Hujan gerimis mulai membasahi aspal SMA Pelita sore itu, menciptakan aroma tanah basah yang biasanya menenangkan, namun kali ini terasa seperti aroma duka bagi Aluna. Ia berdiri di halte bus depan sekolah, memeluk tas punggungnya yang talinya sudah mulai berumbai. Di dalam tas itu, tersembunyi sebuah amplop cokelat berisi uang hasil joki tugas Siska yang baru saja ia terima di belakang laboratorium. Biasanya, berat amplop itu memberikan sedikit rasa lega di pundaknya, tapi hari ini, uang itu terasa seperti beban ribuan ton yang menariknya jatuh ke bumi.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur pelan keluar dari gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Mobil itu berhenti tepat di depan halte karena lampu merah. Kaca jendela belakang yang gelap perlahan turun secara otomatis, menampakkan sosok Arka yang duduk kaku di dalam sana. Ruangan di dalam mobil itu tampak sejuk, beraroma parfum mahal, dan kedap suara—sangat kontras dengan udara lembap dan bisingnya knalpot angkot di sekitar Aluna.
Aluna terpaku. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Namun, tidak ada kehangatan atau rasa bersalah di mata Arka. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang kemudian beralih begitu saja, seolah Aluna hanyalah bagian dari dekorasi jalanan yang tidak penting dan tidak layak untuk dilirik dua kali. Di samping Arka, samar-samar Aluna melihat sosok wanita cantik dengan riasan tajam yang sedang berbicara dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel—Ibu Arka. Wanita itu tampak murka, dan Arka hanya bisa menunduk, menerima setiap cacian itu sebagai konsekuensi dari hobi rahasianya yang bocor.
Mobil itu kemudian melesat pergi saat lampu berubah hijau, meninggalkan genangan air yang menciprati ujung sepatu kain Aluna yang sudah memudar warnanya. Aluna menatap sisa percikan air di sepatunya.
"Itu bedanya kita, Kak," bisik Aluna pedih, suaranya hilang ditelan deru bus yang mendekat. "Kesalahan Kakak mungkin bikin Kakak malu, tapi Kakak punya mobil mewah buat sembunyi. Kakak punya pengaruh buat nutup mulut orang. Tapi aku? Aku bahkan nggak punya hak buat sekadar membela diri di depan Kakak."
Tamparan realita itu datang bertubi-tubi. Perjalanan pulang dengan bus yang sesak dan panas seolah menjadi pengingat abadi tentang kasta yang ia tempati. Malamnya, Aluna harus menghadapi kenyataan di rumahnya yang sempit di pinggiran gang sempit. Atap dapur bocor lagi karena hujan deras, menciptakan bunyi denting air yang jatuh ke dalam ember plastik, menambah melodi kesedihan di rumah itu. Ibunya sedang batuk-batuk hebat di kamar, sebuah suara yang selalu membuat jantung Aluna mencelos karena takut akan kondisi kesehatan sang ibu yang kian menurun.