The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #9

Titik Buta

Anggun masih menunggu.

Keheningan berikutnya merayap semakin pekat setelah suara gerbang besi yang dibuka kasar tadi.

Meskipun hanya mendengarnya, Anggun dapat membedakan suara gerbang itu ketika dibuka oleh keluarga Om Dewo dan suara yang baru saja terdengar.

Ia menajamkan pendengaran.

Namun, tidak ada lagi suara yang tertangkap.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada bisikan.

Hanya kesunyian yang terasa semakin menyesakkan.

Otaknya mulai menyusun berbagai kemungkinan.

Apakah orang-orang yang baru saja menyatroni rumah Tante Maya hanyalah pencuri yang mengincar rumah kosong?

Anggun meragukannya.

Kesimpulan yang paling masuk akal justru mengarah pada satu hal.

Mereka datang untuk ponsel misterius itu.

Sebenarnya, siang tadi ia sudah berniat menyerahkan ponsel tersebut secara sukarela.

Namun, setelah melihat betapa agresifnya dua laki-laki di Kota Tua, ditambah rentetan kejadian sebelumnya, pemahamannya terhadap persoalan ini mulai bergeser.

Ini jelas bukan lagi sekadar soal mengembalikan barang yang hilang.

Anggun terdiam sejenak.

Ponsel itu ternyata jauh lebih penting daripada yang semula ia kira.

Orang-orang itu bahkan sudah mengintainya sejak kemarin. Mereka mengikuti pergerakannya, menunggu kesempatan, lalu berusaha merebut ponsel tersebut dengan paksa.

Kalau hanya sebuah barang hilang, mengapa mereka harus melakukan semua itu?

Anggun mengembuskan napas perlahan.

Logikanya kembali bekerja.

Pasti ada sesuatu yang sangat penting tersembunyi di dalam ponsel tersebut.

Ia mulai mondar-mandir pelan di dalam paviliun.

Sesekali, pandangannya beralih ke arah jendela.

Halaman masih tampak lengang.

Anggun berhenti.

Tanpa membuang waktu, tangannya meraih sakelar dan mematikan lampu utama.

Sekejap kemudian, ruangan itu tenggelam dalam remang-remang tipis.

Ia menarik gorden hingga tertutup rapat, lalu berdiri diam beberapa saat di hadapan jendela.

Mendengarkan.

Menunggu.

Mencoba menangkap suara sekecil apa pun dari luar.

Di tengah kegelapan, kegelisahan perlahan menggerogoti keteguhannya.

Ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman.

Tetap bersembunyi...

Atau keluar memeriksa keadaan.

Kalau orang-orang itu memang pencuri, berdiam diri berarti membiarkan rumah Tante Maya menjadi sasaran mereka.

Anggun tahu, Tante Maya dan Om Dewo pasti lebih memilih dirinya tetap selamat daripada mempertaruhkan nyawa demi mengusir pencuri tersebut.

Namun, Anggun juga sadar bahwa Tante Maya mungkin akan kecewa kepadanya.

Perempuan itu tahu Anggun mampu berkelahi.

Terlebih, keluarga tersebut telah memberinya terlalu banyak kebaikan.

Anggun tidak sanggup hanya berdiam diri.

Ia menarik napas panjang.

Keputusannya bulat.

Anggun segera membenahi pakaiannya, mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda, lalu mengenakan jaket.

Setidaknya, ia tidak ingin menghadapi orang-orang itu dengan pakaian yang terlalu terbuka jika salah satu dari mereka membawa senjata tajam.

Setelah semuanya terasa cukup rapi, Anggun melangkah menuju pintu.

Namun...

Langkahnya mendadak terhenti.

Dari balik gorden jendela, beberapa bayangan melintas perlahan.

Siluet gelap itu memotong cahaya kekuningan dari lampu teras samping hingga tampak jelas pada permukaan kain.

Tubuh Anggun membeku.

Dengan gerakan sepelan mungkin, ia merapat ke dinding di samping jendela. Jemarinya menyibak gorden hanya selebar celah untuk mengintip.

Jantungnya seketika berdegup lebih cepat.

Di bawah cahaya lampu teras halaman samping, tepat di dekat deretan pot anggrek milik Tante Maya, dua laki-laki berdiri dengan jarak beberapa meter satu sama lain. Keduanya berpakaian gelap.

Tatapan mereka menyapu sekeliling.

Sesekali, mengarah lurus ke bangunan paviliun.

Melihat pemandangan itu, pertahanan batin Anggun sedikit goyah.

Bagaimanapun juga, ia tetap manusia.

Terlebih, seorang perempuan yang tinggal sendirian di tengah malam.

Rasa gentar perlahan merambat naik ke tengkuknya.

Jemarinya terasa dingin.

Untuk beberapa saat, Anggun hanya berdiri diam di balik dinding, mengintip melalui celah gorden sambil berusaha mengendalikan napasnya.

Anggun memaksa dirinya menelan ketakutan itu.

Ia mundur perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Namun, sebelum mencapai lemari pakaian, langkahnya terhenti. Anggun menggeleng lemah, seolah berusaha menyingkirkan keraguan yang masih mengganjal, lalu berjongkok dan menarik sebuah kotak dari rak paling bawah.

Tangannya berhenti di atas tutup kotak itu.

Lihat selengkapnya