The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #7

Umpan

Hampir dua puluh menit kemudian, Anggun tiba di taman kota.


Berbeda dengan saat bekerja yang hampir selalu mengenakan kemeja dan celana bahan, pagi itu penampilannya jauh lebih santai. Rambut panjangnya diikat menjadi ekor kuda sederhana. Ia mengenakan kaus polos yang dilapisi jaket tipis, dipadukan dengan rok selutut yang sedikit mengembang serta sandal bertali yang nyaman dipakai berjalan jauh.


Di bahunya tergantung sebuah tas selempang kecil yang hanya memuat dompet, ponselnya sendiri, dan ponsel misterius itu. Jauh lebih ringkas dibanding tas kanvas yang biasa ia bawa ke perpustakaan.


Taman kota itu lebih ramai daripada yang ia bayangkan.


Jalur joging melingkari hamparan rumput yang mulai dipenuhi keluarga. Anak-anak berlarian ke sana kemari, beberapa orang menggelar tikar di bawah pepohonan, sementara para pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.


Anggun berhenti beberapa langkah setelah melewati gerbang.


Tatapannya menyapu seluruh taman.


Duduk di mana, ya...


Kalau memilih bangku dekat pintu masuk, ia akan lebih mudah melihat setiap orang yang datang. Namun, dirinya juga akan lebih mudah terlihat.


Sebaliknya, jika memilih tempat yang lebih masuk ke dalam, orang akan lebih sulit menemukannya.


Ia mengembuskan napas pelan.


Konyol...


Baru kali ini ia dibuat bingung hanya karena harus menentukan tempat duduk.


Beberapa langkah ia menuju sebuah bangku, lalu mengurungkan niat. Berbelok ke bangku lain, kemudian kembali merasa tempat itu kurang tepat.


Ia memang sudah memutuskan menjadi umpan.


Masalahnya, bagaimana seharusnya umpan ditempatkan agar benar-benar menarik orang yang mencarinya?


Ia sama sekali tidak tahu.


Pada akhirnya, Anggun memilih sebuah bangku kayu di bawah pohon besar. Letaknya sedikit menjauh dari keramaian utama, tetapi masih menghadap ke arah jalur masuk taman.


"Cukuplah," gumamnya.


Ia duduk, meletakkan tas selempang di pangkuan, lalu menyandarkan punggung ke sandaran bangku.


Pandangannya terus bergerak dari gerbang taman ke jalur pejalan kaki, lalu beralih ke kerumunan orang yang memenuhi taman.


Menunggu.


Sesekali jemarinya menyentuh sisi tas selempang, memastikan ponsel misterius itu masih berada di dalam.


*****


Hampir setengah jam berlalu.


Tidak ada apa-apa.


Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Ada yang berolahraga, membawa anak bermain, duduk menikmati pagi, atau sekadar melintas tanpa tujuan yang bisa ia tebak.


Sementara itu, kegelisahan Anggun justru semakin bertambah.


Kalau memang ada seseorang yang mengawasinya...


Orangnya seperti apa?


Kayak gimana wajahnya?


Terus gimana gue bisa ngenalin orang itu?


Saat ia mulai berpikir untuk meninggalkan taman dan mencoba tempat lain, seseorang tiba-tiba duduk tepat di sebelahnya.


Seorang laki-laki.


Anggun tidak bergeming.


Bukan karena takut.


Ia hanya ingin memastikan apakah laki-laki itu memang sengaja menghampirinya... atau sekadar kebetulan memilih bangku di sebelahnya.


"Halo, Teh."


Laki-laki itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang rapi.


Anggun tidak menjawab.


Ia bahkan tidak menoleh. Menurut pendapat Anggun, laki-laki itu masih terlihat jauh lebih muda darinya.


"Sendirian aja, Teh? Nggak apa-apa ya aku duduk di sini?"


"Silakan," jawab Anggun datar. "Lagi pula ini bukan bangku pribadi saya."


"Hehe... iya juga sih. Tapi emangnya nggak ada yang marah, gitu?"

Lihat selengkapnya