The Shadow Student

Aksara Tresna
Chapter #18

Bab 18: Saat Seluruh Sekolah Terdiam

Musik telah berhenti. Lampu sorot putih yang tadi menghujam panggung kini perlahan meredup, menyisakan Arka yang berdiri mematung di tengah panggung dengan napas yang memburu. Peluh mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kemeja putihnya yang kini tampak transparan di bawah lampu aula.

Dan di detik itu, SMA Pelita seolah berhenti bernapas.

Keheningan yang tercipta begitu pekat, begitu absolut. Tidak ada teriakan pendukung Reno, tidak ada bisik-bisik nyinyir dari barisan belakang, bahkan suara kipas angin aula yang besar pun seolah tenggelam oleh kesunyian ini. Seluruh sekolah terdiam bukan karena mereka tidak punya suara, tapi karena mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang meruntuhkan logika mereka selama ini. Mereka melihat seorang pemimpin yang tidak hanya bicara soal keberanian, tapi melakukannya dengan mempertaruhkan seluruh reputasinya.

Arka perlahan menegakkan tubuhnya. Ia menyisir rambutnya yang basah ke belakang dengan jari-jarinya, menyingkap wajah yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng kesempurnaan. Ia tidak menunduk. Ia menatap lurus ke depan, menembus kerumunan, mencari satu titik di balik tirai yang ia tahu menjadi tempat Aluna bersembunyi setelah menemaninya di menit awal tadi.

Di balik tirai itu, Aluna sendiri sedang menahan napas. Ia menekan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam detak jantungnya yang seolah ingin meledak. Ia melihat keheningan itu dari celah kain beludru. Ia melihat wajah-wajah siswa yang membeku. Ia melihat Reno, yang biasanya selalu punya kata-kata tajam untuk menjatuhkan orang, kini hanya duduk bersandar dengan mulut sedikit terbuka. BlackBerry-nya masih tergeletak di lantai, terlupakan. Reno tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu—atau lebih tepatnya, melihat seseorang yang levelnya sudah tidak bisa lagi ia capai dengan sekadar fitnah murahan.

Keheningan itu pecah bukan oleh teriakan, melainkan oleh suara tepuk tangan tunggal dari barisan depan.

Plok. Plok. Plok.

Semua mata menoleh. Kepala Sekolah berdiri dari kursinya, diikuti oleh beberapa guru senior. Perlahan tapi pasti, suara tepuk tangan itu merambat seperti api di atas rumput kering. Satu siswa berdiri, lalu sepuluh, lalu seratus, hingga akhirnya seluruh aula bergemuruh dalam sebuah standing ovation yang paling megah sepanjang sejarah sekolah itu.

Lihat selengkapnya