Bab 14: Tantangan Gila di Pinggir Lapangan
Matahari siang itu serasa berada tepat di atas kepala, membakar aspal dan lapangan beton SMA Pelita hingga menciptakan bayangan yang tajam. Namun, panas yang menyengat itu tidak sebanding dengan bara yang menjalar di dada Aluna. Di pinggir lapangan basket, kerumunan siswa mulai menyemut, membentuk lingkaran di sekitar Reno dan kawan-kawannya yang sedang merayakan "kemenangan" mereka di dunia maya.
Reno berdiri di tengah dengan angkuh, memamerkan BlackBerry-nya yang terus bergetar menerima notifikasi. Ia tertawa keras, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke tribun penonton di seberang lapangan, tempat Arka duduk sendirian.
"Gue bilang juga apa, pemimpin itu harus punya wibawa! Bukan yang kalau denger lagu Korea langsung gatel pengen goyang pinggul!" teriak Reno, disambut gelak tawa pecah dari tim futsalnya. "Gimana kalau kita ganti nama OSIS jadi sanggar tari aja? Biar pas rapat, mereka bisa breakdance dulu."
Aluna berdiri hanya beberapa meter dari kerumunan itu. Jemarinya meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Di seberang sana, ia melihat Arka. Cowok itu tampak begitu kecil di tengah tribun yang luas. Ia hanya menunduk, menatap lantai semen, dengan tumpukan buku yang tidak ia baca di pangkuannya. Jas OSIS yang biasanya ia pakai dengan bangga kini tampak seperti kain usang yang ingin ia lepaskan. Arka tidak melawan. Arka yang biasanya punya jawaban untuk segala hal, kini hanya diam, membiarkan harga dirinya diinjak-injak di depan umum.
Aluna merasakan perih yang luar biasa. Bukan karena dia mencintai Arka, tapi karena dia tahu betapa jujurnya Arka saat berada di Ruang Kesenian. Dan ia tahu, serangan Reno bukan sekadar politik sekolah, tapi sebuah tindakan pengecut yang memanfaatkan ruang paling pribadi seseorang.
Dengan langkah yang terasa berat namun pasti, Aluna mulai membelah kerumunan. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat suasana sedikit berubah. Siswa-siswa kelas sepuluh yang mengenalnya sebagai "hantu kelas" menepi dengan bingung. Aluna terus berjalan hingga ia berhenti tepat tiga langkah di depan Reno.
Reno menurunkan ponselnya, menatap Aluna dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan pandangan meremehkan. "Wah, liat siapa ini? Si Hantu akhirnya keluar dari lubangnya. Kenapa, Dek? Mau minta sumbangan atau mau daftar jadi penari latar jagoan lo itu?"
Tawa kembali meledak. Aluna menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup seperti genderang perang. "Bukan aku yang sebar pesan itu, Kak Reno. Dan aku tahu... Kakak yang ada di balik semua fitnah ini."
Lapangan yang tadinya bising mendadak senyap. Angin siang bertiup membawa debu, tapi tidak ada yang berani bersuara. Di seberang sana, Arka mendongak. Matanya membelalak tak percaya melihat punggung kecil Aluna berdiri menantang singa sekolah.
Reno melangkah maju, memperpendek jarak hingga bayangannya yang besar menelan tubuh mungil Aluna. "Lo ngomong apa? Hati-hati kalau nuduh. Mana buktinya? Apa lo punya rekaman? Apa lo punya foto?"
Aluna menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia tidak punya foto. Ia tidak punya rekaman. Tapi ia memiliki ingatan yang tajam tentang ventilasi gudang lama yang terletak tepat di belakang Ruang Kesenian. "Kakak nggak butuh foto kalau Kakak sendiri yang ngintip lewat gudang belakang, kan? Kakak tahu detail lagunya, Kakak tahu gerakan mana yang dikoreksi. Kakak pengecut karena nggak berani tanding secara adil dan justru pakai cara kotor lewat pesan anonim."
Wajah Reno berubah tegang selama satu detik sebelum akhirnya ia tertawa lebih keras. "Pengecut? Gue cuma buka mata semua orang biar nggak salah pilih pemimpin. Lagian, siapa yang bakal percaya sama omongan cewek kayak lo? Lo itu cuma pesuruh, kan? Sering banget gue liat lo bawa belanjaan atau tumpukan buku orang lain. Siapa tahu lo emang tukang bohong yang pengen cari muka ke Arka?"
Hati Aluna mencelos. Reno hampir saja menyentuh rahasianya sebagai joki, meski cowok itu hanya menebak-nebak statusnya sebagai "pesuruh". Namun, Aluna tidak boleh goyah. Jika ia mundur sekarang, Arka akan hancur selamanya.
"Kalau Kakak ngerasa lebih hebat dan lebih lelaki dari Kak Arka, kenapa nggak buktiin di lapangan ini?" tantang Aluna. Suaranya kini terdengar jernih dan berwibawa, sebuah suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di SMA Pelita.
Reno menaikkan alisnya. "Tanding? Nari maksud lo? Sorry, gue nggak minat."
"Tanding basket. Tiga lawan tiga," sela Aluna cepat. "Besok sore, di sini. Kalau Kak Arka menang, Kakak harus buat pesan klarifikasi dan minta maaf secara terbuka di grup sekolah. Kakak harus akuin kalau semua itu cuma fitnah buat jatuhin dia."
"Dan kalau dia kalah?" Reno menyeringai, merasa berada di atas angin.