The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #3

48 Jam

Kriiiing...


Suara itu memutus sisa lelap yang telah berlangsung selama beberapa jam.


Anggun menggeliat pelan sebelum meraih jam beker di meja kecil di samping tempat tidurnya. Jemarinya menekan tombol henti, membungkam bunyi nyaring itu. Ia menguap lebar sambil beranjak berdiri, lalu meregangkan tubuh. Persendian di bahu, leher, hingga punggungnya berbunyi beruntun, menghadirkan sensasi lega yang sudah begitu akrab.


Usai dari kamar mandi, ia langsung menjalani rutinitas yang telah mendarah daging.


Ia mengambil posisi tengkurap di lantai.


Push-up.


Namun, alih-alih bertumpu pada telapak tangan sebagaimana kebanyakan orang, Anggun menopang seluruh berat tubuhnya hanya dengan ujung jari-jemari.


Satu.


Dua.


Tiga.


Hitungan itu terus berlanjut hingga lima belas kali. Singkat. Padat. Cukup untuk membuat tubuhnya hangat sekaligus menghadirkan rasa kendali yang selalu ia cari setiap pagi.


Setelah menyelesaikan beberapa latihan lainnya, Anggun membuka jendela. Udara pagi yang segar mengalir masuk, membawa aroma tanah yang masih lembap. Ia menghirupnya perlahan sebelum melangkah keluar.


Barisan pot bunga menyambut pandangannya. Semuanya tersusun rapi di sepanjang halaman, dedaunan masih basah oleh embun yang belum sepenuhnya menguap.


Dengan secangkir teh chamomile hangat di tangan, Anggun duduk di kursi plastik yang berada di depan paviliunnya. Pandangannya mengarah ke bangunan utama bergaya arsitektur klasik yang berdiri tak jauh dari sana.


Lima tahun silam, dompet pemilik rumah itu pernah dijambret di jalan.


Anggun yang kebetulan melihat kejadian tersebut langsung menghentikan pelakunya.


Sebagai ungkapan terima kasih kepada seorang perantau yang baru menginjakkan kaki di kota ini, pasangan suami istri itu menawarkan paviliun belakang sebagai tempat tinggalnya.


Sejak saat itu, tempat kecil tersebut menjadi rumah.


Sebuah ruang yang tenang.


Sebuah jeda dari hiruk-pikuk kota.


"Eh, Anggun. Udah bangun?" sapa Tante Maya yang tengah menyirami tanaman di halaman samping.


Anggun mengangguk kecil. Ia bangkit dari kursi plastik di teras paviliun, meletakkan cangkir teh chamomile di atas meja bundar, lalu berjalan menghampiri perempuan paruh baya itu.


"Tumben pagi-pagi udah nyiramin bunganya, Tan?"


"Iya, nih. Tante lagi buru-buru." Tante Maya tersenyum sambil terus menyiram tanaman. "Eh, kamu udah sarapan? Kalau belum, sarapan dulu. Tadi Tante bikin omelet keju, request Bima."


Anggun menggeleng pelan.


"Ah, nanti aja, Tan." Ia terdiam sesaat sebelum kembali bertanya. "Tumben Bima udah pulang lagi. Bukannya baru sekitar dua minggu yang lalu dia pulang? Semalam aku juga nggak lihat motornya. Emang pulangnya jam berapa, Tan?"


Tante Maya berpikir sejenak.


"Jam berapa, ya..." gumamnya. "Kayaknya sekitar jam sepuluhan malam. Tante sama Om memang sengaja minta dia pulang buat nganter kami ke Sumatera. Ibunya Tante kambuh lagi sakit jantungnya. Padahal udah pasang ring, tapi ya namanya orang tua."


Raut wajah Anggun sedikit melunak.


"Semoga Ibunya Tante cepat sembuh ya, Tan."


Tante Maya tersenyum hangat.


Namun, beberapa detik kemudian, senyum itu perlahan memudar. Tatapannya seolah menerawang, seakan sedang menimbang sesuatu.


Anggun mengenali tatapan itu.


Biasanya, setelah Tante Maya terdiam seperti itu, akan muncul pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman.


"Makasih, ya, doanya." Tante Maya mengembuskan napas pelan. "Begitulah, Nggun. Kadang Tante sedih juga tinggal jauh dari Ibu. Padahal beliau tinggal satu-satunya yang Tante punya." Ia menggeleng pelan. "Kalau bisa sih, Bima sama Erlin jangan sampai nikah sama orang jauh. Tante nggak pengin mereka ngerasain yang Tante rasain."


Sesaat suasana menjadi hening.


Lalu, benar saja.


Sudut bibir Tante Maya perlahan terangkat. Tatapan sendunya berganti menjadi senyum jahil yang begitu akrab di mata Anggun.


"Kamu sendiri masih betah aja sendirian?" godanya. "Pacarnya mana, nih? Ajak main ke sini, dong."


Anggun mengembuskan napas pelan.


Pertanyaan itu lagi.


Ia tahu tidak ada niat buruk di baliknya. Terlebih di usianya yang sudah kepala tiga, pertanyaan semacam itu memang hampir selalu muncul dari orang-orang terdekat.


Tetapi tetap saja...


Rasa jengah itu tidak pernah benar-benar hilang.


"Mulai, deh..." Bibirnya langsung cemberut. "Udah, ah. Aku masuk aja. Mau siap-siap."


"Lho, kok pergi? Jangan ngambek, dong," sahut Tante Maya sambil tertawa kecil.


Belum sempat Anggun melangkah jauh, suara laki-laki terdengar dari arah rumah utama.


"Ma, kok belum siap-siap? Cariin Papa, tuh!"


Bima keluar dengan kaus singlet merah yang membalut tubuhnya. Badannya tinggi dan tegap, sementara dadanya yang bidang tampak jelas di balik kain tipis itu.


"Iya, bentar. Lagi nyiram bunga ini, lho."


"Udah, Tante siap-siap aja. Biar Anggun yang lanjutin."


Tanpa menunggu jawaban, Anggun mengambil selang dari tangan Tante Maya.


"Wah, baiknya kamu, Nggun." Tante Maya mengusap pelan lengan Anggun. "Maafin Tante ya, kadang nggak bisa nahan kepo."


Anggun hanya tersenyum tipis.


"Tante tahu kamu mandiri. Kamu bahkan lebih bisa jaga diri dibanding laki-laki. Tapi, Nggun..." Suara Tante Maya melembut. "Nggak ada orang yang siap hidup sendiri selamanya."


Anggun memutar bola matanya pelan.


"Ah, lagian siapa sih, Tan, yang mau hidup sendirian? Susah, tahu, nyari cowok yang satu frekuensi sama kita tuh." Ia menggeleng kecil sambil tetap mengarahkan air ke pot-pot bunga. "Anggun tahu kok niat Tante baik. Tapi ya tetap aja sebel ditanyain gitu terus. Ya udah, buruan siap-siap, Tan."


"Oke deh, Tante masuk, ya. Makasih lho udah mau bantuin."


Tante Maya menepuk kembali lengan Anggun sebelum berjalan masuk ke rumah.


Pintu samping tertutup perlahan.


Suasana kembali tenang.

Lihat selengkapnya