Bab 4: Si Ketua OSIS yang Ternyata Alay
Dunia Aluna berubah menjadi jadwal yang sangat padat. Pagi sampai siang dia harus menjadi "murid hantu" yang tak terlihat, sorenya dia harus menjadi juri koreografi untuk cowok paling populer di sekolah.
Hari ini, tepat pukul empat, Aluna sudah berdiri di depan pintu ruang kesenian. Begitu ia masuk, ia disambut oleh pemandangan yang membuatnya ingin segera balik kanan dan pura-pura tidak kenal.
Arka tidak sedang latihan dance. Cowok itu sedang berdiri di depan cermin kecil yang ia bawa sendiri, sambil memegang sebuah ponsel yang cukup canggih untuk ukuran tahun 2013—sebuah BlackBerry Dakota—dan berpose miring.
"Kak? Lagi ngapain?" tanya Aluna polos.
Arka tersentak, hampir menjatuhkan ponsel mahalnya. Ia segera berdehem, mencoba mengembalikan wibawa Ketua OSIS-nya yang baru saja runtuh. "Eh, lo udah dateng. Ini... gue cuma lagi ngecek... sudut pandang kamera. Iya, sudut pandang."
Aluna mendekat, matanya menangkap layar HP Arka yang masih menyala. Di sana terlihat sebuah aplikasi media sosial yang sedang naik daun: Twitter. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Arka sedang menulis tweet dengan gaya bahasa yang... sangat ajaib.
Aluna mendekat, matanya menangkap layar HP Arka yang masih menyala. Di sana terlihat profil Twitter dengan nama akun yang sangat asing: @Prince_of_Moonlight. Foto profilnya bukan wajah Arka, melainkan gambar siluet orang yang sedang menengadah ke langit.
"Kak? Ini akun Kakak?" tanya Aluna heran.
"Sstt! Pelan-pelan dong suaranya," sergah Arka panik. "Ini akun rahasia gue. Pengikutnya udah seribu, rata-rata anak luar kota yang nggak tahu siapa gue sebenarnya. Di sini, gue bebas jadi diri sendiri tanpa harus jaga imej Ketua OSIS yang kaku."