Ruang staf yang terletak di belakang perpustakaan memang tidak pernah ramai saat jam makan siang. Hanya ada satu meja panjang dari kayu lapis yang mulai mengelupas di beberapa sudut, dua kursi plastik yang sandarannya dipenuhi retakan halus, dan sebuah kulkas kecil yang dengungnya nyaris tak lagi disadari karena sudah terlalu akrab di telinga.
Di dinding, tertempel poster lama tentang Gerakan Literasi Nasional. Warnanya telah pudar, salah satu sudutnya bahkan terlipat karena lakban yang mulai mengering.
Anggun duduk di sudut ruangan, membuka kotak bekal berisi omelet keju pemberian Tante Maya. Omelet itu sudah dingin, sedikit lembap di bagian pinggir, tetapi ia tetap memotongnya pelan dengan garpu lalu menyuapkannya ke mulut.
Belum sempat suapan kedua masuk, pintu ruang staf terdorong terbuka.
"Eh, ada Neng Anggun. Tumben lo bawa bekal."
Raka melangkah masuk sambil membawa semangkuk mi instan yang masih mengepul.
"Iya, dikasih Tante Maya tadi."
"Oalah. Emang kenyang makan telur doang?"
Anggun mengangguk sekilas.
"Lumayanlah buat ganjel perut."
"Kalau gue sih makan gituan doang mana kenyang." Raka terkekeh kecil sambil duduk di kursi seberang. Ia menyeruput kuah mi lebih dulu sebelum benar-benar menyandarkan tubuhnya.
Anggun hanya diam. Ia kembali memotong omelet dengan garpunya lalu menyuapkannya ke mulut tanpa repot menanggapi ocehan Raka.
Sesaat, ruangan kembali dipenuhi bunyi sendok yang beradu dengan mangkuk dan kepulan uap mi instan yang masih mengepul di antara mereka.
Anggun menghela napas. Tatapannya jatuh pada kotak bekalnya, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Perlahan ia meletakkan garpu.
Sesaat ia menatap Raka. Pada akhirnya, ia memutuskan membuka pembicaraan.
"Ka."
"Hm?"
"Lo pernah nggak nemu barang random di tas lo?" Anggun menarik napas sejenak. "Padahal lo yakin banget nggak pernah masukin tuh barang. Apalagi lo tahu persis itu bukan punya lo."
Raka mengangkat sebelah alis. Mi masih menggantung di ujung sumpitnya.
"Pernah, sih. Belum lama malah. Gue lagi nongkrong, terus teman gue tiba-tiba nyelipin rokok sama korek ke tas gue gara-gara ngelihat ceweknya datang. Parah banget. Gue heran, ngapain sih ngatur-ngatur orang ngerokok? Cowoknya juga, kenapa nggak tegas."
Mendengar curahan yang melenceng ke mana-mana itu, Anggun hanya menghela napas sambil memijat pelipis.
"Eh, sorry." Raka nyengir. "Barang random apa yang lo maksud?"
Anggun terdiam sesaat.
Ia tidak bisa terus berdiam diri. Ia butuh teman diskusi yang netral. Bukan seperti Bima yang, ia yakin, akan langsung bersikap berlebihan, bahkan protektif.
"Kalau rokok sama korek mah biasa. Lah... gue nemu HP di dalam tas gue."
"HP?"
Raka perlahan menurunkan sumpitnya.
"HP siapa?"
"Kalau gue tahu itu HP siapa, gue nggak bakal sepusing ini."
Raka terdiam sejenak, mencerna ucapan itu. Sesaat kemudian tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan mengejek, lebih karena sulit percaya.
"Lah, kok bisa? Masa HP masuk ke tas lo sendiri terus lo nggak nyadar? Kocak juga lo sih, Nggun."
"Bacot lo." Anggun menjebik sebal. "Makanya gue bingung. Tuh HP punya siapa?"
Anggun menyandarkan punggung ke kursi, kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Gue aja baru nyadar tadi pagi pas mau mesen ojol. Lah, kok ada dua HP di tas gue."
"Lah, gimana ceritanya? Emangnya lo nggak pernah buka HP? Main sosmed kek, scroll-scroll kek?" tanya Raka heran.