The Shadow Student

Aksara Tresna
Chapter #3

Bab 3: Ketangkap Basah!

Bab 3: Ketangkap Basah!

"Gue nggak telat! Lo-nya aja yang kecepetan ngitung!" Arka berseru, suaranya bergema di antara dinding kayu ruang kesenian yang mulai gelap. Napasnya memburu, keringat bercucuran hingga membuat seragam putihnya nyaris transparan.

Aluna memutar bola matanya jengah. Ia duduk bersila di atas lantai semen, mengamati setiap gerak-gerik sang Ketua OSIS dengan mata setajam elang. "Musik itu punya jiwa, Kak. Bukan kayak jadwal piket OSIS yang bisa Kakak atur sesuka hati. Kalau ketukannya bilang satu, ya kaki Kakak jangan sudah di dua."

Arka hendak membalas dengan omelan panjang soal disiplin, tapi kalimatnya tertelan kembali. Dia tahu anak kelas sepuluh di depannya ini benar. Aluna punya insting yang menakutkan soal ritme, seolah dia bisa membaca partitur musik hanya dengan mendengarnya sekali.

"Ulangi dari bagian reff," perintah Aluna tegas. Di ruangan ini, posisi mereka seolah berbalik; Aluna adalah sutradaranya, dan Arka adalah murid yang harus patuh.

Arka mendengus, namun ia kembali mengambil posisi. Jarinya bersiap menekan tombol play di ponselnya yang terhubung ke speaker butut. Namun, tepat sebelum musik berdentum, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong luar.

Srak... srak... srak...

Bunyi kunci-kunci yang saling beradu terdengar nyaring. Itu suara Pak Satpam yang sedang patroli sore!

Wajah Arka mendadak pucat pasi. "Gawat, Pak kumis!" bisiknya panik. Kalau Pak Satpam masuk dan melihat Ketua OSIS sedang melakukan gerakan dance K-Pop sambil berkeringat bersama seorang siswi kelas sepuluh, tamatlah riwayatnya.

"Sembunyi!" Arka menyambar lengan Aluna, menariknya dengan kasar ke balik lemari kostum yang besar di sudut ruangan.

"Aduh, Kak—"

"Sstt!" Arka membekap mulut Aluna dengan telapak tangannya.

Ruangan itu mendadak sunyi, kecuali suara detak jantung mereka yang beradu. Di balik lemari yang sempit dan berdebu, tubuh mereka terjepit sangat dekat. Aluna bisa merasakan hawa panas dari tubuh Arka yang baru saja latihan, juga aroma parfum maskulin yang bercampur keringat. Aluna membeku, matanya membelalak menatap dada Arka yang naik-turun tepat di depan wajahnya.

Pintu ruang kesenian terbuka dengan bunyi derit yang memilukan. Senter Pak Satpam menyisir ruangan, cahayanya menyambar kaki meja dan tumpukan kardus.

"Siapa di dalam?" suara berat Pak Satpam terdengar curiga.

Arka menahan napas, tangannya semakin erat membekap Aluna. Sialnya, di saat yang paling tidak tepat, ponsel Aluna di saku jaketnya mendadak bergetar hebat.

Bzzzt... bzzzt...

Lihat selengkapnya