# Bab 5: Ancaman di Balik Jas OSIS
Debu-debu halus menari di bawah sorot lampu gantung ruang kesenian yang mulai meredup. Ruangan itu biasanya menjadi tempat pelarian yang damai bagi Aluna, sebuah suaka di mana aroma kayu tua dan tumpukan kanvas kosong memberinya ketenangan. Namun sore ini, atmosfer di sana terasa mencekam, seolah oksigen telah dipompa keluar secara paksa.
Arka berdiri tegak di tengah ruangan. Jas OSIS berwarna biru tua yang ia kenakan tampak sangat kaku, tanpa satu pun kerutan, sewarna dengan ekspresi wajahnya yang dingin dan tak tersentuh. Di dadanya, pin logam bertuliskan **‘Kandidat Ketua OSIS’** berkilat tertimpa cahaya, sebuah pengingat visual yang tajam bahwa saat ini dia sedang berada di puncak pengawasan seluruh sekolah. Dia bukan lagi sekadar kakak kelas yang butuh bantuan gerakan tari; dia adalah pemegang otoritas.
Aluna baru saja melangkah masuk saat suasana berat itu menyambutnya. Langkah kakinya yang ragu-ragu terhenti di ambang pintu. Ia segera menyembunyikan tangannya yang sedikit kotor terkena tinta ke balik saku rok, sebuah refleks alami untuk menyembunyikan kekurangan di depan sosok yang tampak begitu "sempurna".
"Tutup pintunya, Aluna," suara Arka terdengar seperti perintah komandan perang. Tidak ada nada ramah, tidak ada sapaan basa-basi. Hanya otoritas murni.
Aluna menurut tanpa suara. Bunyi klik pintu yang tertutup rapat terasa seperti vonis penjara. "Ada apa, Kak? Kita nggak latihan gerakan yang kemarin? Aku sudah pelajari transisinya agar lebih halus."
Arka tidak langsung menjawab. Ia mulai berjalan mengitari Aluna, langkah kakinya yang berat menimbulkan bunyi berderit di lantai kayu yang sudah menua. Gerakannya lambat, seperti predator yang sedang mempelajari mangsanya sebelum menerkam.
"Gue baru aja dapet laporan dari tim sukses kampanye gue," Arka memulai, suaranya bergema rendah di ruangan yang sunyi itu. "Ada siswi kelas sepuluh yang sering kelihatan di area loker kelas sebelas pada jam-jam rawan. Jam di mana sebagian besar murid sudah di kantin atau di lapangan. Dan siswi itu adalah lo."
Aluna merasakan tenggorokannya mendadak kering, seolah ia baru saja menelan segenggam pasir. "Aku... aku cuma mau cari teman, Kak. Teman-teman kelas sebelas banyak yang ikut klub yang sama denganku."