# Bab 12: Bukan Aku yang Sebar
Ruang Kesenian sore itu terasa lebih dingin dari biasanya, padahal matahari masih memancarkan sisa-sisa panasnya lewat celah ventilasi. Cahaya jingga yang masuk melalui debu-debu yang melayang di udara tampak seperti jeruji penjara yang kasatmata. Tidak ada lagi musik yang mengalun dari speaker butut di pojok ruangan, tidak ada lagi suara decit sepatu di lantai semen yang menandakan semangat latihan, dan tidak ada lagi tawa tipis yang biasanya mencairkan suasana kaku di antara mereka. Ruangan itu kini hanya berisi kesunyian yang mencekam, seolah-olah dinding-dindingnya pun ikut menahan napas.
Aluna berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Napasnya memburu, paru-parunya terasa sesak bukan karena berlari, melainkan karena kecemasan yang menghimpit. Ia telah melanggar perintah tegas Arka dalam pesan singkat tadi pagi. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek: *“Jangan berani-berani muncul di depan gue hari ini.”*
Namun, Aluna tidak bisa hanya diam di kelas, duduk di bangku belakangnya yang terisolasi, sembari mendengarkan bisik-bisik kejam di koridor. Ia melihat bagaimana Arka dipermalukan satu sekolah lewat pesan berantai yang viral sejak jam istirahat pertama. Arka, sang pangeran sekolah yang sempurna, kini dianggap "lemah" dan "menyimpang" hanya karena sebuah hobi yang ia sembunyikan rapat-rapat. Aluna harus bicara. Ia tidak bisa membiarkan satu-satunya hubungan manusiawi yang ia miliki di sekolah ini hancur begitu saja.
Di dalam, Arka sedang duduk di atas meja tua—meja kayu dengan permukaan penuh goresan yang selama beberapa minggu terakhir menjadi saksi bisu kesepakatan rahasia mereka. Tangannya memegang selembar kertas yang sepertinya draf pidato kampanye yang seharusnya ia bacakan besok pagi di lapangan. Namun, kertas itu sudah remuk menjadi bola kertas dalam genggamannya yang memutih. Saat mendengar langkah kaki Aluna, Arka tidak menoleh. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak merosot, seolah memikul beban seluruh gedung sekolah.
"Gue udah bilang jangan ke sini, Lun," suara Arka terdengar dingin, jauh lebih dingin daripada saat pertama kali mereka bertemu di ruang ini. "Lo mau reputasi lo ikut hancur? Atau lo mau liat langsung gimana wujud orang yang gagal?"
Aluna melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, memastikan suara klik kunci menjadi pembatas antara mereka dan dunia luar yang menghakimi. "Aku nggak peduli soal reputasiku, Kak. Aku sudah lama jadi hantu di sini, nggak ada yang bisa hancur dari seseorang yang nggak dianggap ada. Aku cuma mau bilang... bukan aku. Bukan aku yang sebar pesan itu."
Arka tertawa sinis, suara tawanya bergema pahit di ruangan yang kosong itu. Suara itu tidak terdengar seperti tawa, melainkan seperti rintihan yang disamarkan. Ia turun dari meja dan berjalan mendekati Aluna. Langkahnya pelan namun menekan, penuh dengan amarah yang tertahan di balik jas OSIS-nya yang kini tampak kusam. Saat ia berhenti tepat di depan Aluna, ia menunduk, menatap mata gadis itu dengan tatapan yang penuh luka, kekecewaan, dan ketidakpercayaan yang mendalam.