The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #2

Tiga Hari Sebelumnya

Mentari senja perlahan turun, meninggalkan semburat jingga yang menempel di kaca-kaca besar perpustakaan. Cahaya yang sejak siang memenuhi ruangan kini berubah kekuningan, semakin tipis setiap menitnya.


Di luar, kota masih riuh oleh lalu lintas sore. Klakson bersahutan, suara mesin kendaraan saling bertumpuk. Sebaliknya, di dalam perpustakaan, kesunyian mulai mengambil alih. Satu per satu kursi mulai kosong ditinggalkan para pengunjung.


Anggun duduk di balik meja sirkulasi.


Tangannya bergerak cekatan tanpa terlihat tergesa. Stempel turun, barcode dipindai, buku berpindah tangan dengan urutan yang nyaris mekanis. Semua dilakukan begitu rapi hingga seolah telah menjadi bagian dari refleks tubuhnya.


Seorang pria berjas kusut mengembalikan buku dengan sudut halaman terlipat. Tanpa berkata apa-apa, Anggun meluruskan lipatan itu menggunakan ujung jarinya sebelum meletakkannya ke dalam troli.


Tak lama kemudian, seorang mahasiswi menyerahkan kartu anggota untuk meminjam buku psikologi populer. Jemarinya tampak sedikit gemetar saat menyodorkannya.


Anggun melihat itu.


Namun ia tidak bertanya.


Di lorong rak, seorang anak kecil berlari terlalu cepat.


Anggun mengangkat kepala.


Bukan suara langkah anak itu yang menarik perhatiannya, melainkan arah larinya.


Rak di ujung lorong tidak jauh. Sudut kayunya keras. Dalam sekejap, tubuhnya sudah menghitung jarak dan kemungkinan. Bila bocah itu tersandung, ia tahu harus bergerak ke mana.


"Iqbal!" panggil ibunya dengan suara pelan, tetapi sarat kekhawatiran.


Anak itu berhenti, menoleh, lalu berbalik berlari menuju ibunya.


Barulah Anggun duduk kembali. Napas yang sempat tertahan sepersekian detik akhirnya terlepas perlahan.


Jarum jam terus bergulir mendekati pukul lima.


Seorang pria meminta perpanjangan masa pinjam. Sebuah buku hukum pidana yang tebal berpindah ke atas mejanya.


Saat memproses data, Anggun sempat memperhatikan telapak tangan pria itu yang berkeringat. Tatapannya juga sedikit terlalu lama, entah sedang menunggu konfirmasi darinya atau memikirkan sesuatu yang sama sekali berbeda.


Anggun memilih tidak membalas tatapan itu.


Perhatiannya tetap tertuju pada layar komputer hingga proses perpanjangan selesai.


---


Pukul lima lewat sepuluh.


Seharusnya perpustakaan sudah kosong. Namun, di salah satu sudut ruangan, seorang pria paruh baya masih tenggelam dalam catatannya, seolah kebal terhadap suara laci yang ditutup ataupun kursi-kursi yang mulai dirapikan.


Anggun berdiri.


Langkahnya tenang ketika menyusuri lorong rak hingga berhenti di samping meja pria itu.


"Maaf, Pak. Perpustakaan sudah tutup."


Suaranya lembut, jelas, dan sopan.


Pria itu hanya bergumam tanpa mendongak. Penanya masih terus bergerak di atas kertas.


"Kalau masih perlu, Bapak bisa meminjam bukunya atau kembali lagi besok."


Tetap tidak ada respons.


Anggun menarik napas pendek melalui hidung. Ia melipat tangan di depan dada, lalu menyandarkan bahunya ringan pada pembatas rak di samping meja. Ia tidak berkata apa-apa lagi.


Hanya ujung sepatunya yang mengetuk lantai keramik dengan ritme pelan.


Tekanan yang tenang itu perlahan memenuhi ruang.


Gerakan pena pria tersebut mulai melambat. Ia akhirnya mendongak dan mendapati tatapan Anggun yang tidak bergeser sedikit pun.


"Eh... iya. Maaf, Mbak. Nggak lihat jam."


"Tidak apa-apa, Pak."


"Ya sudah, saya pinjam dulu bukunya kalau gitu."


Anggun mengangguk kecil, lalu memproses peminjaman tanpa banyak bicara.


Begitu pria itu keluar, ia mengunci pintu perpustakaan.


Bunyi klik kecil dari anak kunci membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.


Ruangan itu mendadak terasa lebih lega.


Ia menyandarkan dahinya sesaat pada kaca pintu yang dingin, menikmati kesunyian yang akhirnya kembali menjadi milik perpustakaan.


Setelah itu, Anggun mendorong troli pengembalian untuk satu putaran terakhir.


Langkahnya berhenti di rak anatomi.

Lihat selengkapnya