Lagu dari soundtrack drama Korea yang sedang tren musim itu baru saja berhenti. Arka membungkuk, menumpu kedua tangannya di atas lutut sambil mengatur napas yang memburu. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat kemeja putihnya menempel di punggung. Di ruangan yang pengap ini, Arka tampak jauh lebih "hidup" daripada saat ia berdiri di atas podium kelas memberikan pengumuman.
Aluna menyodorkan botol air mineral yang masih segel—salah satu fasilitas yang mulai ia siapkan sejak "kesepakatan meja tua" kemarin. Arka menerimanya, meneguknya hingga separuh, lalu terduduk di atas matras olahraga yang sudah tipis.
"Kak," panggil Aluna pelan. Ia masih duduk di pojokannya yang biasa, memeluk lutut. "Boleh aku tanya satu hal?"
Arka menyeka keringat dengan punggung tangannya. "Tanya aja. Tadi kan kesepakatannya lo boleh tanya apa aja asal nggak di depan umum."
Aluna terdiam sejenak, menatap gerakan debu yang melayang di bawah sinar lampu. "Kenapa harus dance? Maksudku... Kakak itu pinter, calon Ketua OSIS, anak basket juga. Kakak punya banyak pilihan hobi yang lebih 'aman' dan bakal bikin orang makin kagum. Kenapa harus pilih sesuatu yang bikin Kakak ketakutan setengah mati setiap kali ada langkah kaki di koridor?"
Arka terdiam. Ia menatap botol air di tangannya, memutar-mutarnya perlahan. Pertanyaan itu sepertinya menghantam titik yang selama ini ia kunci rapat.
"Karena di sini, gue bisa jadi siapa pun yang gue mau, Lun," jawab Arka akhirnya, suaranya rendah. "Lo liat gue di luar sana? Arka yang harus rapi, Arka yang harus sopan, Arka yang harus punya jawaban buat semua masalah. Di rumah, di sekolah, bahkan di tongkrongan... gue itu kayak naskah yang udah ditulis orang lain. Gue cuma pemerannya."
Arka menoleh ke arah cermin besar yang retak. "Tapi pas gue nari... gue ngerasa gue yang pegang kendali atas tubuh gue sendiri. Setiap gerakan, setiap ketukan, itu gue yang milih. Nggak ada ekspektasi bokap gue, nggak ada tuntutan tim sukses, nggak ada penilaian guru. Cuma ada gue dan musik."
Aluna mendengarkan dengan saksama. Ia tidak menyangka jawabannya akan sedalam itu. "Tapi Kakak bahkan nggak mau tampil. Bukannya tujuan orang menari itu untuk dilihat?"