Empat jam berikutnya terasa berjalan begitu lambat bagi Anggun.
Sejak percakapannya dengan Raka di ruang staf, pikirannya tak pernah benar-benar kembali ke pekerjaannya. Ia hanya ingin jam kerja segera berakhir agar bisa pulang dan mencoba menelusuri kembali jalan yang kemarin ia lalui. Siapa tahu ada seseorang yang mengenali ponsel itu, atau setidaknya mengingat sesuatu yang ia lewatkan.
Akibat pikirannya yang terus mengembara, beberapa kali Anggun melakukan kesalahan kecil yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya.
Stempel yang seharusnya mendarat rapi justru sedikit meleset. Saat seorang pengunjung memanggil namanya, ia baru tersadar setelah panggilan itu diulang untuk kedua kalinya. Bahkan ketika dimintai bantuan mencari buku, ia sempat terdiam beberapa detik, memaksa dirinya mengingat kembali apa yang sebenarnya baru saja ditanyakan.
Hal-hal sepele, tetapi cukup untuk membuatnya kesal pada diri sendiri.
Sesekali jemarinya mengetuk pelan permukaan meja sirkulasi.
Tak lama kemudian ia mengambil sebuah koin dari saku, memainkannya di sela-sela jari seperti kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika sedang berpikir.
Biasanya koin itu berpindah dengan lincah di antara jemarinya.
Hari ini berbeda.
Beberapa kali koin itu terlepas lalu jatuh menggelinding di atas meja.
Anggun mengembuskan napas pelan. Ia memungutnya kembali, lalu menyimpannya tanpa berniat memainkan lagi.
Jarum jam akhirnya bergeser tepat ke pukul lima sore.
Untuk pertama kalinya hari itu, bahu Anggun terasa sedikit lebih ringan.
Ia segera membereskan barang-barangnya, mendorong troli pengembalian ke tempat semula, lalu memastikan buku-buku yang masih tertinggal di meja sirkulasi telah kembali ke rak sesuai urutannya.
Begitu melangkah keluar dari perpustakaan, suara mesin motor yang melambat membuatnya menoleh.
Raka menghentikan motornya tepat di samping Anggun.
"Lo kenapa, kusut amat tuh muka?" tanyanya sambil membuka kaca helm. "Gue anterin pulang, yuk."
Anggun menggeleng pelan.
"Gue nggak tenang kalau cuma diem doang. Gue mau coba telusurin. Mana tahu ketemu sama yang punya HP."
Raka mengembuskan napas.
"Kata gue, sabar aja sampai besok. Lagian lo mau telusurin ke mana?"
"Ya gue nggak tahu." Anggun mengangkat bahu tipis. "Tapi seenggaknya gue ada usaha dulu, lah. Coba nanya-nanya aja sama orang-orang yang kemarin gue temuin."
Raka mengangguk pelan.
"Mau gue temenin nggak?"
"Nggak usah. Gue bisa sendiri, kok. Lagian sekalian jalan pulang ini."
"Beneran?"
Anggun hanya membalas dengan seulas senyum tipis.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu mulai berjalan menyusuri trotoar.
Raka tetap diam di atas motornya, memandangi punggung perempuan itu yang perlahan menjauh.
Ia sudah cukup mengenal watak Anggun.
Kalau perempuan itu sudah mengatakan tidak, maka tidak ada gunanya memaksa.
Perempuan keras kepala, batinnya geli.
Namun, justru itu yang membuatnya kagum.
Sekitar dua tahun lalu mereka mulai bekerja di perpustakaan yang sama.
Awalnya Raka mengira Anggun perempuan yang antisosial. Sulit didekati, dingin, dan selalu menjaga jarak dengan siapa pun.
Akan tetapi, seiring waktu berjalan, ia sadar penilaiannya keliru.
Anggun bukan tidak suka bergaul.
Ia hanya terlalu berhati-hati.
Seolah selalu memasang batas yang tidak semua orang diizinkan melewatinya.