The Shadow Student

Aksara Tresna
Chapter #15

Bab 15: Latihan Rahasia yang Menguras Air Mata

​Euforia kemenangan basket kemarin mulai meredup, digantikan oleh sunyi yang mencekam di dalam Ruang Kesenian sore itu. Arka duduk bersandar pada dinding cermin yang retak, menatap kosong ke arah langit-langit. Di luar sana, baliho wajahnya dengan slogan "Wibawa dan Integritas" tersebar di seluruh koridor, namun di sini, ia hanya seorang remaja yang kelelahan dan ketakutan.

​"Tampil sebelum pengambilan suara? Lo gila, Lun?" suara Arka meninggi, menggema di ruangan yang sepi itu. "Basket itu satu hal. Orang bisa terima kalau gue lincah di lapangan. Tapi kalau gue naik ke panggung orasi besok dan tiba-tiba nari... itu namanya bunuh diri politik! Nyokap bakal narik gue pulang detik itu juga! Dia bakal bilang gue udah ngerusak citra keluarga yang dia bangun susah payah!"

​Aluna tidak bergeming. Ia berdiri di tengah ruangan, memegang radio tape tua yang kabelnya sudah banyak selotip. "Sampai kapan Kakak mau lari? Kakak menang basket kemarin, tapi Kakak tetep kalah sama rasa takut Kakak sendiri. Kakak pikir kalau Kakak terpilih jadi Ketua OSIS dengan cara pura-pura jadi orang lain, Kakak bakal bahagia? Kakak cuma bakal jadi boneka di bawah naskah orang lain selama setahun ke depan."

​"Ini soal wibawa, Lun! Pemimpin itu harus kelihatan tangguh di mata orang-orang, bukan gemulai di panggung!" Arka membela diri dengan suara serak, mencoba mempertahankan sisa-sisa ego maskulin yang ditanamkan Ayah Tirinya.

​Aluna berjalan mendekat, menatap Arka tepat di matanya. "Siapa yang bilang menari itu nggak tangguh? Siapa yang bilang menari itu merusak sisi maskulin seorang pemimpin?"

​Arka tertegun, mulutnya terkunci.

​"Dengerin aku, Kak," suara Aluna melembut namun sangat tegas. "Menari nggak akan pernah merusak sisi maskulin Kakak. Justru, keberanian buat menunjukkan siapa diri Kakak sebenarnya di depan orang yang meremehkan Kakak—itu adalah bentuk ketangguhan yang paling nyata. Pemimpin yang benar itu bukan yang jago akting jadi robot, tapi yang punya keberanian buat jujur pada dirinya sendiri. Bakat apa pun, selama itu positif, layak untuk dikembangkan dan ditunjukkan, bukan untuk disembunyikan apalagi diremehkan."

​Aluna menghela napas, matanya berkaca-kaca menatap Arka yang masih tertunduk. "Kalau Kakak meremehkan bakat Kakak sendiri cuma karena takut dibilang nggak 'cowok' sama Reno, berarti Kakak sudah kalah bahkan sebelum pemungutan suara dimulai."

​Aluna menekan tombol play. Musik instrumental dengan tempo yang sangat cepat—perpaduan antara dentuman bass yang berat dan melodi biola yang menyayat—memenuhi ruangan.

Lihat selengkapnya