The Shadow Student

Aksara Tresna
Chapter #7

Bab 7: Si Nomor Absen yang Terlupakan

Bab 7: Si Nomor Absen yang Terlupakan

Di SMA Pelita, namamu menentukan kasta. Jika namamu sering disebut di pelantang suara sekolah karena prestasi, kau adalah bangsawan. Jika namamu sering diteriakkan guru karena kenakalan, kau adalah pemberontak. Namun, jika namamu tidak pernah disebut sama sekali—bahkan saat absensi pagi—kau adalah Aluna.

Aluna duduk di barisan paling depan, tepat di bawah hidung guru, namun ia merasa seperti hantu. Namanya, Aluna Tresna, selalu berada di urutan pertama pada buku absen kelas X-3. Namun, setiap kali Pak Hartono, guru Sejarah yang sudah mulai rabun itu, memanggil nama, matanya selalu melompati baris pertama.

"Absen nomor dua, Bambang?"

"Hadir, Pak!"

Aluna hanya bisa menghela napas pelan. Ia sudah hadir sepuluh menit sebelum bel berbunyi, duduk tegak dengan buku yang sudah terbuka di halaman yang benar, namun keberadaannya seolah terserap oleh cat dinding kelas yang kusam. Ia adalah "Si Nomor Absen yang Terlupakan". Baginya, menjadi tidak terlihat adalah mekanisme pertahanan diri yang sempurna untuk menyembunyikan pekerjaannya sebagai joki tugas Siska.

Namun, ketidakhadirannya secara visual di mata orang-orang bukan berarti ia tidak bekerja. Di bawah kolong mejanya, tangan Aluna bergerak lincah. Bukan mencatat pelajaran Sejarah tentang Perang Diponegoro, melainkan sedang merapikan lembar jawaban kalkulus milik Siska.

Brak!

Pintu kelas X-3 terbuka tiba-tiba. Arka berdiri di sana dengan napas sedikit memburu. Ia masih memakai kemeja putih rapi dengan pin kandidat Ketua OSIS yang berkilat. Seluruh kelas mendadak senyap. Para siswi mulai berbisik centil, sementara para siswa menatap iri pada sosok yang dianggap sebagai "Pangeran Sekolah" itu.

"Permisi, Pak Hartono. Saya izin meminjam satu murid untuk membantu mendata logistik kampanye di ruang OSIS," ucap Arka dengan suara baritonnya yang sangat berwibawa.

Pak Hartono melepas kacamatanya. "Oh, Nak Arka. Silakan. Mau panggil siapa? Sekretaris kelas?"

Arka mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Matanya sempat melewati Aluna, lalu kembali lagi. Ia menunjuk tepat ke arah gadis yang sedari tadi dianggap hantu oleh seisi ruangan.

Lihat selengkapnya