Bab 7: Ruang Rahasia Menjadi Milik Berdua
Debu-debu halus menari di udara saat berkas cahaya matahari sore menembus kaca jendela ruang kesenian yang sudah buram. Ruangan ini terletak di ujung koridor paling sunyi di lantai dua SMA Pelita, sebuah tempat yang jarang sekali dikunjungi kecuali untuk menyimpan kursi rusak atau kostum tari yang sudah apak. Namun bagi Arka, ruangan ini adalah benteng pertahanannya. Dan sejak ia mulai berlatih bersama Aluna, ia merasa tidak lagi memegang kunci benteng itu sendirian.
Arka berdiri di tengah ruangan, menatap bayangannya di cermin besar yang permukaannya sudah mulai mengelupas. Di sampingnya, Aluna sedang duduk beralaskan kardus bekas, jemarinya lincah mencatat sesuatu di buku kumalnya. Tidak ada suara selain derit kipas angin tua di langit-langit dan detak jarum jam dinding yang lambat.
"Gue nggak pernah kepikiran kalau ruangan ini bakal jadi... se-aman ini," celetuk Arka, memecah kesunyian.
Aluna mendongak dari buku catatannya. "Aman? Bukannya Kakak selalu takut ketahuan?"
"Justru itu," Arka memutar tubuhnya, menatap Aluna. "Biasanya gue ngerasa diawasi bahkan oleh dinding ruangan ini sendiri. Tapi sejak ada lo, rasa takut itu kayak berkurang. Ada suara pulpen lo yang berisik dan kritik lo yang pedas yang bikin gue ngerasa kalau apa yang gue lakuin ini... nyata. Bukan cuma khayalan gue."
Aluna terdiam, ia merapatkan jaketnya yang sedikit kebesaran untuk menutupi seragamnya yang mulai kusam. "Aku cuma numpang ngerjain tugas, Kak. Lagian, Kakak yang maksa aku ke sini buat jadi 'kaca' supaya gerakan Kakak nggak mirip robot rusak."
Arka terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar lebih rileks daripada biasanya. Ia melempar jas OSIS-nya ke atas tumpukan matras—jas yang biasanya ia perlakukan seperti jubah suci simbol kewibawaan, kini ia biarkan tergeletak begitu saja di lantai yang berdebu. "Lo tahu nggak? Gue selalu takut kalau ada yang nemuin kunci cadangan ruangan ini. Tapi sekarang, gue malah ngerasa tenang karena kunci itu ada di tangan lo."
Aluna menghentikan catatannya. Ia teringat bagaimana awal mula mereka terjebak dalam situasi ini. Awalnya adalah ancaman jabatan, lalu negosiasi, dan sekarang... entah apa namanya. Ruangan ini telah menjadi ruang antara; tempat di mana identitas mereka di luar sana seolah tidak berlaku.