The Shadow Student

Aksara Tresna
Chapter #6

Bab 6: Aluna: Gadis Tanpa Kamera

Bunyi ping! yang nyaring dan beruntun dari BlackBerry Dakota milik Arka membelah kesunyian ruang kesenian. Cahaya biru dari indikator pesan di ponsel itu berkedip-kedip seperti lampu darurat, menuntut perhatian segera. Arka, yang baru saja mencoba melakukan gerakan spinning yang gagal, menggeram kesal. Ia menyambar ponselnya dengan gerakan kasar, jempolnya bergerak lincah di atas trackpad, membalas rentetan pesan dari tim sukses kampanyenya yang tidak tahu waktu.

"Bisa nggak sih, mereka kasih gue napas lima menit aja?" gumam Arka pada dirinya sendiri. Wajahnya tampak kusam di bawah sorot lampu ruangan yang temaram. Garis lelah terlihat jelas di bawah matanya. "Semua orang minta foto kegiatan, minta update status, minta gue kelihatan 'sibuk' di media sosial demi suara pemilih."

Aluna, yang sedari tadi duduk di pojok ruangan beralaskan matras tipis, tidak menyahut. Ia sedang sibuk dengan dunianya sendiri: sebuah buku catatan kusam dan sebatang pulpen yang tintanya sudah hampir habis. Ia sedang menyalin ringkasan materi Biologi kelas XI—tugas Siska yang harus ia setor besok pagi—dengan tulisan tangan yang sangat rapi, hampir menyerupai cetakan mesin.

Arka mendongak, matanya tertuju pada Aluna yang tampak sangat tenang di tengah hiruk-pikuk "tuntutan digital" yang sedang menjeratnya. Pandangan Arka turun ke tangan Aluna, lalu ke arah saku rok gadis itu di mana sebuah benda persegi menonjol kecil.

"Lo... beneran nggak punya HP yang ada kameranya, Lun?" tanya Arka tiba-tiba, suaranya terdengar lebih pelan, seolah rasa penasaran itu sudah lama ia pendam.

Aluna menghentikan gerakan pulpennya. Ia mendongak, menatap Arka dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Tanpa banyak bicara, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel "senter" jadul berwarna hitam. Layarnya monokrom, casingnya baret di sana-sini, dan ada retakan halus yang membentuk jaring laba-laba di sudut layarnya.

"Cuma punya ini, Kak," jawab Aluna pendek. Ia meletakkan ponsel itu di atas lantai semen yang dingin. "Kenapa? Kakak takut aku diam-diam merekam gerakan dance Kakak pakai ini?"

Arka menatap benda itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dunianya—dunia para kandidat Ketua OSIS, anak-anak populer, dan mereka yang punya akun Twitter dengan ribuan pengikut—ponsel adalah perpanjangan dari harga diri. Ponsel adalah alat untuk membuktikan bahwa mereka ada, mereka keren, dan mereka penting. Melihat ponsel Aluna rasanya seperti melihat sisa-sisa peradaban yang sudah lama terlupakan.

"Nggak mungkin juga lo rekam pakai senter itu," gumam Arka, sedikit merasa bodoh atas pertanyaannya sendiri. "Gue cuma heran. Di SMA Pelita, hampir semua anak minimal punya HP berkamera buat eksis. Lo... gimana cara lo bertahan tanpa itu? Lo nggak pengen foto-foto bareng temen pas istirahat? Atau sekadar foto pengumuman di mading biar nggak capek nyatet?"

Lihat selengkapnya