The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #6

Terusik

Pagi itu suasana hati Anggun benar-benar buruk.


Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Kalaupun sempat tertidur, itu hanya sebentar sebelum kembali terbangun. Tak heran, ketika suara jam beker memecah keheningan kamar, bunyinya justru terasa begitu mengganggu di telinganya.


Dengan enggan ia bangkit dari pembaringan.


Ada sesuatu yang terus mengganjal sejak kemarin sore.


Perasaan itu terasa asing, tetapi sekaligus begitu akrab. Perasaan yang menyeretnya kembali ke masa kecil di permukiman kumuh, ketika setiap malam ia terbiasa tidur dengan kewaspadaan yang tak pernah benar-benar padam.


Anggun mengenal betul perasaan itu.


Gelisah.


Tidak aman.


Seolah ada sesuatu yang salah, meski ia sendiri belum mampu menjelaskan apa.


Justru ketidakjelasan itulah yang paling mengganggunya.


Ia mengikat rambut sekenanya, lalu menyalakan ketel listrik untuk memanaskan air. Sembari menunggu air mendidih, ia membuka laci meja dan mengambil sekotak teh chamomile.


Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Anggun melewatkan rutinitas hariannya.


Tidak ada push-up.


Tidak ada latihan fisik.


Entah mengapa, seluruh tubuhnya terasa pegal.


Badan gue pegel. Sekali nggak latihan, nggak bakal kenapa-kenapa.


Ia berusaha membenarkan keputusan yang, bagi dirinya sendiri, terasa janggal.


Uap tipis mengepul dari cangkir. Anggun mengangkatnya perlahan, menghirup aroma chamomile dalam-dalam sebelum menyesapnya sedikit.


Hangatnya teh memang membuat tenggorokannya terasa lebih nyaman, tetapi tidak dengan suasana hatinya.


Sekilas ia bertanya-tanya apakah semua ini berkaitan dengan jadwal menstruasinya. Namun biasanya ia tidak pernah mengalami nyeri ataupun keluhan yang lazim dirasakan kebanyakan perempuan.


Pikirannya kembali melayang pada perjalanan pulang kemarin sore.


Pada sosok lelaki yang duduk di atas jok motor sambil memainkan ponsel di seberang jalan.


Saat itu Anggun tidak terlalu memedulikannya. Namun setelah berjalan menjauh, entah mengapa ia beberapa kali merasa sedang diawasi.


Beberapa kali pula sebuah motor yang tampak sama melintas melewatinya.


Mungkin hanya kebetulan.


Namun bayangan hoodie gelap yang dikenakan lelaki itu terus muncul di kepalanya.


Entah benar orang yang sama atau bukan, Anggun tidak yakin.


Yang ia tahu, sejak melihat lelaki itu kemarin, rasa tidak nyaman itu tak pernah benar-benar pergi.


Anggun menghentakkan kaki pelan.


Kesal pada dirinya sendiri.


Ia bangkit, membuka pintu, lalu melangkah ke teras kecil paviliunnya.


Pandangannya bergeser ke halaman yang dipenuhi pot-pot bunga milik Tante Maya. Daun-daunnya tampak hijau berkilau, sementara beberapa kuntum bunga sedang mekar sempurna. Pemandangan itu terasa begitu kontras dengan dirinya yang diliputi rasa letih.


Ia menarik napas panjang.


Aroma tanah yang masih basah selepas embun pagi perlahan memenuhi indera penciumannya. Entah mengapa, ketenangannya mulai kembali sedikit demi sedikit.


Tanpa sadar langkahnya berbelok menuju keran yang masih terpasang selang penyiram tanaman. Di ujung selang itu terpasang kepala penyiram berlubang-lubang kecil yang membuat air keluar lembut, menyerupai gerimis tipis.


Tangannya memutar keran.


Air mengalir perlahan, membasahi tanah serta dedaunan yang masih menyimpan sisa embun pagi.


Anggun berdiri diam.


Ia menyirami bunga-bunga itu tanpa benar-benar memikirkan alasan di balik tindakannya.


Matanya mengikuti butiran air yang jatuh di sela-sela dedaunan.


Tanpa disadari, seulas senyum tipis terbit di sudut bibirnya.


Untuk sesaat, kegiatan sederhana itu menghadirkan ketenangan yang sejak bangun pagi tak kunjung berhasil ia temukan.

Lihat selengkapnya