Malam turun membawa kesunyian yang pekat, seolah udara di sekeliling memaksa setiap tarikan napas terasa lebih berat.
Anggun duduk termangu di depan meja panjang yang menghadap langsung ke jendela paviliunnya. Siku kanannya bertumpu di atas permukaan meja, sementara telapak tangannya menyangga dagu. Tatapannya menembus kaca jendela, memandang halaman yang remang diterangi lampu teras.
Di hadapannya, secangkir teh chamomile masih mengepulkan uap tipis.
Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja menjerang air dan menyeduh teh itu, berharap ritual yang telah bertahun-tahun menemaninya setiap malam kembali mampu menenangkan pikirannya.
Perlahan, cangkir itu ia angkat.
Aroma chamomile yang lembut memenuhi indera penciumannya.
Biasanya, aroma itu cukup untuk meredakan ketegangan dan membuatnya lebih mudah terlelap.
Namun, malam ini berbeda.
Secangkir teh itu terasa kehilangan keampuhannya.
Pikiran Anggun kembali melayang pada peristiwa pagi tadi, sesaat setelah ia meninggalkan taman kota.
*****
Awalnya, Anggun sama sekali tidak mengetahui bahwa dua laki-laki yang sempat dilihatnya di taman ternyata meninggalkan tempat hampir bersamaan dengannya.
Namun, setelah berjalan beberapa jauh, langkah Anggun perlahan melambat.
Seolah ada sesuatu yang sulit dijelaskan.
Bukan suara tertentu ataupun pemandangan yang mencolok.
Hanya firasat samar yang perlahan mengusik.
Refleks, Anggun menoleh ke belakang.
Tepat pada saat itu, matanya menangkap dua laki-laki yang sempat dilihatnya di taman. Entah sengaja atau tidak, keduanya kini berada tidak jauh di belakangnya.
Kening Anggun berkerut.
Ia tidak lantas mengambil kesimpulan. Bisa saja mereka memang sedang berjalan searah.
Meski begitu, rasa tidak nyamannya tak kunjung hilang.
Anggun kembali melangkah.
Secara naluriah, ia sengaja mengambil jalur yang melewati deretan gerobak jajanan dan mobil-mobil yang terparkir di tepi jalan.
Sekilas, pantulan pada kaca sebuah gerobak kembali memperlihatkan dua laki-laki itu.
Mereka masih berada di belakangnya.
Anggun mengembuskan napas pelan.
"Gara-gara HP sialan ini gue sekarang jadi gampang banget curigaan sama orang. Mungkin aja, kan, mereka emang kebetulan searah sama gue."
Anggun berusaha tetap tenang. Ia terus berjalan seolah tidak menyadari apa pun.
Beberapa puluh meter kemudian, Anggun kembali memanfaatkan pantulan spion sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan.
Dua sosok yang sama kembali terlihat.
Jarak mereka tidak banyak berubah.
Masih berada di belakangnya.
Kali ini, jantung Anggun mulai berdegup lebih cepat.
Satu kali mungkin hanya kebetulan.
Dua kali...
Masih bisa saja.
Namun, ketika pantulan kaca sebuah kios kembali memperlihatkan kedua laki-laki itu beberapa saat kemudian, Anggun tidak lagi mampu menganggap semua itu sebagai kebetulan.
Tatapannya mengeras.
Kalau mereka memang tidak mengikutinya, lalu kenapa mereka terus muncul di belakangnya?
Langkah Anggun melambat.
Pandangannya bergeser ke arah sebuah pusat perbelanjaan yang berdiri tidak jauh di depannya.
Tanpa ragu, ia berbelok menuju kawasan pertokoan dan area parkir mal.
Ia ingin memastikan.
Sekali lagi.
Apakah semua ini hanya kebetulan...
Atau firasatnya sejak tadi memang benar.
Anggun sengaja mempercepat langkahnya.
Namun, beberapa detik kemudian, ia mendadak berhenti.
Lalu berbalik.
Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga dua laki-laki yang sejak tadi berada di belakangnya tampak sedikit terkejut. Langkah mereka ikut terhenti begitu saja.
Debaran di dada Anggun kian kencang.
Jelas mereka buntutin gue.
Tanpa memberi kesempatan mereka bereaksi lebih jauh, Anggun melangkah menghampiri keduanya.
"Kalian berdua ngikutin gue?"
Kedua laki-laki itu saling berpandangan.
Raut wajah mereka sempat terlihat gugup, tetapi beberapa saat kemudian berubah menjadi kebingungan, seolah tidak mengerti maksud pertanyaan tersebut.
Lelaki yang rambutnya mulai menipis berdeham pelan sebelum menjawab.
"Maaf, Mbak... kami nggak ngikutin, kok. Mbak nggak usah ge-er. Ngapain juga kami ngikutin Mbak?"
Anggun terdiam.
Lelaki itu mengangkat kedua tangannya sedikit, seolah hendak menunjukkan bahwa dirinya tidak melakukan apa-apa.
"Mentang-mentang tampang kami kayak orang jalanan, terus Mbak bisa nuduh seenaknya gitu aja?"
Anggun semakin bungkam.
Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya.
Ia mencoba membaca ekspresi keduanya.
Tidak ada senyum mengejek.
Tidak ada kegugupan yang berlebihan.
Hanya raut tersinggung yang tampak cukup meyakinkan.
Apa mereka memang sedang menghindar...
Atau justru benar-benar merasa difitnah?
Anggun tidak menemukan jawabannya.
"Permisi."
Lelaki itu berkata singkat.
Tanpa menunggu tanggapan, ia mengajak rekannya kembali melangkah meninggalkan Anggun begitu saja.
Anggun tetap berdiri di tempat.
Keningnya masih berkerut, sementara pandangannya terus mengikuti kedua laki-laki itu yang semakin menjauh.
Beberapa saat kemudian, sosok keduanya perlahan menghilang dari pandangan.
*****
Anggun mengembuskan napas pelan.
Tangannya kembali meraih secangkir teh chamomile.
Ia menyesapnya perlahan.
Rasa floral yang lembut berpadu dengan sedikit pahit di ujung lidah, lalu meninggalkan sisa manis yang tipis setelah ditelan.
Selama bertahun-tahun, rasa sederhana itu selalu menjadi penanda bahwa hari telah usai.