Uap panas dari secangkir teh chamomile baru saja mengepul di udara ketika keheningan malam itu terkoyak.
Setelah melalui hari yang panjang dan melelahkan, Anggun hanya ingin menikmati sisa malam dalam ketenangan paviliun kecil yang selama lima tahun terakhir ia sebut rumah.
Namun, ketenangan itu belum sempat ia rasakan sepenuhnya ketika getaran kasar dari dalam tas yang tergeletak di dekatnya terdengar.
Ia tahu pasti itu bukan ponselnya. Miliknya sudah kehabisan daya sejak sore tadi.
Dengan jengkel yang mulai merambat ke ubun-ubun, Anggun membuka tas tersebut dan menarik sebuah benda asing berselubung hitam pekat yang entah bagaimana bisa berada di dalamnya.
Layar benda itu menyala tiba-tiba.
Deretan angka acak memenuhi bagian atas layar, disusul beberapa panggilan tak terjawab dan pesan-pesan yang tak sempat ia perhatikan sebelumnya.
Namun, satu pesan paling atas langsung menyita perhatiannya.
"Kami tahu kamu di dalam. Keluar sekarang, atau kami dobrak pintunya."
Belum sempat ia mencerna kata-kata itu, gedoran keras menghantam pintu paviliun.
Sekali.