Pagi itu, koridor sekolah terasa seperti sarang lebah yang terusik. Tidak ada yang membicarakan nilai ulangan atau pertandingan basket; hanya ada satu topik yang bergema di setiap sudut: sosok bayangan ber-hoodie hitam yang muncul di panggung saat debat kemarin.
"Sumpah, gerakannya pro banget! Gue yakin itu penari sewaan dari luar sekolah," seru seorang siswa di depan mading.
"Tapi posturnya kecil, kayaknya seumuran kita. Ada yang bilang itu anak ekskul tari yang sengaja disembunyiin buat jadi senjata rahasia Arka," sahut yang lain.
Aluna berjalan menunduk, menarik napas dalam-dalam sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Ia berusaha melewati kerumunan itu secepat mungkin. Baginya, menjadi "hantu" bukan sekadar pilihan sosial, tapi strategi bertahan hidup. Jika ia terlalu menonjol, orang-orang akan mulai memperhatikan tumpukan buku tugas milik orang lain yang selalu ada di tasnya.
Di dalam kelas, suasananya tidak jauh berbeda. Siska sudah duduk di mejanya, tampak gelisah. Begitu Aluna duduk, Siska langsung berbisik dengan nada mendesak.
"Satu sekolah lagi nyariin siapa 'penari bayangan' itu, Lun. Mereka mulai meriksa rekaman ponsel yang videonya viral di grup angkatan. Lo harus bener-bener hati-hati."
Aluna hanya mengangguk pelan, mencoba fokus pada buku matematikanya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat jam istirahat tiba, sebuah pengumuman mengejutkan datang dari ruang OSIS. Arka, sebagai Ketua OSIS terpilih, meminta seluruh panitia debat dan orang-orang yang membantunya untuk berkumpul di aula guna evaluasi singkat. Aluna mencoba menghindar, namun namanya dipanggil secara khusus oleh staf sekretariat karena ia tercatat sebagai tenaga bantuan logistik beberapa hari lalu.