kalimat itu terasa seperti perintah majikan kepada pelayannya. "Besok," katanya. Itu berarti Aluna harus menahan lapar sehari lagi karena uang di sakunya saat ini hanya cukup untuk ongkos angkot pulang ke rumah di pinggiran kota. Baginya, sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tapi medan tempur untuk menyambung nyawa.

Ia mempercepat langkahnya, ingin segera menyelipkan kertas itu ke kelas XI-1 dan pulang sebelum hari benar-benar gelap. Namun, langkah kakinya mendadak melambat saat melewati Ruang Kesenian yang berada di ujung koridor.

Seharusnya ruangan itu sudah dikunci rapat sejak pukul dua siang. Tapi sore ini, pintunya sedikit renggang. Dan yang lebih aneh lagi, Aluna mendengar sesuatu. Sayup-sayup suara musik dari speaker yang berdentum rendah. Ritmenya cepat, penuh energi, dan sangat familiar di telinga remaja tahun 2013.

Lihat selengkapnya