The Shadow Student

Aksara Tresna
Chapter #16

Bab 16: Hari H: Debat Calon Ketua OSIS

Bab 16: Hari H: Debat Calon Ketua OSIS

Aula SMA Pelita berubah menjadi lautan seragam putih abu-abu yang riuh. Udara di dalam ruangan itu terasa panas dan pengap, seolah oksigen kalah jumlah dengan ego dan ambisi yang memenuhi ruangan. Di atas panggung, sebuah spanduk besar bertuliskan "DEBAT TERBUKA DAN PENYAMPAIAN VISI-MISI" menjadi latar belakang bagi tiga kursi kandidat yang sudah diduduki oleh para calon pemimpin sekolah.

Aluna berdiri di pojok paling belakang, terhimpit di antara kerumunan kelas sepuluh yang gaduh. Tangannya dingin, ia terus meremas ujung roknya yang sedikit kusut. Matanya tak lepas dari sosok Arka yang duduk di kursi nomor urut dua. Arka tampak sangat tenang—sebuah ketenangan yang menakutkan. Jas OSIS-nya dikancing sempurna, rambutnya tertata rapi tanpa cela. Namun, Aluna tahu, di balik kemeja putih yang licin itu, tubuh Arka dipenuhi rasa nyeri akibat latihan intens semalam.

Di kursi nomor urut tiga, Reno tampak seperti singa yang siap menerkam. Ia terus melempar senyum ke arah tribun pendukungnya yang membawa genderang dan poster-poster provokatif. Sesekali, Reno melirik Arka dengan tatapan meremehkan, seolah ingin mengingatkan Arka tentang pesan broadcast yang masih segar di ingatan semua orang.

"Selamat siang, warga SMA Pelita!" suara moderator memecah keriuhan. "Kita masuk ke sesi yang paling dinanti: Tanya Jawab Antar Kandidat. Kepada kandidat nomor urut tiga, Saudara Reno, silakan ajukan pertanyaan kepada kandidat nomor urut dua."

Reno berdiri dengan gerakan yang sengaja dibuat angkuh. Ia mengambil mikrofon, lalu berjalan ke depan panggung, membelakangi Arka dan menghadap ke arah massa.

"Terima kasih, Moderator. Saya hanya punya satu pertanyaan sederhana untuk Saudara Arka," Reno menjeda kalimatnya, menciptakan suasana tegang yang disengaja. "Seorang Ketua OSIS adalah simbol wibawa sekolah. Dia harus menjadi panutan, bukan hanya dalam nilai, tapi dalam karakter yang tegas dan maskulin. Pertanyaan saya: Bagaimana Anda bisa menjamin bahwa kepemimpinan Anda nanti tidak akan 'lembek' atau menjadi bahan tertawaan sekolah lain karena pemimpinnya punya... katakanlah, hobi yang tidak mencerminkan ketegasan seorang lelaki?"

Tawa meledak dari barisan pendukung Reno. Beberapa siswa kelas dua belas bersiul nakal, membuat suasana aula semakin memojokkan Arka. Aluna merasakan dadanya sesak. Itu bukan pertanyaan tentang program kerja; itu adalah serangan personal yang telanjang.

Arka berdiri dengan perlahan. Ia tidak tampak marah, tidak juga tampak malu. Ia berjalan menuju tengah panggung dengan langkah yang teratur—langkah yang kini memiliki ritme yang jauh lebih mantap setelah latihan berhari-hari.

"Terima kasih atas pertanyaannya, Saudara Reno," Arka memulai, suaranya terdengar stabil dan berat lewat pengeras suara. "Sangat menarik melihat bagaimana Anda mendefinisikan 'wibawa' hanya dari permukaan. Bagi saya, wibawa seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa kaku punggungnya atau seberapa sangar wajahnya. Wibawa sejati lahir dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri."

Lihat selengkapnya