The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #10

Tumbang

Pintu paviliun itu mengayun terbuka.


Dua laki-laki yang sejak tadi berjaga di halaman lekas menatap lekat sosok yang keluar dari ruangan tersebut.


Mereka semula mengira teman mereka yang akan keluar.


Namun, alih-alih laki-laki bertubuh besar itu, seorang perempuan justru melangkah keluar.


Tubuh Anggun tampak gemetar. Kedua tangannya memeluk tubuh sendiri, seolah berusaha menahan rasa takut yang menyerangnya.


"Tolongin gue. Ada cowok pingsan di dalam kamar gue."


Anggun berusaha membuat suaranya terdengar bergetar.


Namun, hasilnya justru jauh dari yang ia harapkan.


Suaranya terlalu datar untuk seorang perempuan yang mengaku ketakutan.


Kedua laki-laki itu saling berpandangan.


"Hah? Apaan? Maksudnya gimana?"


"Gue nggak tahu. Dia tiba-tiba aja pingsan. Mendingan kalian cek deh."


Anggun tetap berusaha memasang wajah cemas, meskipun suaranya masih terdengar terlalu tenang untuk meyakinkan.


Kedua laki-laki itu mulai melangkah maju.


Anggun tetap bergeming.


Namun, baru beberapa langkah mereka mendekat, salah satu dari mereka berhenti.


"Gue nggak percaya Bang Tono pingsan gitu aja."


Tatapannya menyipit.


"Lo nggak usah ngarang. Atau jangan-jangan lo udah siapin jebakan di dalam?"


Anggun menarik napas panjang.


Bukan karena merasa penyamarannya terbongkar.


Lebih karena ia merasa bodoh pada dirinya sendiri.


Sebelumnya, ia pikir semuanya akan berjalan mudah. Berpura-pura ketakutan, membuat salah satu dari mereka masuk, lalu melumpuhkan mereka satu per satu.


Ternyata, dua laki-laki itu juga bukan orang bodoh.


Sialan!


Anggun mengutuki dirinya sendiri dalam hati.


Perasaan kalau nonton di film-film, orang gampang amat percaya.


Ia hampir ingin menertawakan tingkahnya sendiri.


Namun, wajahnya tetap dipertahankan dalam ekspresi cemas.


"Kenapa nggak lo cek aja di dalam?"


Kali ini, suaranya berubah.


Lebih tegas.


Lebih percaya diri.


"Bajingan. Jadi bener lo udah nyiapin jebakan di dalam sana."


"Gue nggak bilang gitu, ya."


Anggun mengangkat bahu ringan.


"Terserah kalian percaya atau enggak. Temen kalian emang pingsan kok."


Ketiganya masih terlibat cekcok ketika suara langkah kaki terdengar dari arah teras.


Dua sosok muncul dari balik bayangan.


Anggun langsung terdiam.


Hanya dengan sekali pandang, rahangnya mengeras.


Dua kampret itu lagi.


Dua laki-laki yang menguntitnya di Kota Tua siang tadi.


Laki-laki bertubuh lebih tinggi berjalan paling depan. Napasnya terdengar sedikit terengah, seolah baru saja menyelesaikan perjalanan panjang.


Tatapannya langsung menemukan Anggun.


"Ternyata lo sembunyi di sini?"


Ia mendecih.


"Capek-capek gue ngobrak-abrik rumah depan, setan."


Darah Anggun mendidih.


Wajahnya perlahan memerah.


Berani-beraninya mereka menyentuh dan mengobrak-abrik rumah Tante Maya.


Keluarga itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kekacauan ini.


"Apa yang lo cari di rumah itu?"


Kali ini, suaranya terdengar marah.


Nadanya setajam silet.


Kepura-puraannya sebagai perempuan lemah runtuh seketika. Tak ada gunanya lagi bersandiwara di hadapan dua penguntit yang jelas-jelas telah mengenali dirinya.


Dua laki-laki yang tadi berdiri di halaman paviliun tampak saling berpandangan.


"Jadi... dugaan gue bener, ya. Kalau lo tadi cuma pura-pura," ucap lelaki yang tadi meragukan kata-kata Anggun.


"Kalian berdua emang goblok. Gampang banget dikadalin sama cewek ini!" maki pria jangkung dari Kota Tua.


Tatapannya menyapu halaman.


Keningnya berkerut.


"Di mana Tono?"


Kedua laki-laki di depan paviliun menggeleng.


"Kata cewek itu sih dia pingsan."


"Goblok! Terus kalian diem aja?"


Pria berambut tipis, rekan si jangkung, menyipitkan mata ke arah Anggun.


"Jadi lo udah lumpuhin temen gue? Di mana teman-teman lo? Suruh keluar! Jangan bilang lo ngelakuin itu sendirian?"


"Kenapa lo mikir ada orang lain di kamar gue?"


"Karena gue tahu lo nggak mungkin ngalahin temen gue seorang diri."


"Terserah lo deh," kata Anggun akhirnya.


"Nggak usah banyak bacot. Serahin HP itu ke gue. Gue nggak peduli kalau temen-temen lo pengecut dan numbalin lo."


"Jadi ini masih soal HP itu, ya?"


Anggun mengabaikan rasa aneh yang muncul karena mereka berulang kali menyebutnya memiliki teman, padahal jelas-jelas ia sendirian. Nyaris seperti mereka meremehkannya.


"Sebenarnya simpel banget. Kalian tinggal jawab pertanyaan gue tadi siang, dan gue bakal kasih HP itu dengan sukarela."


Sorot matanya berubah.


"Kalian nggak perlu bawa pasukan serame ini cuma buat ngeroyok satu cewek."


Sudut bibirnya terangkat tipis.


"Pengecut lo semua."


"Bacot!"


Tersulut amarah, pria berkepala botak itu menerjang.


Tinju kanannya melesat lurus mengarah ke rahang Anggun.


Namun, Anggun tak bergeming.


Ia membiarkan kepalan tangan itu mendekat.


Pada detik terakhir, tangan kirinya menyentak naik, menepis lengan lawan dari sisi dalam hingga arah pukulannya melenceng.


Bersamaan dengan gerakan itu, tangan kanannya menyelinap ke dalam saku jaket.


Jemarinya menggenggam erat badan bergerigi pena taktis titanium.


Dalam satu tarikan napas pendek, Anggun memangkas jarak.


Tangan kanannya melesat.


Cepat.


Presisi.


Layaknya patukan ular.


Brak!


Ujung kerucut logam tumpul pena itu menghantam telak bagian tengah dahi lawannya, tepat di titik glabella, di antara kedua alis.


Mata laki-laki botak itu membelalak.


Tubuhnya limbung.


Pupil matanya bergulir ke atas hingga hanya menyisakan bagian putihnya.


Sesaat kemudian, kedua lututnya kehilangan tenaga.


Tubuh besar itu ambruk ke belakang, menghantam tanah bagai sekarung pasir basah.


Tanpa mengalihkan pandangan dari tiga laki-laki di hadapannya, Anggun mengembalikan pena taktis itu ke dalam saku jaketnya.


Ketiganya hanya mampu menatap bergantian antara tubuh rekan mereka yang terkapar dan perempuan yang kini berdiri tenang di hadapan mereka.


"Kalian lihat! Cewek ini berbahaya! Tunggu apa lagi?" teriak laki-laki bertubuh tinggi itu.


Tanpa menunggu aba-aba, si pria jangkung menerjang lebih dulu. Dua rekannya mengekor cepat dari sudut yang berseberangan, berusaha mengurung langkah Anggun dalam kepungan tiga arah.


Lihat selengkapnya